6 Jul 2014

Lie To Me, Please [4]

PART 4 : BACK FOR GOOD

Sudah 3 hari sejak Ghaida bertemu dengan Juna. Tak seharipun di lewatkan Ghaida untuk menanyakan tentang Bayu kepada Ibunya. Ibu masih berusaha berkelit. Karena Ibu sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Hari ini Ghaida sedang menjalani terapi pada kakinya. Kaki kirinya mengalami cedera, dan dia harus berjalan menggunakan tongkat kruk atau kursi roda sementara waktu. Ghaida terpukul dengan kondisinya ini, terlebih lagi dia berpikir bahwa Bayu mungkin akan meninggalkannya karena kondisi Ghaida sekarang sudah tidak sempurna. Terbukti dengan ketidakhadiran suaminya itu di rumah sakit. Meski memang sebenarnya Bayu  sudah tidak ada, tapi Juna-lah yang dilihat dan dikira Ghaida adalah suaminya. Ghaida sama sekali tidak bersemangat untuk menjalani terapi hari ini. Dia mulai merasa sedih, karena tidak mendengar kabar apa pun dari Bayu. Dia coba hubungi telepon genggam Bayu, tapi tidak pernah diangkat. Ghaida pun lelah bertanya pada Ibu yang selalu berkelit dan memberikan jawaban yang tidak Ghaida harapkan. Ghaida curiga, ada sesuatu yang Ibu sembunyikan.
“Bu, ada apa sebenarnya? Tolong jujur sama Ghaida,Bu. Ghaida sudah tidak punya cukup tenaga untuk menunggu kabar dari Mas Bayu, tapi Ibu juga tidak membantu Ghaida,” tanya Ghaida kepada Ibunya yang menemani Ghaida di ruangan terapi, di sela-sela terapi Ghaida.
“Iya, Da. Ibu sudah bilang ke Ghaida kan, Bayu kemarin ijin sama Ibu, harus pergi dulu sebentar ke Bandung. Mengunjungi bibinya yang katanya sakit dan minta Bayu ke sana. Ibu juga belum dapat kabar apa-apa dari Bayu, Da.”
“Gak mungkin, Bu. Masa Mas Bayu pergi di saat kondisi Ghaida butuh dia sekarang ini? Mas Bayu gak akan melakukan hal itu, Mas Bayu pasti setidaknya bicara dulu ke Ghaida, Bu. Tidak langsung pergi gitu aja. Pasti ini ada sesuatu ya, Bu? Benar ya Bu?”  desak Ghaida. Ibu mulai gugup. Ghaida cukup gigih untuk mengetahui keberadaan suaminya.
“Tidak, Da. Tidak ada sesuatu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu harus konsentrasi untuk sembuh ya, Nak. Kalau kamu seperti ini terus, kamu akan lebih lama penyembuhannya.”
“Bagaimana Ghaida bisa berkonsentrasi, kalau, kalau.. semua pikiran ini tertuju ke Mas Bayu, Bu,” Ghaida mulai terisak, sedih menerima kenyataan suaminya seakan tidak peduli akan keadaannya sejak kecelakaan itu terjadi, “Ghaida gak bisa benar-benar tenang kalau Ghaida tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Mas Bayu. Ghaida seperti ini bukan karena keinginan Ghaida, Bu. Ghaida masih berusaha menerima kondisi Ghaida seperti ini, tapi, tapi tidak dengan tanpa Mas Bayu .. harusnya Mas Bayu ada di sini, dia harusnya di sini, Bu. Di sini, di sisi Ghaida, bukannya malah pergi .. pergi ninggalin Ghaida .. apa salah Ghaida, Bu??” Ghaida menangis, hatinya terasa pedih. Dia punya firasat bahwa Bayu sengaja menjauhinya karena sekarang Ghaida belum bisa jalan lagi karena cedera kakinya. Dia sebelumnya tidak pernah menerima perlakuan seperti sekarang dari Bayu. Bayu adalah laki-laki penyayang dan luar biasa bagi Ghaida.
“Kamu harus kuat, Nak. Kamu tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Bayu tidak, tidak ninggalin kamu , dia, dia .. dia  cuma pergi sebentar menjenguk keluarganya. Mungkin, mungkin dia buru-buru sehingga tidak menghubungi kita lagi. Kamu jangan nangis ya, Da … ibu sedih kalau lihat kamu nangis,” Ibu ikut sedih, lalu memeluk Ghaida.
Mereka menangis berdua, merasakan kepedihan yang sama. 
“Ya Allah, apakah aku harus yang berkata sebenarnya pada anakku? Bahwa suaminya sudah meninggal karena kecelakaan itu. Dan membiarkan ia terluka sesaat menerima kenyataan pahit ini? Ya Allah, hamba tidak tahu harus bagaimana. Aku mohon petunjuk-Mu, berikan aku petunjuk untuk apa yang harus kulakukan,” Ibu memohon dalam hatinya. Berdoa agar ada jalan untuk Ghaida.
Tuhan memang punya caranya sendiri untuk membantu hambaNya. Menjawab doa hambaNya dengan cara-cara yang tak terduga. Sesaat, Ibu Ghaida melihat Bayu, atau lebih tepatnya Juna. Juna berdiri di luar pintu ruangan terapi. Untungnya posisi Ghaida membelakangi pintu terapi sehingga ia tidak melihat Juna di sana. Ibu serta merta melepaskan pelukannya dari Ghaida. Dan berpikir bahwa ada kesempatan kembali untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida.
“Ghaida, Ibu ke toilet sebentar yah. Kamu tunggu di sini ya. Ibu nanti kembali lagi,” pamit Ibunya sembari menghapus airmata Ghaida dari pipinya.
“Iya, Bu. Jangan lama-lama ya, Bu. Masih ada 1 sesi lagi terapi Ghaida.”
“Iya, Nak. Tunggu Ibu ya.”
Ibu beranjak dari duduknya, berjalan cepat menuju pintu. Juna yang bisa melihat Ibu Ghaida berjalan menuju pintu, berbalik arah dan hendak pergi dari sana. Tapi kali ini Ibu Ghaida tidak berdiam diri saja, ia mengikuti Juna. Dan memanggilnya.
“Nak Juna, sedang apa di sini?”  panggil Ibu, Juna berhenti. Terdiam sejenak, seperti sedang meyakinkan sesuatu pada dirinya sendirinya.
“Saya, saya ingin bicara, dengan Ibu,” ujar Juna  akhirnya.
“Kebetulan Ibu juga ada yang mau dibicarakan. Kita bisa bicara di cafeteria sebentar. Sambil minum kopi mungkin?” tawar Ibu Ghaida.
“Oke.”
Juna dan Ibu Ghaida menuju cafeteria, mereka duduk saling berhadapan. Tapi sudah hampir 5 menit, Juna hanya terdiam, memainkan sendok di dalam cangkir kopinya. Ibu Ghaida tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida. Jadi dia berbicara lebih dulu.
“Katanya Juna mau ada yang dibicarakan dengan Ibu? Ada apa ya? Kalau Juna tidak sampaikan lebih dulu, saya juga ingin menyampaikan sesuatu ke Juna.”
Juna berhenti memainkan sendok di cangkirnya, menghela nafas, dan mencoba duduk tegak.
“Iya, Bu. Ada yang mau saya bicarakan. Ini, ini tentang permintaan Ibu waktu itu,” mendengar apa yang mungkin dibicarakan Juna, Ibu Ghaida menjadi serius mendengarkan, dan di hatinya ia berharap hal yang baik akan terjadi, “Sebelumnya saya mau bertanya dulu, kenapa Ibu meminta saya waktu itu? Dan kenapa harus saya? Apakah hal itu tidak sama saja dengan membohongi putri Ibu?”
“Dalam hidup saya, semua yang saya lakukan untuk kebahagiaan keluarga saya. Terutama untuk putri saya satu-satunya. Ketika dia meminta untuk menikahi Bayu, saya yang pertama menolaknya, lalu saya melihat bahwa Ghaida menderita tanpa Bayu sisinya. Lantas saya menyerah dan menerima kenyataan bahwa memang Bayu yang bisa membahagiakan anak saya. Meski Bayu datang dengan segala kekurangannya, dia adalah anak yatim piatu, hidup dalam kesendirian selama beberapa tahun, tapi ternyata hanya dirinya yang bisa mengisi kekurangan hidup Ghaida. Hanya dengan Bayu, Ghaida bisa bahagia,” Ibu Ghaida membayangkan masa-masa ketika Ghaida baru menikahi Bayu. Juna bisa mulai merasakan yang dialami Ghaida saat menikahi Bayu dulu. Perasaan bersalah kembali mendatanginya.
“Setelah mereka menikah, saya baru bisa benar-benar percaya, memang Bayu adalah anugerah dalam hidup Ghaida. Mereka saling mencintai satu sama lain. Tidak pernah sekalipun Ghaida bicara tentang kesedihan ketika menikah dengan Bayu. Dan Bayu ternyata memang laki-laki yang baik,ramah, dan mudah bagi orang untuk menyukainya. Pekerjaannya di kapal, membuat mereka sering berpisah. Tapi meski begitu, hubungan keduanya tidak pernah merenggang, bahkan semakin terikat. Karena setiap kebersamaan yang mereka miliki, Bayu selalu memberikan kebahagiaan dan kenangan untuk Ghaida. Anak itu sudah memberi banyak kepada Ghaida. Tapi, tapi, karena kecelakaan naas itu, Bayu harus meninggalkan Ghaida. Dan …dan Ibu tahu, kepergian Bayu akan merenggut kebahagiaan Ghaida. Hanya akan membuat Ghaida terluka dan menderita. Ibu tidak ingin itu terjadi, Nak Juna. Tidak ada seorang Ibu pun yang akan membiarkan anaknya terluka ataupun menderita,” cerita Ibu Ghaida, berharap Juna membawa harapan hidup baru bagi anaknya.
“Meskipun apa yang saya minta merupakan sebuah kebohongan, tapi jika kebohongan itu bisa membawa kembali senyum dan bahagia Ghaida, saya akan melakukannya. Jadi itu alasan saya meminta bantuan ke Nak Juna. Jika Juna tidak bisa mengerti sekarang, tidak mengapa, karena suatu saat, ketika Juna menjadi orangtua, Juna akan tahu perasaan dan pikiran Ibu juga,” Ibu Ghaida menyadari memang tidak akan mudah meminta Juna untuk berpura-pura menjadi Bayu.
Juna terdiam, menarik nafas dan menghelanya pelan, “Saya bersedia, Bu. Saya bersedia membantu Ibu,” ujar Juna sungguh-sungguh. Entah apa yang merubah pikiran Juna, tapi saat ini mungkin bagi Juna ini hal yang benar bagi semuanya.
Ibu Ghaida terkejut mendengar pernyataan Juna, terlalu senang sehingga tidak tahu harus berkata apa, “Maksud Juna? Benarkah? Benar kamu mau membantu anak saya??”.
Juna mengangguk.
“Terimakasih Nak Juna, terimakasih sekali … semoga ini jalan yang terbaik bagi Ghaida.”
“Tapi Bu, bagaimana dengan orang-orang lain yang mengenal Bayu dan Ghaida, apakah tidak ada satu pun dari mereka yang memberitahu Ghaida bahwa Bayu sudah meninggal? Bagaimana kalau Ghaida nanti tahu yang sesungguhnya?”
“Tidak sampai saat ini. Saya dan Ayah Ghaida sudah memberitahu semua kerabat dan kenalan, untuk tidak membicarakan kematian Bayu ke Ghaida. Kami meminta mereka untuk menunggu saat yang tepat. Dan dengan kehadiran Nak Juna, Ibu akan mengatur semuanya, agar semua kembali seperti semula, seperti saat Bayu ada dulu.”
“Sampai kapan, Bu? Sampai kapan saya harus menjadi Bayu?”
“Sampai Ghaida siap, siap untuk menerima kenyataan bahwa Bayu sudah tidak ada di sisinya lagi. Tapi untuk saat ini hanya 2 minggu Juna menjadi Bayu. Bayu harus kembali bekerja 2 minggu lagi. Sampai 5  atau 6 bulan kemudian, baru Bayu kembali dari berlayar. Pasti ada jalan, untuk membuat Ghaida perlahan melupakan Bayu. Tanpa Bayu harus meninggalkannya, tanpa Ghaida  harus terluka dan menderita karena ditinggal Bayu lebih dulu,” Ibu Ghaida terlihat yakin dengan rencananya.
“Jadi sampai kapan waktunya, belum ada kepastian?”
“Maafkan Ibu Nak Juna, tapi Ibu juga tidak bisa memastikan. Karena itu saat kamu menjadi Bayu, kita harus bisa menyiapkan Ghaida. Membuatnya bisa bertahan hidup tanpa Bayu. Perlahan, Ghaida yang harus mulai melupakan Bayu, meninggalkan hidupnya dengan Bayu.”
“Jadi waktu saya untuk saat ini cukup 2 minggu saja?”
“Kita akan pikirkan nanti. Yang penting sekarang, Nak Juna membantu Ghaida untuk cepat pulih dari sakitnya. Karena Ibu yakin dengan adanya sosok Bayu di sampingnya, Ghaida akan punya semangat untuk sembuh. Dan akan tiba waktu yang tepat untuk Ghaida yang akan meninggalkan Bayu nanti. Saat itulah kamu bisa kembali menjadi Juna.”
“Apakah, apakah … Ghaida tidak akan apa-apa Bu?” entah kenapa Juna khawatir akan perasaan Ghaida jika suami yang dikiranya kembali bukanlah laki-laki yang sama.
“Ibu ingin yang terbaik untuk Ghaida. Lebih baik Ghaida tahu saat dia siap, tapi waktu itu bukan sekarang, dan yang pasti Ibu akan membantu Juna untuk menjadi seperti Bayu. Kita akan bicarakan lebih detail nanti.”
“Saya tidak akan tahu akan seperti apa nantinya. Tapi saya akan mencoba sebaik-baiknya. Jika memang itu bisa membuat Ghaida kembali seperti dulu,” ujar Juna, lebih kepada ingin menenangkan hatinya bahwa dirinya sudah sebisa mungkin menebus kesalahannya. 
“Mm, maaf Bu, kalau boleh saya bertanya, lalu bagaimana dengan orang yang sudah menabrak Bayu dan Ghaida?” kerongkongan Juna serasa tercekat ketika berkata ‘orang yang sudah menabrak’, karena hanya dirinya yang tahu saat itu, siapa yang sebenarnya yang melakukannya.
“Kami masih mencari informasi tentang dia, tapi sayang sekali waktu kejadian tidak ada satupun orang yang melihatnya. Ibu merasa tidak akan sanggup memaafkan orang itu jika pelakunya sudah ditemukan, dia sudah merenggut Bayu dari sisi Ghaida. Membuat Ghaida kehilangan laki-laki yang sangat dicintainya,…” terlihat rona kesedihan dan kekecewaan di raut wajah Ibu Ghaida. Juna pun merasa kaku mendengar bahwa kemungkinan ia tidak akan pernah dimaafkan oleh keluarga Ghaida. “Tapi yang terpenting bagi Ibu, adalah kesehatan dan kebahagiaan Ghaida. Cukup itu sekarang, Nak Juna, maka itu Ibu sangat, sangat berterimakasih karena Juna sudah bersedia menolong Ghaida. Entah apa yang bisa Ibu balas untuk kebaikan Juna. Untuk masalah imbalannya,” Ibu Ghaida berpikir Juna melakukan hal ini karena ada imbalannya.
“Imbalan?? Tidak Bu, saya, saya tidak menginginkan imbalan apa pun.”
Ibu kaget mendengar Juna tidak menginginkan imbalan apa pun, “Maksud Nak Juna, Nak Juna bersedia melakukan ini semua tanpa imbalan?? Lalu kenapa Juna mau melakukannya?”
“Seperti yang Ibu ceritakan sebelumnya. Karena saya juga ingin membantu Ghaida, mengembalikan kebahagiaannya, dan .. dan karena saya dulu pernah memiliki seorang teman perempuan yang ditinggal meninggal oleh suaminya, lalu dia sekarang hidup dalam kesedihan karena tidak bisa melupakannya,” ujar Juna tidak sepenuhnya jujur, karena hanya dia dan Al yang tahu alasan sebenarnya dia menerima tawaran Ibu Ghaida, “Meski saya tidak mengenal keluarga Ibu, tapi saya ingin membantu. Jadi saya harap Ibu tidak membicarakan tentang imbalan lagi nanti.”
Ibu Ghaida sedikit heran dengan Juna. Tapi dia tepis pikirannya karena dia merasa sudah menemukan jalan kembali untuk Ghaida.
“Baiklah Juna. Tapi Ibu tidak mau kamu menjalani kehidupan Bayu tanpa rasa terimakasih dari Ibu. Apa yang mungkin bisa Ibu berikan sebagai rasa terimakasih Ibu?”
Juna tidak tahu apa yang mau dia pinta, karena dia menerima tawaran ini semata-mata untuk menebus kesalahannya, ini hukumannya. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah keluarga Ghaida memaafkannya, memaafkan atas segala perbuatan lalainya sehingga membuat Bayu meninggal.
“Buat saya, jika Ibu dan keluarga bisa memaafkan, memaafkan orang itu … itu sudah cukup bagi saya.. karena saya tahu, rasa tidak memaafkan itu akan merugikan diri kita sendiri, dan bagi saya itu cukup,” Juna mencoba kesempatannya.
“Maksud Juna apa? Juna mau kami melupakan begitu saja perbuatan orang gila yang menabrak Bayu dan Ghaida?” Ibu terkejut mendengar permintaan Juna. Juna mengangguk pelan, tangannya terkepal di atas meja, berharap bahwa ia bisa memanfaatkan peluang agar keluarga Ghaida memaafkannya.
“Tidak bisa! Selamanya saya tidak bisa memaafkan orang itu! Kalau dia datang dan mengaku, atau setidaknya membawa anak-anak kami ke rumah sakit dengan segera, mungkin Ibu masih ada hati untuk memaafkannya. Tapi tidak! Tidak akan. Karena orang itu adalah pengecut yang lari dari tanggungjawabnya. Bagaimana mungkin Juna bisa meminta Ibu melakukan hal itu???” Ibu Ghaida sama sekali tidak habis pikir dengan permintaan Juna. Tanpa Ibu tahu yang sebenarnya kalau Juna sedang berusaha meminta maaf atas perbuatannya sendiri.
Hati Juna berdebar mendengar kata-kata Ibu Ghaida. Semua yang dikatakannya memang benar adanya. Tapi, Juna bukan lari dari tanggungjawabnya. Dan itu ia buktikan dengan bersedia membantu Ibu Ghaida, menebus kesalahannya. Jika memang seumur hidup dia menjadi Bayu, asal bisa menebus kesalahannya dan mendapatkan maaf dari keluarga ini, Juna pun sanggup.
“Maafkan saya, Bu. Maaf jika saya sudah membuat Ibu tersinggung dengan permintaan saya. Tapi bagi saya, punya perasaan tidak memaafkan itu tidak akan membawa kebaikan apa pun. Jika memang Ibu tidak bisa, maka mohon maaf sekali, saya rasa saya tidak sanggup menjadi Bayu. Maaf sekali Bu, ini memang bukan urusan saya, tapi saya merasa tidak enak jika nanti saya harus merasakan hal yang serupa, hal dalam sulit untuk memaafkan.”
Ibu kaget, harapan satu-satunya, kesempatannya, untuk membawa Ghaida bahagia yang tadi sudah di depan mata, mengurungkan niatnya. Ibu terdiam. Berpikir ulang. Ibu merasa Juna, orang asing yang baru dikenal, mau menukar kehidupannya dengan kehidupan Bayu. Urusan pelaku tabrak lain itu hal berbeda dengan Juna, dan Ibu juga tidak mau Juna terseret ke dalam masalah itu nantinya. Tanpa Ibu tahu, Juna sendirilah yang membawa masalah itu.
“Baiklah Nak Juna, tapi kita sama-sama tahu bahwa ini bukan perkara yang mudah. Jika Juna bisa menjalani ini dengan baik, Ibu akan mencobanya, mencoba melupakannya… tapi Ibu tidak tahu dengan Ghaida, apakah ia rela memaafkan orang yang sudah membuat Bayu pergi, kehilangan Bayu saja sudah berat bagi dia, Ibu tidak bisa menjamin itu…”.
Juna tahu pasti akan sangat sulit mendapatkan maaf Ghaida. Tapi setidaknya Juna bisa sedikit lega karena masih ada harapan. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjadi Bayu sebaik-baiknya. Sampai waktu yang belum ditentukan. Juna harus rela melepaskan kehidupannya sebagai Juna dan menjadi Bayu demi kebaikannya, kebaikan Ghaida dan keluarganya. Hanya dengan itu Juna akan lebih tenang dalam hidupnya.
“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan untuk langkah awal menjadi Bayu?” tanya Juna mantap. Berdoa dalam hati agar semua masalah yang disebabkannya bisa cepat selesai.
Ibu tersenyum lega, dan mulai menjelaskan apa yang harus Juna lakukan. Pertama Ibu menceritakan tentang Bayu. Siapa Bayu, keluarga Bayu yang ternyata sudah tidak memiliki orangtua lagi, juga tentang pekerjaan Bayu, cerita tentang pertemuannya dengan Ghaida, dan semua hal yang terkait Bayu. Juna terkejut kalau sosok Bayu adalah sosok yang benar-benar berbeda dari dirinya. Bayu adalah orang yang sederhana, dan hidupnya tidak lebih baik dari Juna. Karena Bayu bukan dari keluarga berada seperti Juna. Bayu seorang awak kapal, pekerja keras, dan terbiasa hidup sendiri dan mandiri. Sedangkan Juna? Pekerjaan yang bagus dan mapan sudah disodorkan oleh Papanya sendiri di perusahaannya, tapi Juna lebih memilih hidup bebas, tidak bekerja, dan hanya bermain musik dengan teman-temannya. Juna jadi ragu apakah dia bisa menjadi sosok yang baik seperti Bayu? Bisakah dia meyakinkan Ghaida bahwa dirinya lah ‘suami’ yang ditunggunya? Juna tidak tahu, dan tidak bisa menerka apa yang terjadi. Dan baru kali ini, Juna benar-benar berharap dan berdoa bahwa semuanya akan berjalan lancar, baik sesuai rencana Ibu Ghaida dan dirinya.
[TO BE CONTINUED]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar