PART 1 : MEET YOU
Bandung, 1 November 2013
Suasana kota Bandung hari ini cukup sejuk. Langit biru berhiaskan oleh
arakan cantik awan putih yang menggumpal. Terik matahari tak terasa, karena sejuknya awan meredam kehangatannya. Semilir angin penghujan menambah nuansa
kesejukan. Pada bulan-bulan akhir tahun seperti ini, Bandung sering diguyur
hujan, namun terkadang tidak sampai hujan deras. Dan cuaca seperti ini
merupakan cuaca paling favorit buat seorang gadis yang tengah duduk di bangku
taman kampus siang ini. Sambil menikmati sekotak teh kotak, tangannya sibuk
menggerak-gerakkan pulpennya di atas kertas tulis. Sesekali matanya beranjak
dari buku, melihat sekelilingnya, berdiam sejenak sambil berusaha menemukan ide
untuk ceritanya. Dia terbiasa meluangkan waktu kosongnya untuk menulis, ini
sudah menjadi kebiasaannya sejak SMP. Ritual menulis ini harus dilakukannya seorang diri, hanya ditemani oleh buku dan pensil, ditambah musik dan cemilan.
Untuk tempat ritual pun harus gonta-ganti, tidak boleh sama. Satu waktu di
kelas, waktu lain bisa di taman kampus, atap gedung, perpustakaan, atau di mana
saja yang dapat menghadirkan inspirasi baginya. Ritual inilah yang sedang dilakukan gadis bernama Anky di taman kampusnya. Sejatinya ritual ini dilalui Anky dalam ketenangan kalau misal suara
cempreng itu tidak mengganggunya.
"Annnnnkyyyyy
sahabatkuuu," Anky memgalihkan pandangannya ke arah suara itu. Sahabatnya
sejak SMA dulu,yang paling berisik, paling cerewet, paling doyan makan, tapi paling mengerti siapa Anky, dia Mila,
datang dari arah gedung kampus.
"Ya
ampun Mila, lo udah masuk kuliah? Udah selesai liburannya?"
Mila
duduk disamping Anky, "Udah dong.. kemarin gue baliknya.. Ngapain lo di
sini Ky? Lagi ritual ya?" tebak Mila sambil melihat buku ajaibnya Anky di
depannya.
"He
eh.. lagi mau rampungin novel nih, belum selesai-selesai. Udah ditanyain Mbak
Linda sih kapan mau masukin story lagi ke sana .
Tapi gak tahu nih, lagi mentok gue Mil."
"Mmm..
emang lagi bikin novel tentang apa sih? istimewa banget kayaknya?"
"Martabak
kalii..istimewa," canda Anky ringan.
"Iii..orang
serius ditanya sih..emang novel apaan sih Ky? Perasaan dulu lo cuma bikin
cerpen doang deh..kok jadi novel sekarang?"
"Gimana
ya? Lagi mau coba ngembangin tulisan gue aja Mil."
"Emang
bisa ngembang?"
"Bisa.
Lo aja bisa ngembang, tuh liat habis liburan pipinya makin ngembang, hahahaaa.."
Anky meledek Mila yang memang memiliki pipi yang tembem.
"Ankyyyyyy..kan gue udah diet..masa
sih masih gendut?" Mila merajuk.
"Enggak..enggak
kok..becanda gue.."
"Trus
novelnya tentang apa sih? sampai gue juga belum dikasih baca draftnya?
Penasaran nihh.. kasih tahu dong..ya..ya."
"Mmm,
yaa gimana ya? Habis gue belum pede kasih liat lo.. gue lagi buat novel tentang
cinta, tentang hubungan."
"Tentang
cinta? Pacaran? Cowok cewek? Iya?" Mila terlihat tidak percaya.
"Mmm..kind of..kenapa emangnya? Kok kayak gak
percayaan sih?"
"Yaa
selama ini cerpen lo kan
tentang persahabatan, sosial, gak gubris-gubris masalah pacaran, apalagi
cinta."
"Iya
sih. Makanya gue mau coba buat Mil. Mbak Linda juga lagi butuh tema ini buat
diterbitin di penerbitan. Gimana Mil menurut lo?"
"Bagus
dong. Tema cinta tuh general banget. Gampang. Lo pasti bisa deh Ky. Tapi..ngg..,"
Mila berhenti sejenak, belum yakin mengeluarkan pernyataannya ke Anky.
"Tapi
kenapa?"
"Tapi...lo
kan ..belum
pernah pacaran Ky. .gimana
lo mau nulis cerita tentang cinta,tentang hubungan cowok dan cewek Ky??"
Mila bicara cukup hati-hati takuet menyinggung Anky.
Anky diam
sejenak. Dirinya mau berkelit tapi dalam hatinya dia tahu perkataan Mila ada
benarnya.
"Nngg..iya
sih Mil..tapi kan
bukan berarti kalau gue belum pernah pacaran terus gak tau tentang pacaran. Gue
kan bisa
riset. Tanya ke lo misal. Atau ke pasangan lain yang lagi punya hubungan serius
misal. Bisa kan ?"
"Yaa
bisa sih..tapi kan
kalau lo ngalamin sendiri, pasti rasanya beda deh. Iya kan ? Mungkin karena itu Ky, lo mentok belum
dapat inspirasi. Karena jiwa lo belum tahu apa yang lo tulis, hati lo dan
pikiran lo belum tahu rasanya cinta, gue benar gak?" Mila mencoba
menalarkan.
"Yaa..
mungkin sih Mil. Tapi kan lo tahu...gue punya
prinsip kan ?"
"Tahu
lah. Tahu banget malah. Lo gak mau pacaran. Iya kan ?? Masih belum mau berubah pikiran Ky? Lo
yakin gak mau pacaran??"
"Nope..
duh kayaknya bahasan ini udah panjang gue jelasin deh Milllll... I' m not ready
to felt the pain, heartbreaking or kind of that.. capek kayaknya Mil..enakan
gini ahh," Anky berargumen.
"Lo
sih cuma lihat negatifnya aja. Kan
jatuh cinta gak mesti sakit hati selalu Ky. Jatuh cinta tuh indah lagi.
"Tapi
ya Ky, percaya deh..lo akan lebih gampang rampungin novel ini kalau lo sendiri
yang jalanin.."
"Aaa..udah
ah ngomongin novelnya. Pokoknya gue bakal rampungin novel ini. Tenang aja. By
the way oleh-oleh buat gue mana nih??"
"Yaaa
kirain lupa hehe..tenang Ankyyy...nih gue beliin lo."
Mila
mengeluarkan bungkusan dari tasnya, "Waa makasih ya Mil,bagus nih
oleh-olehnya."
"Iya,
gue inget lo suka sama owl things, jadi gue beliin kaos ini aja deh."
Anky dan
Mila sedang sama-sama melihat oleh-oleh dari Mila, tiba-tiba handphone Mila
bunyi.
"Hallo,
ya ini Mila.. ini..siapa..hah? Kak Ano? beneran ini? Ya ampunnnn.. oke oke.. iya
bener, Kak Ano jalan aja dari BIP ke arah dago aja..iya bener.. oke.. gue
tunggu ya, oke...sip sip.. bye," Mila mematikan handphonenya kembali.
"Siapa
Mil? heboh banget kayaknya?" tanya Anky setelah lihat Mila.
"Iya
heboh. Dan bentar lagi kampus kita juga pasti heboh banget deh."
"Lho
apa hubungannya sama kampus?? Emang siapa sih yang telpon barusan? Cowok
baru?"
"Bukaaaaannnn...
sepupu gue, Ryano. Dia lagi di Bandung ."
"Oohh..sepupu
yang mana ya? Kok gue gak pernah tahu sih?"
"Sepupu
jauuuhhhhhh..hehe..masih saudara sih.. selama ini dia tinggal di Jakarta . Neneknya dia
kakaknya nenek gue..kita udah lama banget gak ketemuan.. terakhir pas dia
ngelanjutin kuliah di Aussie 4 tahun yang lalu,
pas kita masuk SMA."
"Oooo..pantesan
gue gak pernah tahu. Terus dia mau ketemu lo?"
"Iya.
Dia kebetulan ada shooting .. eh..," Mila berhenti bicara. Lalu mengernyit
sambil melihat reaksi Anky. Mila tahu banget ada satu hal lagi tentang Anky.
Anky paling benci sama yang namanya selebritis. Bukan semua seleb yang dia tidak
suka, tapi yang sombong dan berkepribadian tidak baik. Makanya Mila sebut Anky
dengan 'Seleb Phobia'.
"Shooting??
shooting apaan Mil?"
"Hunting
Ky,hunting.. kok shooting sih," Mila buru-buru meralat. Tguet Anky tahu
kalau Ryano sebenarnya adalah seorang aktor muda yang baru berkarir di dunia
perfilman. Meski yang Mila ingat Ryano bukan aktor yang sombong.
"Tadi
gue dengar lo bilang shooting. Emang mau hunting apa dia Bandung ?"
"Mm..hunting
foto. Suka motret dia."
"Ooo.."
"Ya
udah, gue ke depan dulu ya. Mau nyusul dia. Bye Anky."
"Bye
Mil..thanks ya oleh-olehnya."
"Ok.
Urwelcome..daghhh," Mila bergegas ke luar kampus untuk bertemu dengan
Ryano.
Anky
melihat jam tangannya. Sebentar lagi kelas pertamanya dimulai. Anky menghela
nafas. Melihat tulisannya di buku yang hanya baru jadi beberapa lembar. Sejenak
Anky berpikir, kenapa masih belum terasa inspirasi itu datang ya? Sudah
seminggu Anky mencoba menulis novelnya, tapi belum tahu mau seperti apa
endingnya.
"Ya
udah deh. Nti dilanjut lagi. Udah mau kelas. Hayyo...semangat Anky!" Anky
menyemangati diri sendiri sebelum berjalan menuju kelasnya. Kebetulan juga ada
quiz hari ini. Open book. Anky harus memfotokopi beberapa lembar catatan yang
dia dapat dari temannya. Sambil terburu-buru Anky bergegas ke tempat fotokopi
di samping kampusnya.
"BRUKKK!!"
tiba-tiba bahu Anky ditabrak orang lain dari samping. Buku dan catatan yang mau
difotokopi Anky jatuh ke bawah.
"Aawww,"
suara itu datang dari orang yang menabrak Anky. "Eh kalau jalan hati-hati
dong!" gerutu orang itu sambil melihat Anky yang sedang merapikan buku dan
catatannya yang jatuh di bawah.
Anky yang
mendengar dirinya digerutui, segera berdiri dan menghadap orang itu.
"Lho
gak salah? Lo yang nabrak saya. Jelas-jelas lo yang lari dari arah sana . Perasaan jalanan
juga lebar deh," balas Anky sedikit kesal. Saat ini dia sedang menghadapi
cowok tinggi berkacamata hitam.
"Makanya kalau jalan kacamatanya di buka aja. Biar jalannya bisa lurus,gak
nabrak sana
sini. Ini kampus, bukan jalan umum," sindir Anky.
Tapi bukannya
mendengarkan Anky, cowok itu malah celingak-celinguk ke arah belakangnya,
seperti mencari atau mengawasi sesuatu.
"Kalau
orang ngomong itu didengerin. Malah celingak-celinguk sih? Duh buang waktu ya..
kali ini saya maafin..tapi..," belum selesai Anky bicara, tiba-tiba cowok
itu berlari meninggalkan Anky, Anky heran.
"Sorry,gue
gak ada waktu ngobrol sama lo. Gue cabut duluan," katanya sambil berlari,
lebih heran lagi beberapa saat kemudian terlihat segerombolan cewek yang
mengikuti cowok tadi lari.
"Eh cepet..cepet...Ano
ke sana tuh,
buruan."
"Anoooo..foto
dong No..foto."
"Cepetaaann...nanti
kita gak dapet tandatangannya."
Suara
riuh itu Anky dengar dari segerombolan mahasiswi yang kalang kabut seperti
mengejar layangan jatuh.
"Aneh
banget sih pada, ngapain juga ngejar orang kayak gitu. Aneh deh. Emang dia
siapa?" gumam Anky bingung.
Belum
selesai bingungnya Anky teringat akan catatannya.
"Ya
ampun! hampir lupa kan ..fotokopi..duh
bisa telat quiz kalau gini.. ini semua gara-gara cowok tadi,heeh" Anky pun
berjalan kembali ke arah samping kampusnya.
Jam 2
siang kuliah Anky dan Mila sudah selesai. Hari ini mereka cuma ada 2 kelas.
Sebenarnya Anky mau langsung pulang, tapi Mila ngajak ke CiWalk buat beli rumah
baru buat Missy. Missy ini kucing Persia putih yang hidungnya hampir
gak kelihatan karena peseknya yang dipelihara Mila ini. Bisa dibilang ini hobi
baru Mila, pelihara kucing. Bahkan Mila rela nyisihin uang sgue kuliahnya buat
beli pernak pernik lucu buat Missy.
"Emang
rumahnya Missy yg sekarang kenapa Mil? Kok sampe beli yang baru lagi?"
tanya Anky saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil.
"Udah
kekecilan rumahnya Ky. Nih kucing gembul banget,makan mulu..tambah lebar
deh."
"Waa
cocok dong."
"Cocok?"
"Iya.
Sama kayak lo. Gembul. Makan mulu, hahaaaa"
"Iihhhh
Ankyyyy..gue kan
udah diet," sangkal Mila.
"Iya
iya. Percaya deh. Yuk ahh. Nti keburu sore."
Mereka
lalu naik ke mobil Mila. Mila setiap hari memang bawa mobil ke kampus.
"Eh
tau gak Ky? Inget kan
tadi pagi gue harusnya ketemu sama sepupuku itu ya," Mila mulai cerita
sambil matanya tak lepas dari spion mobil.
"Iya.
Terus gimana? Udah ketemuan?"
"Nah
itu dia. Gue nungguin dia di gerbang depan, hampir setengah jam tapi dia gak
nongol. Padahal kita ada kelas kan .
Gak jadi deh ketemuan. Gue langsung balik masuk kelas."
"Yaa..terus?
lo gak telpon dia apa tadi? mungkin dia nyasar Mil, secara nih kampus gede
banget."
"Udah
gue telpon tapi gak diangkat. Jadi gue cuma sms aja. Tapi sampai sekarang belum
dibalas nih. Kemana ya Kak Ano? Tadi bilang mau ketemu di kampus. Kasian kan kalau dia
nyasar."
"Gak
pa pa kali Mil, udah gede kan
dia?"
"Iya
sih. Ya udah nanti juga bisa ketemu."
"Coba
aja telpon lagi sekarang, siapa tahu diangkat," usul Anky.
"Oh
ya. Bener. Gue coba telpon lagi," Mila mengambil handphonenya lalu menekan
nomor Ryano.
Nada
sambung terdengar. 1 menit. 2 menit. Belum diangkat. Baru Mila mau tekan end
call, muncul suara cowok di seberang sana ,
"Hallo, Mila?"
"Kak
Anoooo.. ya ampun susah banget sih nelpon kakak. Sibuk ya?"
"Dduuhh
Milaa..sorry sorry, gue tadi udah di kampus lo kok. Beneran. Tapi gue gak bisa
nemuin lo. Pas gue nunggu lo, gue malah ketemu fans gue, kalau cuma 1-2 orang
sih gak pa pa. Ini segerombol. Kabur deh gue jadinya," cerita Ryano.
"Oya??
Waa susah ya jadi Kak Ano sekarang.. gak bisa beredar..langsung diserbu
ya?"
"Iya
Mil. Sorry banget. Padahal gue pengen banget ketemu lo. Sorry ya."
"Gak
papa. Gue ngerti lah Kak Ano orang sibuk sekarang hehe. Terus Kak Ano dimana
sekarang?"
"Lagi
di jalan sih ini, muter-muter aja. Mau cari tempat makan nih sebelum balik ke
hotel."
"Gue
juga mau jalan nih, ke CiWalk di Cihampelas. Mau ke sana gak Kak? Kita ketemuan di sana , ada tempat makan enak di sana . Yuk."
"Waa
boleh boleh.. udah laper banget nih. Tapi heboh lagi gak ya, hehe."
"Iya
ya."
"Oke
deh,gue ke sana
dulu aja. Kita ketemuan di parkiran dulu aja ya Mil. Kalau udah nyampe kita
call-call dulu."
"Sip.
See you there Kak Ano."
"See
you Mil."
"Gimana?
Jadi ketemuan?" tanya Anky yang sedari tadi cuma mendengar percakapan Mila
ke handphonenya.
"Iya
jadi. Di Ciwalk sekalian. Lo gak apa apa kan gue
ketemuan di sana ?"
"Ya
gak papa Mil. Kenapa gue mesti apa-apa?"
Mila lupa
kalau Anky belum tahu siapa Ryano sebenarnya. Tapi Mila juga gak mau bohongin
sahabatnya ini. Nanti pas Anky sudah ketemu Ryano, baru Mila jelasin siapa
Ryano sebenarnya.
"Yaaaa
gak sih, gak enak tguetnya kan
kita tadi planningnya cuma berdua, sekarang jadi sama Kak Ano juga."
"Gak
lah. Gak papa. Eh tapi tadi namanya Ryano ya? Lo panggil dia siapa? Ano?"
"Iya.
Kenapa gitu?"
"Perasaan
pernah denger namanya," ujar Anky.
Deg! Mila
kaget. Jangan-jangan Anky sudah sadar siapa sebenarnya Ryano.
"Eh
masa? Mungkin. Kan nama Ryano gak cuma 1 kali Ky. "
"Iya
sih. Hehe."
Huff..lega
Mila. Ternyata Anky belum sadar. Padahal nama Ryano memang lagi naik daun
sekarang. Setelah membintangi film layar lebar awal tahun ini bersama aktor
terkenal lainnya. Film bioskopnya juga meraih beberapa penghargaan, termasuk
Ryano yang mendapat penghargaan Aktor Pendatang Muda Terbaik versi salah satu
stasiun televisi swasta. Akting Ryano memang lagi banyak dipuji orang dan para
kritisi film. Belum lagi ditunjang wajah dan postur tubuh ideal. Ini pun di
Bandung Ryano dalam rangka shooting film barunya.
Selang
beberapa menit Mila sudah parkir di lapangan parkir Ciwalk. Menunggu call
Ryano. Tidak lama Ryano telpon dan bilang ada dimana. Mila dan Anky menyusul ke
tempat Ryano.
"Mila?"
tegur seorang cowok tinggi ke Mila yang lagi celingak celinguk di parkiran.
Mila sejenak memicingkan matanya dan memperhatikan cowok itu dari ujung kaki
sampai ujung kepala.
"Kak
Ano?!? Ya ampuuunn beda banget sih," Mila langsung menghampiri Ryano dan
memeluknya. Anky yang mengikuti dari belakang Mila juga turut memperhatikan
Ryano. Postur tubuh Ryano yang tinggi, putih, dan berwajah blasteran memang
bisa dibilang ideal. Bak model-model luar negeri yang ada di majalah cosmo.
Ganteng.
"Kayak
pernah liat.." gumam Anky dalam hati.
"Hahaa..udah
lama ya kita gak ketemuan. Lo juga udah kuliah aja, dulu perasaan masih SMP,
masih kuncir dua."
"Iya
iih..udah lama banget ya..sejak Kak Ano sekolah ke Aussie kan kita gak pernah ketemu lagi. Oya Kak Ano
sendirian aja?"
"Iya.
Lagi boring aja tadi di hotel. Pengen jalan-jalan. Tadi kan rencana mau nyulik lo di kampus, eh
gagal deh gara-gara dikejar-kejar, mana pake ditabrak lagi sama ..," Ryano
berhenti cerita pas ketika melihat sosok cewek di belakang Mila. Anky pun melguekan
hal yang sama. Seperti ada yang pernah ketemu sebelumnya. Anky terkejut sadar
sendiri siapa Ryano di depannya ini.
"Sama
lo! Iya sama lo. Lo yang tadi nabrak saya di kampusnya Mila kan ?" tiba-tiba Ryano beralih ke Anky,
berjalan menghampiri Anky. Mila yang tidak tahu apa-apa sedikit bingung.
"Lo??
Lho yang nabrak duluan kan
lo. Kok jadi nyalahin orang sih?"
"Eh
eh..ini kenapa ya? Lho Kak Ano udah ketemu Anky? Anky lo juga udh ketemu Kak Ano?? Kapan??" tanya Mila
bingung.
"Tadi
pagi," sahut Ryano.
"Tadi
pagi," sahut Anky berbarengan.
Mila jadi
tambah bingung, jadi tadi pagi pas Ryano yang harusnya ketemu sama Mila malah
ketemu Anky? Kacau nih. Pikir Mila.
"Lho
tadi pagi? Kok bisa?" tanya Mila.
"Dia
nabrak gue," jawab Ryano cepat.
"Ehh,
kok jadi saya?? Lo yang lari kayak dikejar-kejar gitu," Anky gak terima.
"Kan gue udah bilang sorry kan ," kata Ryano santai.
"Iya
sih. Tapi kan
yang duluan nabrak lo,bukan saya," Anky masih merasa tadi pagi itu bukan
dia yang tabrak duluan.
"Ya
terus? Lo juga gak mau say sorry kan ?"
"Lho,
tapi kan
emang lo yang salah. Gue kan
udah bilang maafin," balas Anky mulai kesal.
Mila
bingung tapi harus coba melerai dua orang yang baru ketemu tapi sudah kayak
kucing dan tikus ini.
"Ya
udah. Udah. Kan
juga udah ada yang say sorry, udah ada yang maafin juga. Ya udah selesai dong
masalahnya. Sekarang kenalan dulu dong. Baik-baik kenalannya. Ya ya ya?"
Anky baru
sadar ada Mila di antara mereka, dan langsung merasa gak enak sama Mila.
Ternyata cowok yang ngeselin ini kakak sepupunya Mila. Anky akhirnya
mengulurkan tangannya ke Ryano.
"Anky,
temennya Mila," Anky mengenalkan dirinya ke Ryano. Ryano pun mengulurkan
tangannya.
"Ryano,
sepupunya Mila."
"Naaahh
gitu kan
enak. Udah ya yang tadi pagi gak usah dibahas lagi. Yuk ah kita ke dalam,"
ajak Mila.
"Eeh..bentar
Mil, bentar .. siap-siap dulu," kata Ryano lalu mengeluarkan topi dan
kacamata hitamnya. Anky yang melihat Ryano mengernyitkan keningnya, heran.
“Siang-siang gini ke Mall pake kacamata
hitam? Sok banget sih nih cowok, berasa ngartis banget lagi. Untung sepupunya
Mila, kalau bukan, udah males banget kenalan sama dia,” gumam Anky dalam hati.
Mila sadar Anky mungkin
heran lihat kelakuan Ryano, tapi Mila pun tahu alasan kenapa Ryano mesti pakai
kacamata hitam dan topi siang-siang ke mall. Karena memang Ryano gak mau
kejadian pagi tadi di kampus kejadian lagi di sini. Mila maklum. Tapi gimana
sama Anky yang punya phobia sama seleb?.
“Ya udah, kita jalan
yuk. Kita ke Care Petshop dulu ya, mau beli kandang buat Missy dulu. Habis itu
baru kita makan siang. Gimana?” usul Mila.
“Ok, gue ikut lo aja
Mil,” jawab Ryano.
Akhirnya mereka bertiga
masuk ke dalam mall. Meski begitu, Anky masih heran sama perilaku Ryano yang
aneh bin ajaib menurut dia. Anky mau tanya ke Mila, tapi tidak enak kalau di
depan Ryano. Semoga firasatnya tidak terbukti. Semoga.
[TO BE CONTINUED]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar