12 Jul 2014

Lie To Me, Please [5]

PART 5 : NEW LIFE

Juna kembali ke rumah dengan banyak pikiran. Sejenak dia berada di dalam mobilnya. Lalu melihat rumah megah yang di depannya. Mungkin ini memang takdir sekaligus hukuman untuk dirinya karena tidak pernah menghargai apa yang dia miliki sekarang. Sekarang Juna harus bisa untuk meninggalkan semuanya ini sementara, sampai semuanya kembali seperti seharusnya. Juna sudah memikirkan, dia akan mengatakan kepada orangtuanya bahwa dirinya ingin berlibur sejenak. Mama dan Papanya tidak akan curiga, karena Juna memang suka travelling ke luar negeri. Dan mulai besok, Juna harus mulai menjadi Bayu. Menjadi ‘suami’ bagi Ghaida.
Juna masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju kamarnya. Mengeluarkan tas dan mengambil beberapa barang yang akan dia bawa pergi. Tiba-tiba Mamanya masuk ke kamar, dan terkejut melihat Juna sedang berkemas tampak seperti mau pergi.
“Juna, kamu sedang apa? Kamu mau pergi? Pergi kemana lagi, Jun?”
“Juna mau liburan Ma. Juna mau refreshing dulu. Dan Juna mau coba hidup mandiri, usia Juna udah seharusnya hidup terpisah dari orangtua.”
Mamanya terkejut, lebih kepada tidak percaya. Bagaimana bisa anaknya mengambil keputusan pergi dan hidup mandiri padahal dia tahu Juna sangat tergantung pada hidupnya di rumah ini, karena semuanya sudah tersedia, dan Juna tinggal menggunakannya semau dia.
“Maksud kamu apa sih, Jun? Kamu jangan buat Mama bingung deh. Kok tiba-tiba?? Papa juga kan masih di Hongkong, kenapa kamu mesti pergi sekarang?? Terus Mama sendirian gitu di rumah sebesar ini??”
“Juna udah mikirin ini lama Ma. Maaf kalau mendadak. Tapi Juna memang harus sementara pergi dari sini,” kata Juna, menutupi hal sebenarnya sambil mengambil barang-barangnya.
“Kemana? Dengan siapa? Sampai kapan? Apa yang harus Mama bilang ke Papamu? Apa alasan kamu? ” Mama Juna cemas akan keputusan anaknya yang tiba-tiba. Dia sadar, selama ini memang dia jarang memperhatikan Juna, tapi bagaimana pun Juna adalah anaknya, darah dagingnya sendiri. Mama Juna sebenarnya punya alasan sendiri, kenapa dia menjaga interaksi dengan anaknya sendiri. Juna membuatnya mengingat sesuatu kesalahan yang dia buat di masa lalu, kesalahan dan keputusan yang salah. Yang membuat hidup Juna sepi seperti sekarang. Meski dia memiliki segalanya, tapi Mamanya tahu, Juna merasa kesepian. Papanya selalu sibuk bekerja dan dirinya sendiri juga tidak mau terlalu dekat dengan Juna.
   “Ke luar kota Ma, sama Ali. Mungkin sekitar sebulan atau lebih. Nanti Juna kabari Mama. Tolong bilang sama Papa ya Ma. Maaf Juna ambil keputusan yg buat Mama terkejut. Tapi ini buat kebaikan Juna.”
Mama Juna masih belum bisa memahami, di tengah dirinya berusaha memahami maksud tindak tanduk anak semata wayangnya ini, Juna sudah melengos pergi meninggalkan Mamanya. Mama Juna mengikutinya di belakang.
“Jun, Juna, jangan pergi dulu Jun. Mama masih gak ngerti kenapa kamu tiba-tiba mau pergi tanpa alasan jelas. Kamu jangan bikin Mama khawatir dong Juna, Juna… kamu dengar Mama gak sih? Berhenti Juna,” tahan Mama Juna. Tapi Juna seperti sudah bersikeras. Masuk ke dalam mobil dan bersiap menstarternya. Mama Juna berdiri di samping pintu mobil dan masih berusaha menahan Juna, “Kamu boleh pergi, tapi kamu jangan tinggalkan rumah ini ya? Mama gak mau sendirian Jun. Masa kamu tega sama Mama. Kenapa baru sekarang kamu bilang mau tinggal terpisah, padahal semua sudah ada di sini Jun.”
Juna menghela nafas lalu membuka kaca mobilnya, “Ma, maaf kalau Juna buat Mama kaget. Tapi selama ini juga Mama gak pernah merhatiin Juna ada atau gak ada di rumah ini kan? Papa juga. Jadi kalau Juna pergi kali ini, gak ada bedanya kan??” Juna sedikit mengutarakan perasaannya selama ini.
“Tapi Mama gak mau kamu pergi dari rumah ini. Terserah kamu kalau kamu mau keluar liburan atau ke mana, asal kamu tetap tinggal di rumah ini, Jun. Kamu harus balik ke rumah lagi ya? Kamu dengarin Mama ya Jun?”
Juna tidak tahu mau menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu apakah akan kembali atau tidak. Juna menutup kaca mobilnya dan memundurkan mobilnya. Meninggalkan Mamanya. Hanya hari esok yang Juna pikirkan dan cemaskan. Karena besok hari pertamanya, hari pertama menjadi Bayu, hari pertama ‘hukumannya’ karena melakukan kesalahan yang fatal.
                                                                                                      
Ini hari ke-enam, sudah mau hampir seminggu, tapi Ghaida masih belum tahu kabar suaminya yang katanya sedang ada di Bandung karena menengok Bibinya yang sakit. Nomor handphone Bayu masih belum bisa dihubungi oleh Ghaida. Rasa cemas dan tidak tenang masih membayangi Ghaida. Karena rasa itu, Ghaida tidak bersemangat menjalani terapi kakinya. Padahal di sudah 5 hari dia di rumah sakit.  Firasatnya tidak enak. Dan dia juga merasa ada yang disembunyikan keluarganya. Hari ini Ghaida bertekad untuk mencari tahu. Dia akan bertanya ke perawat dan dokter tentang kondisi Bayu sebenarnya selepas kecelakaan itu. Tanpa Ghaida tahu, di luar Juna sudah ada di depan kamarnya. Sebelumnya Ibu Ghaida sudah memberitahu apa yang harus Juna lakukan hari ini. Juna berdoa kembali, semoga Ghaida tidak mengenalinya. Masih ingat jelas di benak Juna peristiwa malam itu. Saat ia melakukan kesalahan fatal dan mengakibatkan kehilangan nyawa Bayu. Hari ini Juna akan datang menjenguk Ghaida. Bukan datang sebagai Juna, tapi sebagai Bayu. Suami Ghaida.
Juna berdiri kaku di depan pintu kamar. Sejenak tampak berpikir. Lalu ia menggerakkan handel pintu dan membuka pintu kamar Ghaida perlahan. Ghaida sedang tertidur. Juna mendekat dan semakin dekat, degup jantung terasa cepat. Gugup. Ghaida masih tertidur. Terlihat oleh Juna kaki Ghaida yang masih dibalut perban. Juna mengambil posisi duduk di samping tertidur Ghaida. Terduduk. Diam. Hanya melihat Ghaida.Dadanya terasa sedikit sesak, merasa bersalah pada wanita yang dihadapannya. Entah apakah yang dilakukannya saat ini mampu menebus semua dosa dan kesalahannya. Perasaan sesak itu menstimulus cairan bening dari pelupuk matanya. Air hangat itu perlahan menetes dari mata Juna. Terisak tanpa Juna sadari. Isakan pelan Juna membangunkan Ghaida. Ditolehkannya kepalanya ke samping, ke arah suara yang didengarnya. Mata Ghaida berkedip, menajamkan kembali pandangannya, lalu seberkas senyuman tersulam di bibirnya, 'Bayu'-nya telah kembali.
"Mas bayu?" sapa Ghaida, meski suara pelan tapi terdengar nada bahagia di dalam suaranya.
Juna sontak kaget, dan segera menyadari bahwa dirinya sudah mulai menjalani takdirnya. Mulai saat ini dia bukannya Juna, melainkan Bayu. Juna beranjak dari duduknya dan menghampiri Ghaida di sisi tempat tidurnya.
"Hai, Da. Sudah enakan?"
Ghaida mengangguk dan tersenyum lega, lesung pipitnya muncul, dan sesaat kemudian sebulir airmata mengalir dari sudut matanya. Juna hanya memandang tanpa bisa berkata. Meski sedang sakit dan dalam masa pemulihan, namun mata Ghaida terlihat berbinar-binar. 
"Begitu cintanya wanita ini pada suaminya, bahkan tanpa bicara pun, matanya sudah terlihat mencinta sosok suaminya," Juna berkata dalam hatinya. 
"Kamu... kenapa nangis? Ada yang sakit?" ujar Juna akhirnya. Inginnya dia menghapus airmata itu, tapi dirinya menahan agar tidak menyentuh Ghaida.
"Enggak, enggak kok. Aku gak nangis. Aku cuma gak percaya aja kamu ada di sini Mas. Sudah seminggu aku gak tahu kabar kamu dimana. Aku pikir kamu kenapa-napa. Syukurlah kamu sehat dan tidak ada apa-apa."
"Maaf Ghaida, kemarin saudaraku di Bandung ada yang sedang sakit dan butuh bantuanku. Jadi aku pergi ke Bandung, tapi aku sudah bilang ke Ibu, karena waktu itu mendadak sekali. Maaf ya Da."
"Gak apa Mas. Yang penting Mas udah di sini lagi. Ghaida pikir Mas pergi karena kondisi Ghaida seperti sekarang... Maaf ya Mas, aku ngerepotin kamu, aku udah buat kamu khawatir .. tapi aku udah sehat kok, tinggal terapi jalan saja," Ghaida bersemangat, bahkan terlihat sangat bahagia melihat sosok 'Bayu' di sampingnya lagi.
"Jangan ngomong gitu, aku yang minta maaf karena gak ada... di sisi kamu," Juna tertahan, karena yang dia ucapkan ada benarnya, bahwa Bayu memang sudah tidak ada di sisi Ghaida lagi, "padahal kamu pasti sangat membutuhkan aku saat seperti ini, maaf Ghaida .. aku minta maaf, aku tahu aku salah, karena meninggalkan kamu" entah mengapa Juna merasa sedih yang luar biasa, bahkan airmatanya kembali tergenang, benar kata Al bahwa rasa bersalah itu akan terus menghantui hidup Juna. Hingga detik ini pun, berat rasanya bagi Juna untuk membayangkan kemungkinan dirinya akan dipersalahkan dan dihukum karena perbuatan lalainya.
"Yang penting kan kita udah bareng lagi, Mas. Iya kan? buat aku yang penting kita bersama, itu sudah lebih dari cukup. 2 minggu lagi kan Mas harus pergi berlayar lagi kan.. jadi untuk waktu yang gak banyak ini, kita nikmatin aja .. kecelakaan yang lalu anggap musibah dan ujian buat kita. Aku yakin sebentar lagi aku bisa jalan lagi kok, kan ada Mas Bayu di sini, yang siap jagain dan nemenin aku terus, iya kan Mas?"
Juna tersenyum pilu, belum sanggup berkata, tapi perlahan dia mengangguk mengiyakan pertanyaan Ghaida. Ada sebuah janji yang muncul saat ini dalam benak Juna, bahwa dia akan membahagiakan Ghaida apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan wanita bersedih lagi, sampai tiba waktu bagi Ghaida siap melepaskan Bayu. 

Pintu diketuk, Ibu dan Ayah datang. Begitu Ibu melihat Juna di sana, dan wajah Ghaida yang jelas terlihat kembali ceria, Ibu pun langsung memeluk Ghaida erat. Ibu menangis. Menangis sedih dan bahagia sekaligus. Sedih karena ia harus terpaksa membohongi putri satu-satunya ini dengan meminta orang lain menjadi suaminya yang harusnya sudah tiada. Tapi ia juga bahagia, karena dia tahu putrinya sudah kembali merasakan bahagia ketika sosok Bayu di sisinya, kembali menemani hari-harinya. 
"Bu, Ibu kenapa? Kok nangis sih? Ghaida kan udah baikan Bu. Ada apa sih Bu?" Ghaida yang heran menerima pelukan erat Ibunya yang menangis, bertanya.
Ibu melepaskan pelukannya, mengelus rambut hitam Ghaida, lantas tersenyum, "Ibu seneng Da, lihat kamu seneng lagi, apalagi Bayu udah pulang. Kamu pasti seneng kan Bayu nemenin kamu lagi?"
"Gak usah ditanya, Bu. Itu mah pasti," jawab Ghaida ringan.
Tiba-tiba tangan Ghaida memegang tangan Juna. Menggenggamnya dan menariknya untuk duduk di sisi tempat tidur. Juna canggung, takut salah, lalu dia melihat ke Ibu Ghaida. Ibu yang tahu maksud Juna, mengangguk pelan.
"Sebentar lagi sesi terapi kamu, Da. Kamu sudah siap?" tanya Ibu.
"Siap Ibuku sayang. Ibu hari ini istirahat dulu sama Bapak, jalan-jalan. Ghaida sudah ada Mas Bayu."
"Kamu ya Da, ada Bayu, Ibu Bapak dilupain deh."
"Bukan gitu, Bu. Tapi kan dari kemarin sejak Ghaida di sini Ibu dan Bapak terus jaga dan nunggu Ghaida. Nanti Ibu Bapak capek, sakit lagi, repot deh semuanya."
"Iya. Bu, Pak. Hari ini biar saya yang nungguin Ghaida di rumah sakit. Ibu Bapak pulang saja dulu," ujar Juna.
"Oke kalau gitu. Yuk Pak, kita jalan-jalan dulu. Biar aja Ghaida sama Bayu di sini," Ibu beranjak dan menarik Bapak keluar kamar. Sedikit merasa terusir akan kehadiran 'Bayu', tapi Ibu tahu ini akan membuat Ghaida bahagia.
Bapak bergeming, melihat ke Juna, seperti ada yang ingin dikatakannya. Memang Bapak belum sekali pun berbicara sama Juna. Ibu yang mengurus semuanya saat memutuskan Juna membantu menjadi Bayu. 
"Ayuk Bapak, kita jalan-jalan. Ke Mall. Ke cafe. Kemana aja, yuk ah," Ibu sekali lagi menarik Bapak keluar.
"Tolong jaga Ghaida, jangan buat dia sedih lagi ya," satu kalimat dari Bapak ke Juna sebelum pergi dari kamar. Juna sangat memahami maksud Bapak. Juna sadar bagi kedua orangtuanya, kebahagiaan Ghaida adalah kebahagiaan mereka. 
Tak berapa lama, perawat datang ke kamar dan membawa kursi roda untuk membawa Ghaida ke ruang fisioterapi. Juna membantu Ghaida dan mengantarkan Ghaida ke ruang fisioterapi. Ghaida memulai sesi terapinya dengan dibantu 2 terapis. Dari mulai latihan peregangan otot kaki, latihan berdiri beberapa saat, latihan berjalan dengan palang bantuan, sampai terapi pijat kaki. Juna menemani setiap sesinya. Dan terlihat Ghaida kali ini jauh lebih semangat. Bahkan para perawat dan terapis bilang hari ini perkembangan Ghaida sangat baik. Diam-diam, Juna memperhatikan setiap usaha yang Ghaida lakukan. Walau peluh, Ghaida tetap menyelesaikan latihan per latihan. Tak ada keluhan, tak ada erangan sakit atau apa pun, terlihat Ghaida sangat menikmati sesi terapinya. Sesekali Ghaida melihat ke arah Juna, dan melihat Juna lantas tersenyum dan melambaikan tangannya. Juna balas tersenyum dan mengangguk.
"Ya Tuhan, sungguh beruntung Bayu memiliki istri seperti Ghaida. Dan beruntungnya Ghaida punya suami Bayu, mereka pasti saling mencintai satu sama lain. Kalau dia tahu gue ini siapa sebenarnya, gue pasti bakal jadi orang yang dia benci. Dan mungkin dia gak akan pernah maafin kesalahan gue. Sekarang gue harus fokus bantu Ghaida sembuh dan pulih seperti sebelumnya, terus sampai 2 minggu ke depan, gue harus bisa jagain dia, buat dia seneng, gak boleh sedih, dan menjadi pengganti Bayu dalam hidup dia. Semoga pilihan gue ini benar, terbaik buat dia, terbaik buat gue. Semoga Tuhan juga mau ngampuni dosa gue, karena gue udah mau nuker hidup gue dengan hidup Bayu yang sederhana saat ini. Cuma kayak gini yang bisa gue lakuin, yang bisa gue korbanin, supaya Ghaida bisa kembali bahagia. Semoga."
[TO BE CONTINUED]

6 Jul 2014

Lie To Me, Please [4]

PART 4 : BACK FOR GOOD

Sudah 3 hari sejak Ghaida bertemu dengan Juna. Tak seharipun di lewatkan Ghaida untuk menanyakan tentang Bayu kepada Ibunya. Ibu masih berusaha berkelit. Karena Ibu sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Hari ini Ghaida sedang menjalani terapi pada kakinya. Kaki kirinya mengalami cedera, dan dia harus berjalan menggunakan tongkat kruk atau kursi roda sementara waktu. Ghaida terpukul dengan kondisinya ini, terlebih lagi dia berpikir bahwa Bayu mungkin akan meninggalkannya karena kondisi Ghaida sekarang sudah tidak sempurna. Terbukti dengan ketidakhadiran suaminya itu di rumah sakit. Meski memang sebenarnya Bayu  sudah tidak ada, tapi Juna-lah yang dilihat dan dikira Ghaida adalah suaminya. Ghaida sama sekali tidak bersemangat untuk menjalani terapi hari ini. Dia mulai merasa sedih, karena tidak mendengar kabar apa pun dari Bayu. Dia coba hubungi telepon genggam Bayu, tapi tidak pernah diangkat. Ghaida pun lelah bertanya pada Ibu yang selalu berkelit dan memberikan jawaban yang tidak Ghaida harapkan. Ghaida curiga, ada sesuatu yang Ibu sembunyikan.
“Bu, ada apa sebenarnya? Tolong jujur sama Ghaida,Bu. Ghaida sudah tidak punya cukup tenaga untuk menunggu kabar dari Mas Bayu, tapi Ibu juga tidak membantu Ghaida,” tanya Ghaida kepada Ibunya yang menemani Ghaida di ruangan terapi, di sela-sela terapi Ghaida.
“Iya, Da. Ibu sudah bilang ke Ghaida kan, Bayu kemarin ijin sama Ibu, harus pergi dulu sebentar ke Bandung. Mengunjungi bibinya yang katanya sakit dan minta Bayu ke sana. Ibu juga belum dapat kabar apa-apa dari Bayu, Da.”
“Gak mungkin, Bu. Masa Mas Bayu pergi di saat kondisi Ghaida butuh dia sekarang ini? Mas Bayu gak akan melakukan hal itu, Mas Bayu pasti setidaknya bicara dulu ke Ghaida, Bu. Tidak langsung pergi gitu aja. Pasti ini ada sesuatu ya, Bu? Benar ya Bu?”  desak Ghaida. Ibu mulai gugup. Ghaida cukup gigih untuk mengetahui keberadaan suaminya.
“Tidak, Da. Tidak ada sesuatu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu harus konsentrasi untuk sembuh ya, Nak. Kalau kamu seperti ini terus, kamu akan lebih lama penyembuhannya.”
“Bagaimana Ghaida bisa berkonsentrasi, kalau, kalau.. semua pikiran ini tertuju ke Mas Bayu, Bu,” Ghaida mulai terisak, sedih menerima kenyataan suaminya seakan tidak peduli akan keadaannya sejak kecelakaan itu terjadi, “Ghaida gak bisa benar-benar tenang kalau Ghaida tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Mas Bayu. Ghaida seperti ini bukan karena keinginan Ghaida, Bu. Ghaida masih berusaha menerima kondisi Ghaida seperti ini, tapi, tapi tidak dengan tanpa Mas Bayu .. harusnya Mas Bayu ada di sini, dia harusnya di sini, Bu. Di sini, di sisi Ghaida, bukannya malah pergi .. pergi ninggalin Ghaida .. apa salah Ghaida, Bu??” Ghaida menangis, hatinya terasa pedih. Dia punya firasat bahwa Bayu sengaja menjauhinya karena sekarang Ghaida belum bisa jalan lagi karena cedera kakinya. Dia sebelumnya tidak pernah menerima perlakuan seperti sekarang dari Bayu. Bayu adalah laki-laki penyayang dan luar biasa bagi Ghaida.
“Kamu harus kuat, Nak. Kamu tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Bayu tidak, tidak ninggalin kamu , dia, dia .. dia  cuma pergi sebentar menjenguk keluarganya. Mungkin, mungkin dia buru-buru sehingga tidak menghubungi kita lagi. Kamu jangan nangis ya, Da … ibu sedih kalau lihat kamu nangis,” Ibu ikut sedih, lalu memeluk Ghaida.
Mereka menangis berdua, merasakan kepedihan yang sama. 
“Ya Allah, apakah aku harus yang berkata sebenarnya pada anakku? Bahwa suaminya sudah meninggal karena kecelakaan itu. Dan membiarkan ia terluka sesaat menerima kenyataan pahit ini? Ya Allah, hamba tidak tahu harus bagaimana. Aku mohon petunjuk-Mu, berikan aku petunjuk untuk apa yang harus kulakukan,” Ibu memohon dalam hatinya. Berdoa agar ada jalan untuk Ghaida.
Tuhan memang punya caranya sendiri untuk membantu hambaNya. Menjawab doa hambaNya dengan cara-cara yang tak terduga. Sesaat, Ibu Ghaida melihat Bayu, atau lebih tepatnya Juna. Juna berdiri di luar pintu ruangan terapi. Untungnya posisi Ghaida membelakangi pintu terapi sehingga ia tidak melihat Juna di sana. Ibu serta merta melepaskan pelukannya dari Ghaida. Dan berpikir bahwa ada kesempatan kembali untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida.
“Ghaida, Ibu ke toilet sebentar yah. Kamu tunggu di sini ya. Ibu nanti kembali lagi,” pamit Ibunya sembari menghapus airmata Ghaida dari pipinya.
“Iya, Bu. Jangan lama-lama ya, Bu. Masih ada 1 sesi lagi terapi Ghaida.”
“Iya, Nak. Tunggu Ibu ya.”
Ibu beranjak dari duduknya, berjalan cepat menuju pintu. Juna yang bisa melihat Ibu Ghaida berjalan menuju pintu, berbalik arah dan hendak pergi dari sana. Tapi kali ini Ibu Ghaida tidak berdiam diri saja, ia mengikuti Juna. Dan memanggilnya.
“Nak Juna, sedang apa di sini?”  panggil Ibu, Juna berhenti. Terdiam sejenak, seperti sedang meyakinkan sesuatu pada dirinya sendirinya.
“Saya, saya ingin bicara, dengan Ibu,” ujar Juna  akhirnya.
“Kebetulan Ibu juga ada yang mau dibicarakan. Kita bisa bicara di cafeteria sebentar. Sambil minum kopi mungkin?” tawar Ibu Ghaida.
“Oke.”
Juna dan Ibu Ghaida menuju cafeteria, mereka duduk saling berhadapan. Tapi sudah hampir 5 menit, Juna hanya terdiam, memainkan sendok di dalam cangkir kopinya. Ibu Ghaida tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida. Jadi dia berbicara lebih dulu.
“Katanya Juna mau ada yang dibicarakan dengan Ibu? Ada apa ya? Kalau Juna tidak sampaikan lebih dulu, saya juga ingin menyampaikan sesuatu ke Juna.”
Juna berhenti memainkan sendok di cangkirnya, menghela nafas, dan mencoba duduk tegak.
“Iya, Bu. Ada yang mau saya bicarakan. Ini, ini tentang permintaan Ibu waktu itu,” mendengar apa yang mungkin dibicarakan Juna, Ibu Ghaida menjadi serius mendengarkan, dan di hatinya ia berharap hal yang baik akan terjadi, “Sebelumnya saya mau bertanya dulu, kenapa Ibu meminta saya waktu itu? Dan kenapa harus saya? Apakah hal itu tidak sama saja dengan membohongi putri Ibu?”
“Dalam hidup saya, semua yang saya lakukan untuk kebahagiaan keluarga saya. Terutama untuk putri saya satu-satunya. Ketika dia meminta untuk menikahi Bayu, saya yang pertama menolaknya, lalu saya melihat bahwa Ghaida menderita tanpa Bayu sisinya. Lantas saya menyerah dan menerima kenyataan bahwa memang Bayu yang bisa membahagiakan anak saya. Meski Bayu datang dengan segala kekurangannya, dia adalah anak yatim piatu, hidup dalam kesendirian selama beberapa tahun, tapi ternyata hanya dirinya yang bisa mengisi kekurangan hidup Ghaida. Hanya dengan Bayu, Ghaida bisa bahagia,” Ibu Ghaida membayangkan masa-masa ketika Ghaida baru menikahi Bayu. Juna bisa mulai merasakan yang dialami Ghaida saat menikahi Bayu dulu. Perasaan bersalah kembali mendatanginya.
“Setelah mereka menikah, saya baru bisa benar-benar percaya, memang Bayu adalah anugerah dalam hidup Ghaida. Mereka saling mencintai satu sama lain. Tidak pernah sekalipun Ghaida bicara tentang kesedihan ketika menikah dengan Bayu. Dan Bayu ternyata memang laki-laki yang baik,ramah, dan mudah bagi orang untuk menyukainya. Pekerjaannya di kapal, membuat mereka sering berpisah. Tapi meski begitu, hubungan keduanya tidak pernah merenggang, bahkan semakin terikat. Karena setiap kebersamaan yang mereka miliki, Bayu selalu memberikan kebahagiaan dan kenangan untuk Ghaida. Anak itu sudah memberi banyak kepada Ghaida. Tapi, tapi, karena kecelakaan naas itu, Bayu harus meninggalkan Ghaida. Dan …dan Ibu tahu, kepergian Bayu akan merenggut kebahagiaan Ghaida. Hanya akan membuat Ghaida terluka dan menderita. Ibu tidak ingin itu terjadi, Nak Juna. Tidak ada seorang Ibu pun yang akan membiarkan anaknya terluka ataupun menderita,” cerita Ibu Ghaida, berharap Juna membawa harapan hidup baru bagi anaknya.
“Meskipun apa yang saya minta merupakan sebuah kebohongan, tapi jika kebohongan itu bisa membawa kembali senyum dan bahagia Ghaida, saya akan melakukannya. Jadi itu alasan saya meminta bantuan ke Nak Juna. Jika Juna tidak bisa mengerti sekarang, tidak mengapa, karena suatu saat, ketika Juna menjadi orangtua, Juna akan tahu perasaan dan pikiran Ibu juga,” Ibu Ghaida menyadari memang tidak akan mudah meminta Juna untuk berpura-pura menjadi Bayu.
Juna terdiam, menarik nafas dan menghelanya pelan, “Saya bersedia, Bu. Saya bersedia membantu Ibu,” ujar Juna sungguh-sungguh. Entah apa yang merubah pikiran Juna, tapi saat ini mungkin bagi Juna ini hal yang benar bagi semuanya.
Ibu Ghaida terkejut mendengar pernyataan Juna, terlalu senang sehingga tidak tahu harus berkata apa, “Maksud Juna? Benarkah? Benar kamu mau membantu anak saya??”.
Juna mengangguk.
“Terimakasih Nak Juna, terimakasih sekali … semoga ini jalan yang terbaik bagi Ghaida.”
“Tapi Bu, bagaimana dengan orang-orang lain yang mengenal Bayu dan Ghaida, apakah tidak ada satu pun dari mereka yang memberitahu Ghaida bahwa Bayu sudah meninggal? Bagaimana kalau Ghaida nanti tahu yang sesungguhnya?”
“Tidak sampai saat ini. Saya dan Ayah Ghaida sudah memberitahu semua kerabat dan kenalan, untuk tidak membicarakan kematian Bayu ke Ghaida. Kami meminta mereka untuk menunggu saat yang tepat. Dan dengan kehadiran Nak Juna, Ibu akan mengatur semuanya, agar semua kembali seperti semula, seperti saat Bayu ada dulu.”
“Sampai kapan, Bu? Sampai kapan saya harus menjadi Bayu?”
“Sampai Ghaida siap, siap untuk menerima kenyataan bahwa Bayu sudah tidak ada di sisinya lagi. Tapi untuk saat ini hanya 2 minggu Juna menjadi Bayu. Bayu harus kembali bekerja 2 minggu lagi. Sampai 5  atau 6 bulan kemudian, baru Bayu kembali dari berlayar. Pasti ada jalan, untuk membuat Ghaida perlahan melupakan Bayu. Tanpa Bayu harus meninggalkannya, tanpa Ghaida  harus terluka dan menderita karena ditinggal Bayu lebih dulu,” Ibu Ghaida terlihat yakin dengan rencananya.
“Jadi sampai kapan waktunya, belum ada kepastian?”
“Maafkan Ibu Nak Juna, tapi Ibu juga tidak bisa memastikan. Karena itu saat kamu menjadi Bayu, kita harus bisa menyiapkan Ghaida. Membuatnya bisa bertahan hidup tanpa Bayu. Perlahan, Ghaida yang harus mulai melupakan Bayu, meninggalkan hidupnya dengan Bayu.”
“Jadi waktu saya untuk saat ini cukup 2 minggu saja?”
“Kita akan pikirkan nanti. Yang penting sekarang, Nak Juna membantu Ghaida untuk cepat pulih dari sakitnya. Karena Ibu yakin dengan adanya sosok Bayu di sampingnya, Ghaida akan punya semangat untuk sembuh. Dan akan tiba waktu yang tepat untuk Ghaida yang akan meninggalkan Bayu nanti. Saat itulah kamu bisa kembali menjadi Juna.”
“Apakah, apakah … Ghaida tidak akan apa-apa Bu?” entah kenapa Juna khawatir akan perasaan Ghaida jika suami yang dikiranya kembali bukanlah laki-laki yang sama.
“Ibu ingin yang terbaik untuk Ghaida. Lebih baik Ghaida tahu saat dia siap, tapi waktu itu bukan sekarang, dan yang pasti Ibu akan membantu Juna untuk menjadi seperti Bayu. Kita akan bicarakan lebih detail nanti.”
“Saya tidak akan tahu akan seperti apa nantinya. Tapi saya akan mencoba sebaik-baiknya. Jika memang itu bisa membuat Ghaida kembali seperti dulu,” ujar Juna, lebih kepada ingin menenangkan hatinya bahwa dirinya sudah sebisa mungkin menebus kesalahannya. 
“Mm, maaf Bu, kalau boleh saya bertanya, lalu bagaimana dengan orang yang sudah menabrak Bayu dan Ghaida?” kerongkongan Juna serasa tercekat ketika berkata ‘orang yang sudah menabrak’, karena hanya dirinya yang tahu saat itu, siapa yang sebenarnya yang melakukannya.
“Kami masih mencari informasi tentang dia, tapi sayang sekali waktu kejadian tidak ada satupun orang yang melihatnya. Ibu merasa tidak akan sanggup memaafkan orang itu jika pelakunya sudah ditemukan, dia sudah merenggut Bayu dari sisi Ghaida. Membuat Ghaida kehilangan laki-laki yang sangat dicintainya,…” terlihat rona kesedihan dan kekecewaan di raut wajah Ibu Ghaida. Juna pun merasa kaku mendengar bahwa kemungkinan ia tidak akan pernah dimaafkan oleh keluarga Ghaida. “Tapi yang terpenting bagi Ibu, adalah kesehatan dan kebahagiaan Ghaida. Cukup itu sekarang, Nak Juna, maka itu Ibu sangat, sangat berterimakasih karena Juna sudah bersedia menolong Ghaida. Entah apa yang bisa Ibu balas untuk kebaikan Juna. Untuk masalah imbalannya,” Ibu Ghaida berpikir Juna melakukan hal ini karena ada imbalannya.
“Imbalan?? Tidak Bu, saya, saya tidak menginginkan imbalan apa pun.”
Ibu kaget mendengar Juna tidak menginginkan imbalan apa pun, “Maksud Nak Juna, Nak Juna bersedia melakukan ini semua tanpa imbalan?? Lalu kenapa Juna mau melakukannya?”
“Seperti yang Ibu ceritakan sebelumnya. Karena saya juga ingin membantu Ghaida, mengembalikan kebahagiaannya, dan .. dan karena saya dulu pernah memiliki seorang teman perempuan yang ditinggal meninggal oleh suaminya, lalu dia sekarang hidup dalam kesedihan karena tidak bisa melupakannya,” ujar Juna tidak sepenuhnya jujur, karena hanya dia dan Al yang tahu alasan sebenarnya dia menerima tawaran Ibu Ghaida, “Meski saya tidak mengenal keluarga Ibu, tapi saya ingin membantu. Jadi saya harap Ibu tidak membicarakan tentang imbalan lagi nanti.”
Ibu Ghaida sedikit heran dengan Juna. Tapi dia tepis pikirannya karena dia merasa sudah menemukan jalan kembali untuk Ghaida.
“Baiklah Juna. Tapi Ibu tidak mau kamu menjalani kehidupan Bayu tanpa rasa terimakasih dari Ibu. Apa yang mungkin bisa Ibu berikan sebagai rasa terimakasih Ibu?”
Juna tidak tahu apa yang mau dia pinta, karena dia menerima tawaran ini semata-mata untuk menebus kesalahannya, ini hukumannya. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah keluarga Ghaida memaafkannya, memaafkan atas segala perbuatan lalainya sehingga membuat Bayu meninggal.
“Buat saya, jika Ibu dan keluarga bisa memaafkan, memaafkan orang itu … itu sudah cukup bagi saya.. karena saya tahu, rasa tidak memaafkan itu akan merugikan diri kita sendiri, dan bagi saya itu cukup,” Juna mencoba kesempatannya.
“Maksud Juna apa? Juna mau kami melupakan begitu saja perbuatan orang gila yang menabrak Bayu dan Ghaida?” Ibu terkejut mendengar permintaan Juna. Juna mengangguk pelan, tangannya terkepal di atas meja, berharap bahwa ia bisa memanfaatkan peluang agar keluarga Ghaida memaafkannya.
“Tidak bisa! Selamanya saya tidak bisa memaafkan orang itu! Kalau dia datang dan mengaku, atau setidaknya membawa anak-anak kami ke rumah sakit dengan segera, mungkin Ibu masih ada hati untuk memaafkannya. Tapi tidak! Tidak akan. Karena orang itu adalah pengecut yang lari dari tanggungjawabnya. Bagaimana mungkin Juna bisa meminta Ibu melakukan hal itu???” Ibu Ghaida sama sekali tidak habis pikir dengan permintaan Juna. Tanpa Ibu tahu yang sebenarnya kalau Juna sedang berusaha meminta maaf atas perbuatannya sendiri.
Hati Juna berdebar mendengar kata-kata Ibu Ghaida. Semua yang dikatakannya memang benar adanya. Tapi, Juna bukan lari dari tanggungjawabnya. Dan itu ia buktikan dengan bersedia membantu Ibu Ghaida, menebus kesalahannya. Jika memang seumur hidup dia menjadi Bayu, asal bisa menebus kesalahannya dan mendapatkan maaf dari keluarga ini, Juna pun sanggup.
“Maafkan saya, Bu. Maaf jika saya sudah membuat Ibu tersinggung dengan permintaan saya. Tapi bagi saya, punya perasaan tidak memaafkan itu tidak akan membawa kebaikan apa pun. Jika memang Ibu tidak bisa, maka mohon maaf sekali, saya rasa saya tidak sanggup menjadi Bayu. Maaf sekali Bu, ini memang bukan urusan saya, tapi saya merasa tidak enak jika nanti saya harus merasakan hal yang serupa, hal dalam sulit untuk memaafkan.”
Ibu kaget, harapan satu-satunya, kesempatannya, untuk membawa Ghaida bahagia yang tadi sudah di depan mata, mengurungkan niatnya. Ibu terdiam. Berpikir ulang. Ibu merasa Juna, orang asing yang baru dikenal, mau menukar kehidupannya dengan kehidupan Bayu. Urusan pelaku tabrak lain itu hal berbeda dengan Juna, dan Ibu juga tidak mau Juna terseret ke dalam masalah itu nantinya. Tanpa Ibu tahu, Juna sendirilah yang membawa masalah itu.
“Baiklah Nak Juna, tapi kita sama-sama tahu bahwa ini bukan perkara yang mudah. Jika Juna bisa menjalani ini dengan baik, Ibu akan mencobanya, mencoba melupakannya… tapi Ibu tidak tahu dengan Ghaida, apakah ia rela memaafkan orang yang sudah membuat Bayu pergi, kehilangan Bayu saja sudah berat bagi dia, Ibu tidak bisa menjamin itu…”.
Juna tahu pasti akan sangat sulit mendapatkan maaf Ghaida. Tapi setidaknya Juna bisa sedikit lega karena masih ada harapan. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjadi Bayu sebaik-baiknya. Sampai waktu yang belum ditentukan. Juna harus rela melepaskan kehidupannya sebagai Juna dan menjadi Bayu demi kebaikannya, kebaikan Ghaida dan keluarganya. Hanya dengan itu Juna akan lebih tenang dalam hidupnya.
“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan untuk langkah awal menjadi Bayu?” tanya Juna mantap. Berdoa dalam hati agar semua masalah yang disebabkannya bisa cepat selesai.
Ibu tersenyum lega, dan mulai menjelaskan apa yang harus Juna lakukan. Pertama Ibu menceritakan tentang Bayu. Siapa Bayu, keluarga Bayu yang ternyata sudah tidak memiliki orangtua lagi, juga tentang pekerjaan Bayu, cerita tentang pertemuannya dengan Ghaida, dan semua hal yang terkait Bayu. Juna terkejut kalau sosok Bayu adalah sosok yang benar-benar berbeda dari dirinya. Bayu adalah orang yang sederhana, dan hidupnya tidak lebih baik dari Juna. Karena Bayu bukan dari keluarga berada seperti Juna. Bayu seorang awak kapal, pekerja keras, dan terbiasa hidup sendiri dan mandiri. Sedangkan Juna? Pekerjaan yang bagus dan mapan sudah disodorkan oleh Papanya sendiri di perusahaannya, tapi Juna lebih memilih hidup bebas, tidak bekerja, dan hanya bermain musik dengan teman-temannya. Juna jadi ragu apakah dia bisa menjadi sosok yang baik seperti Bayu? Bisakah dia meyakinkan Ghaida bahwa dirinya lah ‘suami’ yang ditunggunya? Juna tidak tahu, dan tidak bisa menerka apa yang terjadi. Dan baru kali ini, Juna benar-benar berharap dan berdoa bahwa semuanya akan berjalan lancar, baik sesuai rencana Ibu Ghaida dan dirinya.
[TO BE CONTINUED]

3 Jul 2014

Love Phobia [1]

PART 1 : MEET YOU

Bandung, 1 November 2013
Suasana kota Bandung hari ini cukup sejuk. Langit biru berhiaskan oleh arakan cantik awan putih yang menggumpal. Terik matahari tak terasa, karena sejuknya awan meredam kehangatannya. Semilir angin penghujan menambah nuansa kesejukan. Pada bulan-bulan akhir tahun seperti ini, Bandung sering diguyur hujan, namun terkadang tidak sampai hujan deras. Dan cuaca seperti ini merupakan cuaca paling favorit buat seorang gadis yang tengah duduk di bangku taman kampus siang ini. Sambil menikmati sekotak teh kotak, tangannya sibuk menggerak-gerakkan pulpennya di atas kertas tulis. Sesekali matanya beranjak dari buku, melihat sekelilingnya, berdiam sejenak sambil berusaha menemukan ide untuk ceritanya. Dia terbiasa meluangkan waktu kosongnya untuk menulis, ini sudah menjadi kebiasaannya sejak SMP. Ritual menulis ini harus dilakukannya seorang diri, hanya ditemani oleh buku dan pensil, ditambah musik dan cemilan. Untuk tempat ritual pun harus gonta-ganti, tidak boleh sama. Satu waktu di kelas, waktu lain bisa di taman kampus, atap gedung, perpustakaan, atau di mana saja yang dapat menghadirkan inspirasi baginya. Ritual inilah yang sedang dilakukan gadis bernama Anky di taman kampusnya. Sejatinya ritual ini dilalui Anky dalam ketenangan kalau misal suara cempreng itu tidak mengganggunya.
"Annnnnkyyyyy sahabatkuuu," Anky memgalihkan pandangannya ke arah suara itu. Sahabatnya sejak SMA dulu,yang paling berisik, paling cerewet, paling doyan makan,  tapi paling mengerti siapa Anky, dia Mila, datang dari arah gedung kampus.
"Ya ampun Mila, lo udah masuk kuliah? Udah selesai liburannya?"
Mila duduk disamping Anky, "Udah dong.. kemarin gue baliknya.. Ngapain lo di sini Ky? Lagi ritual ya?" tebak Mila sambil melihat buku ajaibnya Anky di depannya.
"He eh.. lagi mau rampungin novel nih, belum selesai-selesai. Udah ditanyain Mbak Linda sih kapan mau masukin story lagi ke sana. Tapi gak tahu nih, lagi mentok gue Mil."
"Mmm.. emang lagi bikin novel tentang apa sih? istimewa banget kayaknya?"
"Martabak kalii..istimewa," canda Anky ringan.
"Iii..orang serius ditanya sih..emang novel apaan sih Ky? Perasaan dulu lo cuma bikin cerpen doang deh..kok jadi novel sekarang?"
"Gimana ya? Lagi mau coba ngembangin tulisan gue aja Mil."
"Emang bisa ngembang?"
"Bisa. Lo aja bisa ngembang, tuh liat habis liburan pipinya makin ngembang, hahahaaa.." Anky meledek Mila yang memang memiliki pipi yang tembem.
"Ankyyyyyy..kan gue udah diet..masa sih masih gendut?" Mila merajuk.
"Enggak..enggak kok..becanda gue.."
"Trus novelnya tentang apa sih? sampai gue juga belum dikasih baca draftnya? Penasaran nihh.. kasih tahu dong..ya..ya."
"Mmm, yaa gimana ya? Habis gue belum pede kasih liat lo.. gue lagi buat novel tentang cinta, tentang hubungan."
"Tentang cinta? Pacaran? Cowok cewek? Iya?" Mila terlihat tidak percaya.
"Mmm..kind of..kenapa emangnya? Kok kayak gak percayaan sih?"
"Yaa selama ini cerpen lo kan tentang persahabatan, sosial, gak gubris-gubris masalah pacaran, apalagi cinta."
"Iya sih. Makanya gue mau coba buat Mil. Mbak Linda juga lagi butuh tema ini buat diterbitin di penerbitan. Gimana Mil menurut lo?"
"Bagus dong. Tema cinta tuh general banget. Gampang. Lo pasti bisa deh Ky. Tapi..ngg..," Mila berhenti sejenak, belum yakin mengeluarkan pernyataannya ke Anky.
"Tapi kenapa?"
"Tapi...lo kan ..belum pernah pacaran Ky..gimana lo mau nulis cerita tentang cinta,tentang hubungan cowok dan cewek Ky??" Mila bicara cukup hati-hati takuet menyinggung Anky.
Anky diam sejenak. Dirinya mau berkelit tapi dalam hatinya dia tahu perkataan Mila ada benarnya.
"Nngg..iya sih Mil..tapi kan bukan berarti kalau gue belum pernah pacaran terus gak tau tentang pacaran. Gue kan bisa riset. Tanya ke lo misal. Atau ke pasangan lain yang lagi punya hubungan serius misal. Bisa kan?"
"Yaa bisa sih..tapi kan kalau lo ngalamin sendiri, pasti rasanya beda deh. Iya kan? Mungkin karena itu Ky, lo mentok belum dapat inspirasi. Karena jiwa lo belum tahu apa yang lo tulis, hati lo dan pikiran lo belum tahu rasanya cinta, gue benar gak?" Mila mencoba menalarkan.
"Yaa.. mungkin sih Mil. Tapi kan lo tahu...gue punya prinsip kan?"
"Tahu lah. Tahu banget malah. Lo gak mau pacaran. Iya kan?? Masih belum mau berubah pikiran Ky? Lo yakin gak mau pacaran??"
"Nope.. duh kayaknya bahasan ini udah panjang gue jelasin deh Milllll... I' m not ready to felt the pain, heartbreaking or kind of that.. capek kayaknya Mil..enakan gini ahh," Anky berargumen.
"Lo sih cuma lihat negatifnya aja. Kan jatuh cinta gak mesti sakit hati selalu Ky. Jatuh cinta tuh indah lagi.
"Tapi ya Ky, percaya deh..lo akan lebih gampang rampungin novel ini kalau lo sendiri yang jalanin.."
"Aaa..udah ah ngomongin novelnya. Pokoknya gue bakal rampungin novel ini. Tenang aja. By the way oleh-oleh buat gue mana nih??"
"Yaaa kirain lupa hehe..tenang Ankyyy...nih gue beliin lo."
Mila mengeluarkan bungkusan dari tasnya, "Waa makasih ya Mil,bagus nih oleh-olehnya."
"Iya, gue inget lo suka sama owl things, jadi gue beliin kaos ini aja deh."
Anky dan Mila sedang sama-sama melihat oleh-oleh dari Mila, tiba-tiba handphone Mila bunyi.
"Hallo, ya ini Mila.. ini..siapa..hah? Kak Ano? beneran ini? Ya ampunnnn.. oke oke.. iya bener, Kak Ano jalan aja dari BIP ke arah dago aja..iya bener.. oke.. gue tunggu ya, oke...sip sip.. bye," Mila mematikan handphonenya kembali.
"Siapa Mil? heboh banget kayaknya?" tanya Anky setelah lihat Mila.
"Iya heboh. Dan bentar lagi kampus kita juga pasti heboh banget deh."
"Lho apa hubungannya sama kampus?? Emang siapa sih yang telpon barusan? Cowok baru?"
"Bukaaaaannnn... sepupu gue, Ryano. Dia lagi di Bandung."
"Oohh..sepupu yang mana ya? Kok gue gak pernah tahu sih?"
"Sepupu jauuuhhhhhh..hehe..masih saudara sih.. selama ini dia tinggal di Jakarta. Neneknya dia kakaknya nenek gue..kita udah lama banget gak ketemuan.. terakhir pas dia ngelanjutin kuliah di Aussie 4 tahun yang lalu,  pas kita masuk SMA."
"Oooo..pantesan gue gak pernah tahu. Terus dia mau ketemu lo?"
"Iya. Dia kebetulan ada shooting .. eh..," Mila berhenti bicara. Lalu mengernyit sambil melihat reaksi Anky. Mila tahu banget ada satu hal lagi tentang Anky. Anky paling benci sama yang namanya selebritis. Bukan semua seleb yang dia tidak suka, tapi yang sombong dan berkepribadian tidak baik. Makanya Mila sebut Anky dengan 'Seleb Phobia'.
"Shooting?? shooting apaan Mil?"
"Hunting Ky,hunting.. kok shooting sih," Mila buru-buru meralat. Tguet Anky tahu kalau Ryano sebenarnya adalah seorang aktor muda yang baru berkarir di dunia perfilman. Meski yang Mila ingat Ryano bukan aktor yang sombong.
"Tadi gue dengar lo bilang shooting. Emang mau hunting apa dia Bandung?"
"Mm..hunting foto. Suka motret dia."
"Ooo.."
"Ya udah, gue ke depan dulu ya. Mau nyusul dia. Bye Anky."
"Bye Mil..thanks ya oleh-olehnya."
"Ok. Urwelcome..daghhh," Mila bergegas ke luar kampus untuk bertemu dengan Ryano.
Anky melihat jam tangannya. Sebentar lagi kelas pertamanya dimulai. Anky menghela nafas. Melihat tulisannya di buku yang hanya baru jadi beberapa lembar. Sejenak Anky berpikir, kenapa masih belum terasa inspirasi itu datang ya? Sudah seminggu Anky mencoba menulis novelnya, tapi belum tahu mau seperti apa endingnya.
"Ya udah deh. Nti dilanjut lagi. Udah mau kelas. Hayyo...semangat Anky!" Anky menyemangati diri sendiri sebelum berjalan menuju kelasnya. Kebetulan juga ada quiz hari ini. Open book. Anky harus memfotokopi beberapa lembar catatan yang dia dapat dari temannya. Sambil terburu-buru Anky bergegas ke tempat fotokopi di samping kampusnya.
"BRUKKK!!" tiba-tiba bahu Anky ditabrak orang lain dari samping. Buku dan catatan yang mau difotokopi Anky jatuh ke bawah.
"Aawww," suara itu datang dari orang yang menabrak Anky. "Eh kalau jalan hati-hati dong!" gerutu orang itu sambil melihat Anky yang sedang merapikan buku dan catatannya yang jatuh di bawah.
Anky yang mendengar dirinya digerutui, segera berdiri dan menghadap orang itu.
"Lho gak salah? Lo yang nabrak saya. Jelas-jelas lo yang lari dari arah sana. Perasaan jalanan juga lebar deh," balas Anky sedikit kesal. Saat ini dia sedang menghadapi cowok  tinggi berkacamata hitam. "Makanya kalau jalan kacamatanya di buka aja. Biar jalannya bisa lurus,gak nabrak sana sini. Ini kampus, bukan jalan umum," sindir Anky.
Tapi bukannya mendengarkan Anky, cowok itu malah celingak-celinguk ke arah belakangnya, seperti mencari atau mengawasi sesuatu.
"Kalau orang ngomong itu didengerin. Malah celingak-celinguk sih? Duh buang waktu ya.. kali ini saya maafin..tapi..," belum selesai Anky bicara, tiba-tiba cowok itu berlari meninggalkan Anky, Anky heran.
"Sorry,gue gak ada waktu ngobrol sama lo. Gue cabut duluan," katanya sambil berlari, lebih heran lagi beberapa saat kemudian terlihat segerombolan cewek yang mengikuti cowok tadi lari.
"Eh cepet..cepet...Ano ke sana tuh, buruan."
"Anoooo..foto dong No..foto."
"Cepetaaann...nanti kita gak dapet tandatangannya."
Suara riuh itu Anky dengar dari segerombolan mahasiswi yang kalang kabut seperti mengejar layangan jatuh.
"Aneh banget sih pada, ngapain juga ngejar orang kayak gitu. Aneh deh. Emang dia siapa?" gumam Anky bingung.
Belum selesai bingungnya Anky teringat akan catatannya.
"Ya ampun! hampir lupa kan..fotokopi..duh bisa telat quiz kalau gini.. ini semua gara-gara cowok tadi,heeh" Anky pun berjalan kembali ke arah samping kampusnya.

Jam 2 siang kuliah Anky dan Mila sudah selesai. Hari ini mereka cuma ada 2 kelas. Sebenarnya Anky mau langsung pulang, tapi Mila ngajak ke CiWalk buat beli rumah baru buat Missy. Missy ini kucing Persia putih yang hidungnya hampir gak kelihatan karena peseknya yang dipelihara Mila ini. Bisa dibilang ini hobi baru Mila, pelihara kucing. Bahkan Mila rela nyisihin uang sgue kuliahnya buat beli pernak pernik lucu buat Missy.
"Emang rumahnya Missy yg sekarang kenapa Mil? Kok sampe beli yang baru lagi?" tanya Anky saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil.
"Udah kekecilan rumahnya Ky. Nih kucing gembul banget,makan mulu..tambah lebar deh."
"Waa cocok dong."
"Cocok?"
"Iya. Sama kayak lo. Gembul. Makan mulu, hahaaaa"
"Iihhhh Ankyyyy..gue kan udah diet," sangkal Mila.
"Iya iya. Percaya deh. Yuk ahh. Nti keburu sore."
Mereka lalu naik ke mobil Mila. Mila setiap hari memang bawa mobil ke kampus.
"Eh tau gak Ky? Inget kan tadi pagi gue harusnya ketemu sama sepupuku itu ya," Mila mulai cerita sambil matanya tak lepas dari spion mobil.
"Iya. Terus gimana? Udah ketemuan?"
"Nah itu dia. Gue nungguin dia di gerbang depan, hampir setengah jam tapi dia gak nongol. Padahal kita ada kelas kan. Gak jadi deh ketemuan. Gue langsung balik masuk kelas."
"Yaa..terus? lo gak telpon dia apa tadi? mungkin dia nyasar Mil, secara nih kampus gede banget."
"Udah gue telpon tapi gak diangkat. Jadi gue cuma sms aja. Tapi sampai sekarang belum dibalas nih. Kemana ya Kak Ano? Tadi bilang mau ketemu di kampus. Kasian kan kalau dia nyasar."
"Gak pa pa kali Mil, udah gede kan dia?"
"Iya sih. Ya udah nanti juga bisa ketemu."
"Coba aja telpon lagi sekarang, siapa tahu diangkat," usul Anky.
"Oh ya. Bener. Gue coba telpon lagi," Mila mengambil handphonenya lalu menekan nomor Ryano.
Nada sambung terdengar. 1 menit. 2 menit. Belum diangkat. Baru Mila mau tekan end call, muncul suara cowok di seberang sana, "Hallo, Mila?"
"Kak Anoooo.. ya ampun susah banget sih nelpon kakak. Sibuk ya?"
"Dduuhh Milaa..sorry sorry, gue tadi udah di kampus lo kok. Beneran. Tapi gue gak bisa nemuin lo. Pas gue nunggu lo, gue malah ketemu fans gue, kalau cuma 1-2 orang sih gak pa pa. Ini segerombol. Kabur deh gue jadinya," cerita Ryano.
"Oya?? Waa susah ya jadi Kak Ano sekarang.. gak bisa beredar..langsung diserbu ya?"
"Iya Mil. Sorry banget. Padahal gue pengen banget ketemu lo. Sorry ya."
"Gak papa. Gue ngerti lah Kak Ano orang sibuk sekarang hehe. Terus Kak Ano dimana sekarang?"
"Lagi di jalan sih ini, muter-muter aja. Mau cari tempat makan nih sebelum balik ke hotel."
"Gue juga mau jalan nih, ke CiWalk di Cihampelas. Mau ke sana gak Kak? Kita ketemuan di sana, ada tempat makan enak di sana. Yuk."
"Waa boleh boleh.. udah laper banget nih. Tapi heboh lagi gak ya, hehe."
"Iya ya."
"Oke deh,gue ke sana dulu aja. Kita ketemuan di parkiran dulu aja ya Mil. Kalau udah nyampe kita call-call dulu."
"Sip. See you there Kak Ano."
"See you Mil."
"Gimana? Jadi ketemuan?" tanya Anky yang sedari tadi cuma mendengar percakapan Mila ke handphonenya.
"Iya jadi. Di Ciwalk sekalian. Lo gak apa apa kan gue ketemuan di sana?"
"Ya gak papa Mil. Kenapa gue mesti apa-apa?"
Mila lupa kalau Anky belum tahu siapa Ryano sebenarnya. Tapi Mila juga gak mau bohongin sahabatnya ini. Nanti pas Anky sudah ketemu Ryano, baru Mila jelasin siapa Ryano sebenarnya.
"Yaaaa gak sih, gak enak tguetnya kan kita tadi planningnya cuma berdua, sekarang jadi sama Kak Ano juga."
"Gak lah. Gak papa. Eh tapi tadi namanya Ryano ya? Lo panggil dia siapa? Ano?"
"Iya. Kenapa gitu?"
"Perasaan pernah denger namanya," ujar Anky.
Deg! Mila kaget. Jangan-jangan Anky sudah sadar siapa sebenarnya Ryano.
"Eh masa? Mungkin. Kan nama Ryano gak cuma 1 kali Ky."
"Iya sih. Hehe."
Huff..lega Mila. Ternyata Anky belum sadar. Padahal nama Ryano memang lagi naik daun sekarang. Setelah membintangi film layar lebar awal tahun ini bersama aktor terkenal lainnya. Film bioskopnya juga meraih beberapa penghargaan, termasuk Ryano yang mendapat penghargaan Aktor Pendatang Muda Terbaik versi salah satu stasiun televisi swasta. Akting Ryano memang lagi banyak dipuji orang dan para kritisi film. Belum lagi ditunjang wajah dan postur tubuh ideal. Ini pun di Bandung Ryano dalam rangka shooting film barunya.
Selang beberapa menit Mila sudah parkir di lapangan parkir Ciwalk. Menunggu call Ryano. Tidak lama Ryano telpon dan bilang ada dimana. Mila dan Anky menyusul ke tempat Ryano.
"Mila?" tegur seorang cowok tinggi ke Mila yang lagi celingak celinguk di parkiran. Mila sejenak memicingkan matanya dan memperhatikan cowok itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kak Ano?!? Ya ampuuunn beda banget sih," Mila langsung menghampiri Ryano dan memeluknya. Anky yang mengikuti dari belakang Mila juga turut memperhatikan Ryano. Postur tubuh Ryano yang tinggi, putih, dan berwajah blasteran memang bisa dibilang ideal. Bak model-model luar negeri yang ada di majalah cosmo. Ganteng.
"Kayak pernah liat.." gumam Anky dalam hati.
"Hahaa..udah lama ya kita gak ketemuan. Lo juga udah kuliah aja, dulu perasaan masih SMP, masih kuncir dua."
"Iya iih..udah lama banget ya..sejak Kak Ano sekolah ke Aussie kan kita gak pernah ketemu lagi. Oya Kak Ano sendirian aja?"
"Iya. Lagi boring aja tadi di hotel. Pengen jalan-jalan. Tadi kan rencana mau nyulik lo di kampus, eh gagal deh gara-gara dikejar-kejar, mana pake ditabrak lagi sama ..," Ryano berhenti cerita pas ketika melihat sosok cewek di belakang Mila. Anky pun melguekan hal yang sama. Seperti ada yang pernah ketemu sebelumnya. Anky terkejut sadar sendiri siapa Ryano di depannya ini.
"Sama lo! Iya sama lo. Lo yang tadi nabrak saya di kampusnya Mila kan?" tiba-tiba Ryano beralih ke Anky, berjalan menghampiri Anky. Mila yang tidak tahu apa-apa sedikit bingung.
"Lo?? Lho yang nabrak duluan kan lo. Kok jadi nyalahin orang sih?"
"Eh eh..ini kenapa ya? Lho Kak Ano udah ketemu Anky? Anky lo juga  udh ketemu Kak Ano?? Kapan??" tanya Mila bingung.
"Tadi pagi," sahut Ryano.
"Tadi pagi," sahut Anky berbarengan.
Mila jadi tambah bingung, jadi tadi pagi pas Ryano yang harusnya ketemu sama Mila malah ketemu Anky? Kacau nih. Pikir Mila.
"Lho tadi pagi? Kok bisa?" tanya Mila.
"Dia nabrak gue," jawab Ryano cepat.
"Ehh, kok jadi saya?? Lo yang lari kayak dikejar-kejar gitu," Anky gak terima.
"Kan gue udah bilang sorry kan," kata Ryano santai.
"Iya sih. Tapi kan yang duluan nabrak lo,bukan saya," Anky masih merasa tadi pagi itu bukan dia yang tabrak duluan.
"Ya terus? Lo juga gak mau say sorry kan?"
"Lho, tapi kan emang lo yang salah. Gue kan udah bilang maafin," balas Anky mulai kesal.
Mila bingung tapi harus coba melerai dua orang yang baru ketemu tapi sudah kayak kucing dan tikus ini.
"Ya udah. Udah. Kan juga udah ada yang say sorry, udah ada yang maafin juga. Ya udah selesai dong masalahnya. Sekarang kenalan dulu dong. Baik-baik kenalannya. Ya ya ya?"
Anky baru sadar ada Mila di antara mereka, dan langsung merasa gak enak sama Mila. Ternyata cowok yang ngeselin ini kakak sepupunya Mila. Anky akhirnya mengulurkan tangannya ke Ryano.
"Anky, temennya Mila," Anky mengenalkan dirinya ke Ryano. Ryano pun mengulurkan tangannya.
"Ryano, sepupunya Mila."
"Naaahh gitu kan enak. Udah ya yang tadi pagi gak usah dibahas lagi. Yuk ah kita ke dalam," ajak Mila.
"Eeh..bentar Mil, bentar .. siap-siap dulu," kata Ryano lalu mengeluarkan topi dan kacamata hitamnya. Anky yang melihat Ryano mengernyitkan keningnya, heran.
“Siang-siang gini ke Mall pake kacamata hitam? Sok banget sih nih cowok, berasa ngartis banget lagi. Untung sepupunya Mila, kalau bukan, udah males banget kenalan sama dia,” gumam Anky dalam hati.
Mila sadar Anky mungkin heran lihat kelakuan Ryano, tapi Mila pun tahu alasan kenapa Ryano mesti pakai kacamata hitam dan topi siang-siang ke mall. Karena memang Ryano gak mau kejadian pagi tadi di kampus kejadian lagi di sini. Mila maklum. Tapi gimana sama Anky yang punya phobia sama seleb?.
“Ya udah, kita jalan yuk. Kita ke Care Petshop dulu ya, mau beli kandang buat Missy dulu. Habis itu baru kita makan siang. Gimana?” usul Mila.
“Ok, gue ikut lo aja Mil,” jawab Ryano.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mall. Meski begitu, Anky masih heran sama perilaku Ryano yang aneh bin ajaib menurut dia. Anky mau tanya ke Mila, tapi tidak enak kalau di depan Ryano. Semoga firasatnya tidak terbukti. Semoga.
[TO BE CONTINUED]