PART 4 : BACK FOR GOOD
Sudah 3 hari sejak Ghaida
bertemu dengan Juna. Tak seharipun di lewatkan Ghaida untuk menanyakan tentang
Bayu kepada Ibunya. Ibu masih berusaha berkelit. Karena Ibu sendiri tidak tahu
harus menjawab apa. Hari ini Ghaida sedang menjalani terapi pada kakinya. Kaki
kirinya mengalami cedera, dan dia harus berjalan menggunakan tongkat kruk atau
kursi roda sementara waktu. Ghaida terpukul dengan kondisinya ini, terlebih
lagi dia berpikir bahwa Bayu mungkin akan meninggalkannya karena kondisi Ghaida
sekarang sudah tidak sempurna. Terbukti dengan ketidakhadiran suaminya itu di
rumah sakit. Meski memang sebenarnya Bayu sudah tidak ada, tapi Juna-lah
yang dilihat dan dikira Ghaida adalah suaminya. Ghaida sama sekali tidak
bersemangat untuk menjalani terapi hari ini. Dia mulai merasa sedih, karena
tidak mendengar kabar apa pun dari Bayu. Dia coba hubungi telepon genggam Bayu,
tapi tidak pernah diangkat. Ghaida pun lelah bertanya pada Ibu yang selalu
berkelit dan memberikan jawaban yang tidak Ghaida harapkan. Ghaida curiga, ada
sesuatu yang Ibu sembunyikan.
“Bu, ada apa sebenarnya?
Tolong jujur sama Ghaida,Bu. Ghaida sudah tidak punya cukup tenaga untuk
menunggu kabar dari Mas Bayu, tapi Ibu juga tidak membantu Ghaida,” tanya
Ghaida kepada Ibunya yang menemani Ghaida di ruangan terapi, di sela-sela
terapi Ghaida.
“Iya, Da. Ibu sudah bilang
ke Ghaida kan, Bayu kemarin ijin sama Ibu, harus pergi dulu sebentar ke
Bandung. Mengunjungi bibinya yang katanya sakit dan minta Bayu ke sana. Ibu
juga belum dapat kabar apa-apa dari Bayu, Da.”
“Gak mungkin, Bu. Masa Mas
Bayu pergi di saat kondisi Ghaida butuh dia sekarang ini? Mas Bayu gak akan
melakukan hal itu, Mas Bayu pasti setidaknya bicara dulu ke Ghaida, Bu. Tidak
langsung pergi gitu aja. Pasti ini ada sesuatu ya, Bu? Benar ya Bu?”
desak Ghaida. Ibu mulai gugup. Ghaida cukup gigih untuk mengetahui
keberadaan suaminya.
“Tidak, Da. Tidak ada
sesuatu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu harus konsentrasi untuk
sembuh ya, Nak. Kalau kamu seperti ini terus, kamu akan lebih lama
penyembuhannya.”
“Bagaimana Ghaida bisa
berkonsentrasi, kalau, kalau.. semua pikiran ini tertuju ke Mas Bayu, Bu,”
Ghaida mulai terisak, sedih menerima kenyataan suaminya seakan tidak peduli
akan keadaannya sejak kecelakaan itu terjadi, “Ghaida gak bisa benar-benar
tenang kalau Ghaida tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Mas Bayu. Ghaida
seperti ini bukan karena keinginan Ghaida, Bu. Ghaida masih berusaha menerima
kondisi Ghaida seperti ini, tapi, tapi tidak dengan tanpa Mas Bayu .. harusnya
Mas Bayu ada di sini, dia harusnya di sini, Bu. Di sini, di sisi Ghaida,
bukannya malah pergi .. pergi ninggalin Ghaida .. apa salah Ghaida, Bu??”
Ghaida menangis, hatinya terasa pedih. Dia punya firasat bahwa Bayu sengaja
menjauhinya karena sekarang Ghaida belum bisa jalan lagi karena cedera kakinya.
Dia sebelumnya tidak pernah menerima perlakuan seperti sekarang dari Bayu. Bayu
adalah laki-laki penyayang dan luar biasa bagi Ghaida.
“Kamu harus kuat, Nak.
Kamu tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Bayu tidak, tidak ninggalin kamu
, dia, dia .. dia cuma pergi sebentar menjenguk keluarganya. Mungkin,
mungkin dia buru-buru sehingga tidak menghubungi kita lagi. Kamu jangan nangis
ya, Da … ibu sedih kalau lihat kamu nangis,” Ibu ikut sedih, lalu memeluk
Ghaida.
Mereka menangis berdua,
merasakan kepedihan yang sama.
“Ya Allah, apakah aku harus yang berkata sebenarnya pada anakku?
Bahwa suaminya sudah meninggal karena kecelakaan itu. Dan membiarkan ia terluka
sesaat menerima kenyataan pahit ini? Ya Allah, hamba tidak tahu harus
bagaimana. Aku mohon petunjuk-Mu, berikan aku petunjuk untuk apa yang harus
kulakukan,”
Ibu memohon dalam hatinya. Berdoa agar ada jalan untuk Ghaida.
Tuhan memang punya caranya
sendiri untuk membantu hambaNya. Menjawab doa hambaNya dengan cara-cara yang
tak terduga. Sesaat, Ibu Ghaida melihat Bayu, atau lebih tepatnya Juna. Juna
berdiri di luar pintu ruangan terapi. Untungnya posisi Ghaida membelakangi
pintu terapi sehingga ia tidak melihat Juna di sana. Ibu serta merta melepaskan
pelukannya dari Ghaida. Dan berpikir bahwa ada kesempatan kembali untuk
mengembalikan kebahagiaan Ghaida.
“Ghaida, Ibu ke toilet
sebentar yah. Kamu tunggu di sini ya. Ibu nanti kembali lagi,” pamit Ibunya
sembari menghapus airmata Ghaida dari pipinya.
“Iya, Bu. Jangan lama-lama
ya, Bu. Masih ada 1 sesi lagi terapi Ghaida.”
“Iya, Nak. Tunggu Ibu ya.”
Ibu beranjak dari
duduknya, berjalan cepat menuju pintu. Juna yang bisa melihat Ibu Ghaida
berjalan menuju pintu, berbalik arah dan hendak pergi dari sana. Tapi kali ini
Ibu Ghaida tidak berdiam diri saja, ia mengikuti Juna. Dan memanggilnya.
“Nak Juna, sedang apa di
sini?” panggil Ibu, Juna berhenti. Terdiam sejenak, seperti sedang
meyakinkan sesuatu pada dirinya sendirinya.
“Saya, saya ingin bicara,
dengan Ibu,” ujar Juna akhirnya.
“Kebetulan Ibu juga ada
yang mau dibicarakan. Kita bisa bicara di cafeteria sebentar. Sambil minum kopi
mungkin?” tawar Ibu Ghaida.
“Oke.”
Juna dan Ibu Ghaida menuju
cafeteria, mereka duduk saling berhadapan. Tapi sudah hampir 5 menit, Juna
hanya terdiam, memainkan sendok di dalam cangkir kopinya. Ibu Ghaida tidak mau
melewatkan kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida. Jadi dia
berbicara lebih dulu.
“Katanya Juna mau ada yang
dibicarakan dengan Ibu? Ada apa ya? Kalau Juna tidak sampaikan lebih dulu, saya
juga ingin menyampaikan sesuatu ke Juna.”
Juna berhenti memainkan
sendok di cangkirnya, menghela nafas, dan mencoba duduk tegak.
“Iya, Bu. Ada yang mau
saya bicarakan. Ini, ini tentang permintaan Ibu waktu itu,” mendengar apa yang
mungkin dibicarakan Juna, Ibu Ghaida menjadi serius mendengarkan, dan di
hatinya ia berharap hal yang baik akan terjadi, “Sebelumnya saya mau bertanya
dulu, kenapa Ibu meminta saya waktu itu? Dan kenapa harus saya? Apakah hal itu
tidak sama saja dengan membohongi putri Ibu?”
“Dalam hidup saya, semua
yang saya lakukan untuk kebahagiaan keluarga saya. Terutama untuk putri saya
satu-satunya. Ketika dia meminta untuk menikahi Bayu, saya yang pertama
menolaknya, lalu saya melihat bahwa Ghaida menderita tanpa Bayu sisinya. Lantas
saya menyerah dan menerima kenyataan bahwa memang Bayu yang bisa membahagiakan
anak saya. Meski Bayu datang dengan segala kekurangannya, dia adalah anak yatim
piatu, hidup dalam kesendirian selama beberapa tahun, tapi ternyata hanya
dirinya yang bisa mengisi kekurangan hidup Ghaida. Hanya dengan Bayu, Ghaida
bisa bahagia,” Ibu Ghaida membayangkan masa-masa ketika Ghaida baru menikahi
Bayu. Juna bisa mulai merasakan yang dialami Ghaida saat menikahi Bayu dulu.
Perasaan bersalah kembali mendatanginya.
“Setelah mereka menikah,
saya baru bisa benar-benar percaya, memang Bayu adalah anugerah dalam hidup
Ghaida. Mereka saling mencintai satu sama lain. Tidak pernah sekalipun Ghaida
bicara tentang kesedihan ketika menikah dengan Bayu. Dan Bayu ternyata memang
laki-laki yang baik,ramah, dan mudah bagi orang untuk menyukainya. Pekerjaannya
di kapal, membuat mereka sering berpisah. Tapi meski begitu, hubungan keduanya
tidak pernah merenggang, bahkan semakin terikat. Karena setiap kebersamaan yang
mereka miliki, Bayu selalu memberikan kebahagiaan dan kenangan untuk Ghaida.
Anak itu sudah memberi banyak kepada Ghaida. Tapi, tapi, karena kecelakaan naas
itu, Bayu harus meninggalkan Ghaida. Dan …dan Ibu tahu, kepergian Bayu akan
merenggut kebahagiaan Ghaida. Hanya akan membuat Ghaida terluka dan menderita.
Ibu tidak ingin itu terjadi, Nak Juna. Tidak ada seorang Ibu pun yang akan
membiarkan anaknya terluka ataupun menderita,” cerita Ibu Ghaida, berharap Juna
membawa harapan hidup baru bagi anaknya.
“Meskipun apa yang saya
minta merupakan sebuah kebohongan, tapi jika kebohongan itu bisa membawa
kembali senyum dan bahagia Ghaida, saya akan melakukannya. Jadi itu alasan saya
meminta bantuan ke Nak Juna. Jika Juna tidak bisa mengerti sekarang, tidak
mengapa, karena suatu saat, ketika Juna menjadi orangtua, Juna akan tahu
perasaan dan pikiran Ibu juga,” Ibu Ghaida menyadari memang tidak akan mudah
meminta Juna untuk berpura-pura menjadi Bayu.
Juna terdiam, menarik
nafas dan menghelanya pelan, “Saya bersedia, Bu. Saya bersedia membantu Ibu,”
ujar Juna sungguh-sungguh. Entah apa yang merubah pikiran Juna, tapi saat ini
mungkin bagi Juna ini hal yang benar bagi semuanya.
Ibu Ghaida terkejut
mendengar pernyataan Juna, terlalu senang sehingga tidak tahu harus berkata
apa, “Maksud Juna? Benarkah? Benar kamu mau membantu anak saya??”.
Juna mengangguk.
“Terimakasih Nak Juna,
terimakasih sekali … semoga ini jalan yang terbaik bagi Ghaida.”
“Tapi Bu, bagaimana dengan
orang-orang lain yang mengenal Bayu dan Ghaida, apakah tidak ada satu pun dari
mereka yang memberitahu Ghaida bahwa Bayu sudah meninggal? Bagaimana kalau
Ghaida nanti tahu yang sesungguhnya?”
“Tidak sampai saat ini.
Saya dan Ayah Ghaida sudah memberitahu semua kerabat dan kenalan, untuk tidak
membicarakan kematian Bayu ke Ghaida. Kami meminta mereka untuk menunggu saat
yang tepat. Dan dengan kehadiran Nak Juna, Ibu akan mengatur semuanya, agar
semua kembali seperti semula, seperti saat Bayu ada dulu.”
“Sampai kapan, Bu? Sampai
kapan saya harus menjadi Bayu?”
“Sampai Ghaida siap, siap
untuk menerima kenyataan bahwa Bayu sudah tidak ada di sisinya lagi. Tapi untuk
saat ini hanya 2 minggu Juna menjadi Bayu. Bayu harus kembali bekerja 2 minggu
lagi. Sampai 5 atau 6 bulan kemudian, baru Bayu kembali dari berlayar.
Pasti ada jalan, untuk membuat Ghaida perlahan melupakan Bayu. Tanpa Bayu harus
meninggalkannya, tanpa Ghaida harus terluka dan menderita karena
ditinggal Bayu lebih dulu,” Ibu Ghaida terlihat yakin dengan rencananya.
“Jadi sampai kapan
waktunya, belum ada kepastian?”
“Maafkan Ibu Nak Juna,
tapi Ibu juga tidak bisa memastikan. Karena itu saat kamu menjadi Bayu, kita
harus bisa menyiapkan Ghaida. Membuatnya bisa bertahan hidup tanpa Bayu.
Perlahan, Ghaida yang harus mulai melupakan Bayu, meninggalkan hidupnya dengan
Bayu.”
“Jadi waktu saya untuk
saat ini cukup 2 minggu saja?”
“Kita akan pikirkan nanti.
Yang penting sekarang, Nak Juna membantu Ghaida untuk cepat pulih dari
sakitnya. Karena Ibu yakin dengan adanya sosok Bayu di sampingnya, Ghaida akan
punya semangat untuk sembuh. Dan akan tiba waktu yang tepat untuk Ghaida yang
akan meninggalkan Bayu nanti. Saat itulah kamu bisa kembali menjadi Juna.”
“Apakah, apakah … Ghaida
tidak akan apa-apa Bu?” entah kenapa Juna khawatir akan perasaan Ghaida jika
suami yang dikiranya kembali bukanlah laki-laki yang sama.
“Ibu ingin yang terbaik
untuk Ghaida. Lebih baik Ghaida tahu saat dia siap, tapi waktu itu bukan
sekarang, dan yang pasti Ibu akan membantu Juna untuk menjadi seperti Bayu.
Kita akan bicarakan lebih detail nanti.”
“Saya tidak akan tahu akan
seperti apa nantinya. Tapi saya akan mencoba sebaik-baiknya. Jika memang itu
bisa membuat Ghaida kembali seperti dulu,” ujar Juna, lebih kepada ingin
menenangkan hatinya bahwa dirinya sudah sebisa mungkin menebus
kesalahannya.
“Mm, maaf Bu, kalau boleh
saya bertanya, lalu bagaimana dengan orang yang sudah menabrak Bayu dan
Ghaida?” kerongkongan Juna serasa tercekat ketika berkata ‘orang yang sudah
menabrak’, karena hanya dirinya yang tahu saat itu, siapa yang sebenarnya yang
melakukannya.
“Kami masih mencari
informasi tentang dia, tapi sayang sekali waktu kejadian tidak ada satupun
orang yang melihatnya. Ibu merasa tidak akan sanggup memaafkan orang itu jika
pelakunya sudah ditemukan, dia sudah merenggut Bayu dari sisi Ghaida. Membuat
Ghaida kehilangan laki-laki yang sangat dicintainya,…” terlihat rona kesedihan
dan kekecewaan di raut wajah Ibu Ghaida. Juna pun merasa kaku mendengar bahwa
kemungkinan ia tidak akan pernah dimaafkan oleh keluarga Ghaida. “Tapi yang
terpenting bagi Ibu, adalah kesehatan dan kebahagiaan Ghaida. Cukup itu
sekarang, Nak Juna, maka itu Ibu sangat, sangat berterimakasih karena Juna
sudah bersedia menolong Ghaida. Entah apa yang bisa Ibu balas untuk kebaikan
Juna. Untuk masalah imbalannya,” Ibu Ghaida berpikir Juna melakukan hal ini
karena ada imbalannya.
“Imbalan?? Tidak Bu, saya,
saya tidak menginginkan imbalan apa pun.”
Ibu kaget mendengar Juna
tidak menginginkan imbalan apa pun, “Maksud Nak Juna, Nak Juna bersedia
melakukan ini semua tanpa imbalan?? Lalu kenapa Juna mau melakukannya?”
“Seperti yang Ibu
ceritakan sebelumnya. Karena saya juga ingin membantu Ghaida, mengembalikan
kebahagiaannya, dan .. dan karena saya dulu pernah memiliki seorang teman
perempuan yang ditinggal meninggal oleh suaminya, lalu dia sekarang hidup dalam
kesedihan karena tidak bisa melupakannya,” ujar Juna tidak sepenuhnya jujur,
karena hanya dia dan Al yang tahu alasan sebenarnya dia menerima tawaran Ibu
Ghaida, “Meski saya tidak mengenal keluarga Ibu, tapi saya ingin membantu. Jadi
saya harap Ibu tidak membicarakan tentang imbalan lagi nanti.”
Ibu Ghaida sedikit heran
dengan Juna. Tapi dia tepis pikirannya karena dia merasa sudah menemukan jalan
kembali untuk Ghaida.
“Baiklah Juna. Tapi Ibu
tidak mau kamu menjalani kehidupan Bayu tanpa rasa terimakasih dari Ibu. Apa
yang mungkin bisa Ibu berikan sebagai rasa terimakasih Ibu?”
Juna tidak tahu apa yang
mau dia pinta, karena dia menerima tawaran ini semata-mata untuk menebus
kesalahannya, ini hukumannya. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah keluarga
Ghaida memaafkannya, memaafkan atas segala perbuatan lalainya sehingga membuat
Bayu meninggal.
“Buat saya, jika Ibu dan
keluarga bisa memaafkan, memaafkan orang itu … itu sudah cukup bagi saya..
karena saya tahu, rasa tidak memaafkan itu akan merugikan diri kita sendiri,
dan bagi saya itu cukup,” Juna mencoba kesempatannya.
“Maksud Juna apa? Juna mau
kami melupakan begitu saja perbuatan orang gila yang menabrak Bayu dan Ghaida?”
Ibu terkejut mendengar permintaan Juna. Juna mengangguk pelan, tangannya
terkepal di atas meja, berharap bahwa ia bisa memanfaatkan peluang agar
keluarga Ghaida memaafkannya.
“Tidak bisa! Selamanya
saya tidak bisa memaafkan orang itu! Kalau dia datang dan mengaku, atau
setidaknya membawa anak-anak kami ke rumah sakit dengan segera, mungkin Ibu
masih ada hati untuk memaafkannya. Tapi tidak! Tidak akan. Karena orang itu
adalah pengecut yang lari dari tanggungjawabnya. Bagaimana mungkin Juna bisa
meminta Ibu melakukan hal itu???” Ibu Ghaida sama sekali tidak habis pikir
dengan permintaan Juna. Tanpa Ibu tahu yang sebenarnya kalau Juna sedang
berusaha meminta maaf atas perbuatannya sendiri.
Hati Juna berdebar
mendengar kata-kata Ibu Ghaida. Semua yang dikatakannya memang benar adanya.
Tapi, Juna bukan lari dari tanggungjawabnya. Dan itu ia buktikan dengan
bersedia membantu Ibu Ghaida, menebus kesalahannya. Jika memang seumur hidup
dia menjadi Bayu, asal bisa menebus kesalahannya dan mendapatkan maaf dari
keluarga ini, Juna pun sanggup.
“Maafkan saya, Bu. Maaf
jika saya sudah membuat Ibu tersinggung dengan permintaan saya. Tapi bagi saya,
punya perasaan tidak memaafkan itu tidak akan membawa kebaikan apa pun. Jika
memang Ibu tidak bisa, maka mohon maaf sekali, saya rasa saya tidak sanggup
menjadi Bayu. Maaf sekali Bu, ini memang bukan urusan saya, tapi saya merasa
tidak enak jika nanti saya harus merasakan hal yang serupa, hal dalam sulit untuk
memaafkan.”
Ibu kaget, harapan
satu-satunya, kesempatannya, untuk membawa Ghaida bahagia yang tadi sudah di
depan mata, mengurungkan niatnya. Ibu terdiam. Berpikir ulang. Ibu merasa Juna,
orang asing yang baru dikenal, mau menukar kehidupannya dengan kehidupan Bayu.
Urusan pelaku tabrak lain itu hal berbeda dengan Juna, dan Ibu juga tidak mau
Juna terseret ke dalam masalah itu nantinya. Tanpa Ibu tahu, Juna sendirilah
yang membawa masalah itu.
“Baiklah Nak Juna, tapi
kita sama-sama tahu bahwa ini bukan perkara yang mudah. Jika Juna bisa
menjalani ini dengan baik, Ibu akan mencobanya, mencoba melupakannya… tapi Ibu
tidak tahu dengan Ghaida, apakah ia rela memaafkan orang yang sudah membuat
Bayu pergi, kehilangan Bayu saja sudah berat bagi dia, Ibu tidak bisa menjamin
itu…”.
Juna tahu pasti akan
sangat sulit mendapatkan maaf Ghaida. Tapi setidaknya Juna bisa sedikit lega
karena masih ada harapan. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjadi Bayu
sebaik-baiknya. Sampai waktu yang belum ditentukan. Juna harus rela melepaskan
kehidupannya sebagai Juna dan menjadi Bayu demi kebaikannya, kebaikan Ghaida
dan keluarganya. Hanya dengan itu Juna akan lebih tenang dalam hidupnya.
“Kalau begitu, apa yang
harus saya lakukan untuk langkah awal menjadi Bayu?” tanya Juna mantap. Berdoa
dalam hati agar semua masalah yang disebabkannya bisa cepat selesai.
Ibu tersenyum lega, dan
mulai menjelaskan apa yang harus Juna lakukan. Pertama Ibu menceritakan tentang
Bayu. Siapa Bayu, keluarga Bayu yang ternyata sudah tidak memiliki orangtua
lagi, juga tentang pekerjaan Bayu, cerita tentang pertemuannya dengan Ghaida,
dan semua hal yang terkait Bayu. Juna terkejut kalau sosok Bayu adalah sosok
yang benar-benar berbeda dari dirinya. Bayu adalah orang yang sederhana, dan
hidupnya tidak lebih baik dari Juna. Karena Bayu bukan dari keluarga berada
seperti Juna. Bayu seorang awak kapal, pekerja keras, dan terbiasa hidup
sendiri dan mandiri. Sedangkan Juna? Pekerjaan yang bagus dan mapan sudah
disodorkan oleh Papanya sendiri di perusahaannya, tapi Juna lebih memilih hidup
bebas, tidak bekerja, dan hanya bermain musik dengan teman-temannya. Juna jadi
ragu apakah dia bisa menjadi sosok yang baik seperti Bayu? Bisakah dia
meyakinkan Ghaida bahwa dirinya lah ‘suami’ yang ditunggunya? Juna tidak tahu,
dan tidak bisa menerka apa yang terjadi. Dan baru kali ini, Juna benar-benar
berharap dan berdoa bahwa semuanya akan berjalan lancar, baik sesuai rencana
Ibu Ghaida dan dirinya.
[TO BE CONTINUED]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar