3 Jul 2014

Love Phobia [1]

PART 1 : MEET YOU

Bandung, 1 November 2013
Suasana kota Bandung hari ini cukup sejuk. Langit biru berhiaskan oleh arakan cantik awan putih yang menggumpal. Terik matahari tak terasa, karena sejuknya awan meredam kehangatannya. Semilir angin penghujan menambah nuansa kesejukan. Pada bulan-bulan akhir tahun seperti ini, Bandung sering diguyur hujan, namun terkadang tidak sampai hujan deras. Dan cuaca seperti ini merupakan cuaca paling favorit buat seorang gadis yang tengah duduk di bangku taman kampus siang ini. Sambil menikmati sekotak teh kotak, tangannya sibuk menggerak-gerakkan pulpennya di atas kertas tulis. Sesekali matanya beranjak dari buku, melihat sekelilingnya, berdiam sejenak sambil berusaha menemukan ide untuk ceritanya. Dia terbiasa meluangkan waktu kosongnya untuk menulis, ini sudah menjadi kebiasaannya sejak SMP. Ritual menulis ini harus dilakukannya seorang diri, hanya ditemani oleh buku dan pensil, ditambah musik dan cemilan. Untuk tempat ritual pun harus gonta-ganti, tidak boleh sama. Satu waktu di kelas, waktu lain bisa di taman kampus, atap gedung, perpustakaan, atau di mana saja yang dapat menghadirkan inspirasi baginya. Ritual inilah yang sedang dilakukan gadis bernama Anky di taman kampusnya. Sejatinya ritual ini dilalui Anky dalam ketenangan kalau misal suara cempreng itu tidak mengganggunya.
"Annnnnkyyyyy sahabatkuuu," Anky memgalihkan pandangannya ke arah suara itu. Sahabatnya sejak SMA dulu,yang paling berisik, paling cerewet, paling doyan makan,  tapi paling mengerti siapa Anky, dia Mila, datang dari arah gedung kampus.
"Ya ampun Mila, lo udah masuk kuliah? Udah selesai liburannya?"
Mila duduk disamping Anky, "Udah dong.. kemarin gue baliknya.. Ngapain lo di sini Ky? Lagi ritual ya?" tebak Mila sambil melihat buku ajaibnya Anky di depannya.
"He eh.. lagi mau rampungin novel nih, belum selesai-selesai. Udah ditanyain Mbak Linda sih kapan mau masukin story lagi ke sana. Tapi gak tahu nih, lagi mentok gue Mil."
"Mmm.. emang lagi bikin novel tentang apa sih? istimewa banget kayaknya?"
"Martabak kalii..istimewa," canda Anky ringan.
"Iii..orang serius ditanya sih..emang novel apaan sih Ky? Perasaan dulu lo cuma bikin cerpen doang deh..kok jadi novel sekarang?"
"Gimana ya? Lagi mau coba ngembangin tulisan gue aja Mil."
"Emang bisa ngembang?"
"Bisa. Lo aja bisa ngembang, tuh liat habis liburan pipinya makin ngembang, hahahaaa.." Anky meledek Mila yang memang memiliki pipi yang tembem.
"Ankyyyyyy..kan gue udah diet..masa sih masih gendut?" Mila merajuk.
"Enggak..enggak kok..becanda gue.."
"Trus novelnya tentang apa sih? sampai gue juga belum dikasih baca draftnya? Penasaran nihh.. kasih tahu dong..ya..ya."
"Mmm, yaa gimana ya? Habis gue belum pede kasih liat lo.. gue lagi buat novel tentang cinta, tentang hubungan."
"Tentang cinta? Pacaran? Cowok cewek? Iya?" Mila terlihat tidak percaya.
"Mmm..kind of..kenapa emangnya? Kok kayak gak percayaan sih?"
"Yaa selama ini cerpen lo kan tentang persahabatan, sosial, gak gubris-gubris masalah pacaran, apalagi cinta."
"Iya sih. Makanya gue mau coba buat Mil. Mbak Linda juga lagi butuh tema ini buat diterbitin di penerbitan. Gimana Mil menurut lo?"
"Bagus dong. Tema cinta tuh general banget. Gampang. Lo pasti bisa deh Ky. Tapi..ngg..," Mila berhenti sejenak, belum yakin mengeluarkan pernyataannya ke Anky.
"Tapi kenapa?"
"Tapi...lo kan ..belum pernah pacaran Ky..gimana lo mau nulis cerita tentang cinta,tentang hubungan cowok dan cewek Ky??" Mila bicara cukup hati-hati takuet menyinggung Anky.
Anky diam sejenak. Dirinya mau berkelit tapi dalam hatinya dia tahu perkataan Mila ada benarnya.
"Nngg..iya sih Mil..tapi kan bukan berarti kalau gue belum pernah pacaran terus gak tau tentang pacaran. Gue kan bisa riset. Tanya ke lo misal. Atau ke pasangan lain yang lagi punya hubungan serius misal. Bisa kan?"
"Yaa bisa sih..tapi kan kalau lo ngalamin sendiri, pasti rasanya beda deh. Iya kan? Mungkin karena itu Ky, lo mentok belum dapat inspirasi. Karena jiwa lo belum tahu apa yang lo tulis, hati lo dan pikiran lo belum tahu rasanya cinta, gue benar gak?" Mila mencoba menalarkan.
"Yaa.. mungkin sih Mil. Tapi kan lo tahu...gue punya prinsip kan?"
"Tahu lah. Tahu banget malah. Lo gak mau pacaran. Iya kan?? Masih belum mau berubah pikiran Ky? Lo yakin gak mau pacaran??"
"Nope.. duh kayaknya bahasan ini udah panjang gue jelasin deh Milllll... I' m not ready to felt the pain, heartbreaking or kind of that.. capek kayaknya Mil..enakan gini ahh," Anky berargumen.
"Lo sih cuma lihat negatifnya aja. Kan jatuh cinta gak mesti sakit hati selalu Ky. Jatuh cinta tuh indah lagi.
"Tapi ya Ky, percaya deh..lo akan lebih gampang rampungin novel ini kalau lo sendiri yang jalanin.."
"Aaa..udah ah ngomongin novelnya. Pokoknya gue bakal rampungin novel ini. Tenang aja. By the way oleh-oleh buat gue mana nih??"
"Yaaa kirain lupa hehe..tenang Ankyyy...nih gue beliin lo."
Mila mengeluarkan bungkusan dari tasnya, "Waa makasih ya Mil,bagus nih oleh-olehnya."
"Iya, gue inget lo suka sama owl things, jadi gue beliin kaos ini aja deh."
Anky dan Mila sedang sama-sama melihat oleh-oleh dari Mila, tiba-tiba handphone Mila bunyi.
"Hallo, ya ini Mila.. ini..siapa..hah? Kak Ano? beneran ini? Ya ampunnnn.. oke oke.. iya bener, Kak Ano jalan aja dari BIP ke arah dago aja..iya bener.. oke.. gue tunggu ya, oke...sip sip.. bye," Mila mematikan handphonenya kembali.
"Siapa Mil? heboh banget kayaknya?" tanya Anky setelah lihat Mila.
"Iya heboh. Dan bentar lagi kampus kita juga pasti heboh banget deh."
"Lho apa hubungannya sama kampus?? Emang siapa sih yang telpon barusan? Cowok baru?"
"Bukaaaaannnn... sepupu gue, Ryano. Dia lagi di Bandung."
"Oohh..sepupu yang mana ya? Kok gue gak pernah tahu sih?"
"Sepupu jauuuhhhhhh..hehe..masih saudara sih.. selama ini dia tinggal di Jakarta. Neneknya dia kakaknya nenek gue..kita udah lama banget gak ketemuan.. terakhir pas dia ngelanjutin kuliah di Aussie 4 tahun yang lalu,  pas kita masuk SMA."
"Oooo..pantesan gue gak pernah tahu. Terus dia mau ketemu lo?"
"Iya. Dia kebetulan ada shooting .. eh..," Mila berhenti bicara. Lalu mengernyit sambil melihat reaksi Anky. Mila tahu banget ada satu hal lagi tentang Anky. Anky paling benci sama yang namanya selebritis. Bukan semua seleb yang dia tidak suka, tapi yang sombong dan berkepribadian tidak baik. Makanya Mila sebut Anky dengan 'Seleb Phobia'.
"Shooting?? shooting apaan Mil?"
"Hunting Ky,hunting.. kok shooting sih," Mila buru-buru meralat. Tguet Anky tahu kalau Ryano sebenarnya adalah seorang aktor muda yang baru berkarir di dunia perfilman. Meski yang Mila ingat Ryano bukan aktor yang sombong.
"Tadi gue dengar lo bilang shooting. Emang mau hunting apa dia Bandung?"
"Mm..hunting foto. Suka motret dia."
"Ooo.."
"Ya udah, gue ke depan dulu ya. Mau nyusul dia. Bye Anky."
"Bye Mil..thanks ya oleh-olehnya."
"Ok. Urwelcome..daghhh," Mila bergegas ke luar kampus untuk bertemu dengan Ryano.
Anky melihat jam tangannya. Sebentar lagi kelas pertamanya dimulai. Anky menghela nafas. Melihat tulisannya di buku yang hanya baru jadi beberapa lembar. Sejenak Anky berpikir, kenapa masih belum terasa inspirasi itu datang ya? Sudah seminggu Anky mencoba menulis novelnya, tapi belum tahu mau seperti apa endingnya.
"Ya udah deh. Nti dilanjut lagi. Udah mau kelas. Hayyo...semangat Anky!" Anky menyemangati diri sendiri sebelum berjalan menuju kelasnya. Kebetulan juga ada quiz hari ini. Open book. Anky harus memfotokopi beberapa lembar catatan yang dia dapat dari temannya. Sambil terburu-buru Anky bergegas ke tempat fotokopi di samping kampusnya.
"BRUKKK!!" tiba-tiba bahu Anky ditabrak orang lain dari samping. Buku dan catatan yang mau difotokopi Anky jatuh ke bawah.
"Aawww," suara itu datang dari orang yang menabrak Anky. "Eh kalau jalan hati-hati dong!" gerutu orang itu sambil melihat Anky yang sedang merapikan buku dan catatannya yang jatuh di bawah.
Anky yang mendengar dirinya digerutui, segera berdiri dan menghadap orang itu.
"Lho gak salah? Lo yang nabrak saya. Jelas-jelas lo yang lari dari arah sana. Perasaan jalanan juga lebar deh," balas Anky sedikit kesal. Saat ini dia sedang menghadapi cowok  tinggi berkacamata hitam. "Makanya kalau jalan kacamatanya di buka aja. Biar jalannya bisa lurus,gak nabrak sana sini. Ini kampus, bukan jalan umum," sindir Anky.
Tapi bukannya mendengarkan Anky, cowok itu malah celingak-celinguk ke arah belakangnya, seperti mencari atau mengawasi sesuatu.
"Kalau orang ngomong itu didengerin. Malah celingak-celinguk sih? Duh buang waktu ya.. kali ini saya maafin..tapi..," belum selesai Anky bicara, tiba-tiba cowok itu berlari meninggalkan Anky, Anky heran.
"Sorry,gue gak ada waktu ngobrol sama lo. Gue cabut duluan," katanya sambil berlari, lebih heran lagi beberapa saat kemudian terlihat segerombolan cewek yang mengikuti cowok tadi lari.
"Eh cepet..cepet...Ano ke sana tuh, buruan."
"Anoooo..foto dong No..foto."
"Cepetaaann...nanti kita gak dapet tandatangannya."
Suara riuh itu Anky dengar dari segerombolan mahasiswi yang kalang kabut seperti mengejar layangan jatuh.
"Aneh banget sih pada, ngapain juga ngejar orang kayak gitu. Aneh deh. Emang dia siapa?" gumam Anky bingung.
Belum selesai bingungnya Anky teringat akan catatannya.
"Ya ampun! hampir lupa kan..fotokopi..duh bisa telat quiz kalau gini.. ini semua gara-gara cowok tadi,heeh" Anky pun berjalan kembali ke arah samping kampusnya.

Jam 2 siang kuliah Anky dan Mila sudah selesai. Hari ini mereka cuma ada 2 kelas. Sebenarnya Anky mau langsung pulang, tapi Mila ngajak ke CiWalk buat beli rumah baru buat Missy. Missy ini kucing Persia putih yang hidungnya hampir gak kelihatan karena peseknya yang dipelihara Mila ini. Bisa dibilang ini hobi baru Mila, pelihara kucing. Bahkan Mila rela nyisihin uang sgue kuliahnya buat beli pernak pernik lucu buat Missy.
"Emang rumahnya Missy yg sekarang kenapa Mil? Kok sampe beli yang baru lagi?" tanya Anky saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil.
"Udah kekecilan rumahnya Ky. Nih kucing gembul banget,makan mulu..tambah lebar deh."
"Waa cocok dong."
"Cocok?"
"Iya. Sama kayak lo. Gembul. Makan mulu, hahaaaa"
"Iihhhh Ankyyyy..gue kan udah diet," sangkal Mila.
"Iya iya. Percaya deh. Yuk ahh. Nti keburu sore."
Mereka lalu naik ke mobil Mila. Mila setiap hari memang bawa mobil ke kampus.
"Eh tau gak Ky? Inget kan tadi pagi gue harusnya ketemu sama sepupuku itu ya," Mila mulai cerita sambil matanya tak lepas dari spion mobil.
"Iya. Terus gimana? Udah ketemuan?"
"Nah itu dia. Gue nungguin dia di gerbang depan, hampir setengah jam tapi dia gak nongol. Padahal kita ada kelas kan. Gak jadi deh ketemuan. Gue langsung balik masuk kelas."
"Yaa..terus? lo gak telpon dia apa tadi? mungkin dia nyasar Mil, secara nih kampus gede banget."
"Udah gue telpon tapi gak diangkat. Jadi gue cuma sms aja. Tapi sampai sekarang belum dibalas nih. Kemana ya Kak Ano? Tadi bilang mau ketemu di kampus. Kasian kan kalau dia nyasar."
"Gak pa pa kali Mil, udah gede kan dia?"
"Iya sih. Ya udah nanti juga bisa ketemu."
"Coba aja telpon lagi sekarang, siapa tahu diangkat," usul Anky.
"Oh ya. Bener. Gue coba telpon lagi," Mila mengambil handphonenya lalu menekan nomor Ryano.
Nada sambung terdengar. 1 menit. 2 menit. Belum diangkat. Baru Mila mau tekan end call, muncul suara cowok di seberang sana, "Hallo, Mila?"
"Kak Anoooo.. ya ampun susah banget sih nelpon kakak. Sibuk ya?"
"Dduuhh Milaa..sorry sorry, gue tadi udah di kampus lo kok. Beneran. Tapi gue gak bisa nemuin lo. Pas gue nunggu lo, gue malah ketemu fans gue, kalau cuma 1-2 orang sih gak pa pa. Ini segerombol. Kabur deh gue jadinya," cerita Ryano.
"Oya?? Waa susah ya jadi Kak Ano sekarang.. gak bisa beredar..langsung diserbu ya?"
"Iya Mil. Sorry banget. Padahal gue pengen banget ketemu lo. Sorry ya."
"Gak papa. Gue ngerti lah Kak Ano orang sibuk sekarang hehe. Terus Kak Ano dimana sekarang?"
"Lagi di jalan sih ini, muter-muter aja. Mau cari tempat makan nih sebelum balik ke hotel."
"Gue juga mau jalan nih, ke CiWalk di Cihampelas. Mau ke sana gak Kak? Kita ketemuan di sana, ada tempat makan enak di sana. Yuk."
"Waa boleh boleh.. udah laper banget nih. Tapi heboh lagi gak ya, hehe."
"Iya ya."
"Oke deh,gue ke sana dulu aja. Kita ketemuan di parkiran dulu aja ya Mil. Kalau udah nyampe kita call-call dulu."
"Sip. See you there Kak Ano."
"See you Mil."
"Gimana? Jadi ketemuan?" tanya Anky yang sedari tadi cuma mendengar percakapan Mila ke handphonenya.
"Iya jadi. Di Ciwalk sekalian. Lo gak apa apa kan gue ketemuan di sana?"
"Ya gak papa Mil. Kenapa gue mesti apa-apa?"
Mila lupa kalau Anky belum tahu siapa Ryano sebenarnya. Tapi Mila juga gak mau bohongin sahabatnya ini. Nanti pas Anky sudah ketemu Ryano, baru Mila jelasin siapa Ryano sebenarnya.
"Yaaaa gak sih, gak enak tguetnya kan kita tadi planningnya cuma berdua, sekarang jadi sama Kak Ano juga."
"Gak lah. Gak papa. Eh tapi tadi namanya Ryano ya? Lo panggil dia siapa? Ano?"
"Iya. Kenapa gitu?"
"Perasaan pernah denger namanya," ujar Anky.
Deg! Mila kaget. Jangan-jangan Anky sudah sadar siapa sebenarnya Ryano.
"Eh masa? Mungkin. Kan nama Ryano gak cuma 1 kali Ky."
"Iya sih. Hehe."
Huff..lega Mila. Ternyata Anky belum sadar. Padahal nama Ryano memang lagi naik daun sekarang. Setelah membintangi film layar lebar awal tahun ini bersama aktor terkenal lainnya. Film bioskopnya juga meraih beberapa penghargaan, termasuk Ryano yang mendapat penghargaan Aktor Pendatang Muda Terbaik versi salah satu stasiun televisi swasta. Akting Ryano memang lagi banyak dipuji orang dan para kritisi film. Belum lagi ditunjang wajah dan postur tubuh ideal. Ini pun di Bandung Ryano dalam rangka shooting film barunya.
Selang beberapa menit Mila sudah parkir di lapangan parkir Ciwalk. Menunggu call Ryano. Tidak lama Ryano telpon dan bilang ada dimana. Mila dan Anky menyusul ke tempat Ryano.
"Mila?" tegur seorang cowok tinggi ke Mila yang lagi celingak celinguk di parkiran. Mila sejenak memicingkan matanya dan memperhatikan cowok itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kak Ano?!? Ya ampuuunn beda banget sih," Mila langsung menghampiri Ryano dan memeluknya. Anky yang mengikuti dari belakang Mila juga turut memperhatikan Ryano. Postur tubuh Ryano yang tinggi, putih, dan berwajah blasteran memang bisa dibilang ideal. Bak model-model luar negeri yang ada di majalah cosmo. Ganteng.
"Kayak pernah liat.." gumam Anky dalam hati.
"Hahaa..udah lama ya kita gak ketemuan. Lo juga udah kuliah aja, dulu perasaan masih SMP, masih kuncir dua."
"Iya iih..udah lama banget ya..sejak Kak Ano sekolah ke Aussie kan kita gak pernah ketemu lagi. Oya Kak Ano sendirian aja?"
"Iya. Lagi boring aja tadi di hotel. Pengen jalan-jalan. Tadi kan rencana mau nyulik lo di kampus, eh gagal deh gara-gara dikejar-kejar, mana pake ditabrak lagi sama ..," Ryano berhenti cerita pas ketika melihat sosok cewek di belakang Mila. Anky pun melguekan hal yang sama. Seperti ada yang pernah ketemu sebelumnya. Anky terkejut sadar sendiri siapa Ryano di depannya ini.
"Sama lo! Iya sama lo. Lo yang tadi nabrak saya di kampusnya Mila kan?" tiba-tiba Ryano beralih ke Anky, berjalan menghampiri Anky. Mila yang tidak tahu apa-apa sedikit bingung.
"Lo?? Lho yang nabrak duluan kan lo. Kok jadi nyalahin orang sih?"
"Eh eh..ini kenapa ya? Lho Kak Ano udah ketemu Anky? Anky lo juga  udh ketemu Kak Ano?? Kapan??" tanya Mila bingung.
"Tadi pagi," sahut Ryano.
"Tadi pagi," sahut Anky berbarengan.
Mila jadi tambah bingung, jadi tadi pagi pas Ryano yang harusnya ketemu sama Mila malah ketemu Anky? Kacau nih. Pikir Mila.
"Lho tadi pagi? Kok bisa?" tanya Mila.
"Dia nabrak gue," jawab Ryano cepat.
"Ehh, kok jadi saya?? Lo yang lari kayak dikejar-kejar gitu," Anky gak terima.
"Kan gue udah bilang sorry kan," kata Ryano santai.
"Iya sih. Tapi kan yang duluan nabrak lo,bukan saya," Anky masih merasa tadi pagi itu bukan dia yang tabrak duluan.
"Ya terus? Lo juga gak mau say sorry kan?"
"Lho, tapi kan emang lo yang salah. Gue kan udah bilang maafin," balas Anky mulai kesal.
Mila bingung tapi harus coba melerai dua orang yang baru ketemu tapi sudah kayak kucing dan tikus ini.
"Ya udah. Udah. Kan juga udah ada yang say sorry, udah ada yang maafin juga. Ya udah selesai dong masalahnya. Sekarang kenalan dulu dong. Baik-baik kenalannya. Ya ya ya?"
Anky baru sadar ada Mila di antara mereka, dan langsung merasa gak enak sama Mila. Ternyata cowok yang ngeselin ini kakak sepupunya Mila. Anky akhirnya mengulurkan tangannya ke Ryano.
"Anky, temennya Mila," Anky mengenalkan dirinya ke Ryano. Ryano pun mengulurkan tangannya.
"Ryano, sepupunya Mila."
"Naaahh gitu kan enak. Udah ya yang tadi pagi gak usah dibahas lagi. Yuk ah kita ke dalam," ajak Mila.
"Eeh..bentar Mil, bentar .. siap-siap dulu," kata Ryano lalu mengeluarkan topi dan kacamata hitamnya. Anky yang melihat Ryano mengernyitkan keningnya, heran.
“Siang-siang gini ke Mall pake kacamata hitam? Sok banget sih nih cowok, berasa ngartis banget lagi. Untung sepupunya Mila, kalau bukan, udah males banget kenalan sama dia,” gumam Anky dalam hati.
Mila sadar Anky mungkin heran lihat kelakuan Ryano, tapi Mila pun tahu alasan kenapa Ryano mesti pakai kacamata hitam dan topi siang-siang ke mall. Karena memang Ryano gak mau kejadian pagi tadi di kampus kejadian lagi di sini. Mila maklum. Tapi gimana sama Anky yang punya phobia sama seleb?.
“Ya udah, kita jalan yuk. Kita ke Care Petshop dulu ya, mau beli kandang buat Missy dulu. Habis itu baru kita makan siang. Gimana?” usul Mila.
“Ok, gue ikut lo aja Mil,” jawab Ryano.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mall. Meski begitu, Anky masih heran sama perilaku Ryano yang aneh bin ajaib menurut dia. Anky mau tanya ke Mila, tapi tidak enak kalau di depan Ryano. Semoga firasatnya tidak terbukti. Semoga.
[TO BE CONTINUED]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar