Juna kembali ke rumah dengan banyak pikiran. Sejenak dia berada di
dalam mobilnya. Lalu melihat rumah megah yang di depannya. Mungkin ini memang
takdir sekaligus hukuman untuk dirinya karena tidak pernah menghargai apa yang
dia miliki sekarang. Sekarang Juna harus bisa untuk meninggalkan semuanya ini
sementara, sampai semuanya kembali seperti seharusnya. Juna sudah memikirkan,
dia akan mengatakan kepada orangtuanya bahwa dirinya ingin berlibur sejenak.
Mama dan Papanya tidak akan curiga, karena Juna memang suka travelling ke luar
negeri. Dan mulai besok, Juna harus mulai menjadi Bayu. Menjadi ‘suami’ bagi
Ghaida.
Juna masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju kamarnya. Mengeluarkan
tas dan mengambil beberapa barang yang akan dia bawa pergi. Tiba-tiba Mamanya
masuk ke kamar, dan terkejut melihat Juna sedang berkemas tampak seperti mau
pergi.
“Juna, kamu sedang apa? Kamu mau pergi? Pergi kemana lagi, Jun?”
“Juna mau liburan Ma. Juna mau refreshing dulu. Dan Juna mau coba hidup
mandiri, usia Juna udah seharusnya hidup terpisah dari orangtua.”
Mamanya terkejut, lebih kepada tidak percaya. Bagaimana bisa anaknya
mengambil keputusan pergi dan hidup mandiri padahal dia tahu Juna sangat
tergantung pada hidupnya di rumah ini, karena semuanya sudah tersedia, dan Juna
tinggal menggunakannya semau dia.
“Maksud kamu apa sih, Jun? Kamu jangan buat Mama bingung deh. Kok
tiba-tiba?? Papa juga kan masih di Hongkong, kenapa kamu mesti pergi sekarang??
Terus Mama sendirian gitu di rumah sebesar ini??”
“Juna udah mikirin ini lama Ma. Maaf kalau mendadak. Tapi Juna memang
harus sementara pergi dari sini,” kata Juna, menutupi hal sebenarnya sambil
mengambil barang-barangnya.
“Kemana? Dengan siapa? Sampai kapan? Apa yang harus Mama bilang ke
Papamu? Apa alasan kamu? ” Mama Juna cemas akan keputusan anaknya yang tiba-tiba.
Dia sadar, selama ini memang dia jarang memperhatikan Juna, tapi bagaimana pun
Juna adalah anaknya, darah dagingnya sendiri. Mama Juna sebenarnya punya alasan
sendiri, kenapa dia menjaga interaksi dengan anaknya sendiri. Juna membuatnya
mengingat sesuatu kesalahan yang dia buat di masa lalu, kesalahan dan keputusan
yang salah. Yang membuat hidup Juna sepi seperti sekarang. Meski dia memiliki
segalanya, tapi Mamanya tahu, Juna merasa kesepian. Papanya selalu sibuk
bekerja dan dirinya sendiri juga tidak mau terlalu dekat dengan Juna.
“Ke luar kota Ma, sama Ali.
Mungkin sekitar sebulan atau lebih. Nanti Juna kabari Mama. Tolong bilang sama
Papa ya Ma. Maaf Juna ambil keputusan yg buat Mama terkejut. Tapi ini buat
kebaikan Juna.”
Mama Juna masih belum bisa memahami, di tengah dirinya berusaha
memahami maksud tindak tanduk anak semata wayangnya ini, Juna sudah melengos
pergi meninggalkan Mamanya. Mama Juna mengikutinya di belakang.
“Jun, Juna, jangan pergi dulu Jun. Mama masih gak ngerti kenapa kamu
tiba-tiba mau pergi tanpa alasan jelas. Kamu jangan bikin Mama khawatir dong
Juna, Juna… kamu dengar Mama gak sih? Berhenti Juna,” tahan Mama Juna. Tapi
Juna seperti sudah bersikeras. Masuk ke dalam mobil dan bersiap menstarternya.
Mama Juna berdiri di samping pintu mobil dan masih berusaha menahan Juna, “Kamu
boleh pergi, tapi kamu jangan tinggalkan rumah ini ya? Mama gak mau sendirian
Jun. Masa kamu tega sama Mama. Kenapa baru sekarang kamu bilang mau tinggal
terpisah, padahal semua sudah ada di sini Jun.”
Juna menghela nafas lalu membuka kaca mobilnya, “Ma, maaf kalau Juna
buat Mama kaget. Tapi selama ini juga Mama gak pernah merhatiin Juna ada atau
gak ada di rumah ini kan? Papa juga. Jadi kalau Juna pergi kali ini, gak ada
bedanya kan??” Juna sedikit mengutarakan perasaannya selama ini.
“Tapi Mama gak mau kamu pergi dari rumah ini. Terserah kamu kalau kamu
mau keluar liburan atau ke mana, asal kamu tetap tinggal di rumah ini, Jun.
Kamu harus balik ke rumah lagi ya? Kamu dengarin Mama ya Jun?”
Juna tidak tahu mau menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu apakah
akan kembali atau tidak. Juna menutup kaca mobilnya dan memundurkan mobilnya.
Meninggalkan Mamanya. Hanya hari esok yang Juna pikirkan dan cemaskan. Karena
besok hari pertamanya, hari pertama menjadi Bayu, hari pertama ‘hukumannya’
karena melakukan kesalahan yang fatal.
Ini hari ke-enam, sudah mau hampir seminggu, tapi Ghaida masih belum
tahu kabar suaminya yang katanya sedang ada di Bandung karena menengok Bibinya
yang sakit. Nomor handphone Bayu masih belum bisa dihubungi oleh Ghaida. Rasa
cemas dan tidak tenang masih membayangi Ghaida. Karena rasa itu, Ghaida tidak
bersemangat menjalani terapi kakinya. Padahal di sudah 5 hari dia di rumah
sakit. Firasatnya tidak enak. Dan dia
juga merasa ada yang disembunyikan keluarganya. Hari ini Ghaida bertekad untuk
mencari tahu. Dia akan bertanya ke perawat dan dokter tentang kondisi Bayu
sebenarnya selepas kecelakaan itu. Tanpa Ghaida tahu, di luar Juna sudah ada di
depan kamarnya. Sebelumnya Ibu Ghaida sudah memberitahu apa yang harus Juna
lakukan hari ini. Juna berdoa kembali, semoga Ghaida tidak mengenalinya. Masih
ingat jelas di benak Juna peristiwa malam itu. Saat ia melakukan kesalahan
fatal dan mengakibatkan kehilangan nyawa Bayu. Hari ini Juna akan datang
menjenguk Ghaida. Bukan datang sebagai Juna, tapi sebagai Bayu. Suami Ghaida.
Juna berdiri kaku di depan pintu kamar. Sejenak tampak berpikir. Lalu
ia menggerakkan handel pintu dan membuka pintu kamar Ghaida perlahan. Ghaida
sedang tertidur. Juna mendekat dan semakin dekat, degup jantung terasa cepat.
Gugup. Ghaida masih tertidur. Terlihat oleh Juna kaki Ghaida yang masih dibalut
perban. Juna mengambil posisi duduk di samping tertidur Ghaida. Terduduk. Diam.
Hanya melihat Ghaida.Dadanya terasa sedikit sesak, merasa bersalah pada wanita yang
dihadapannya. Entah apakah yang dilakukannya saat ini mampu menebus semua dosa
dan kesalahannya. Perasaan sesak itu menstimulus cairan bening dari pelupuk
matanya. Air hangat itu perlahan menetes dari mata Juna. Terisak tanpa Juna sadari. Isakan pelan Juna membangunkan Ghaida. Ditolehkannya kepalanya ke samping, ke arah suara yang didengarnya. Mata Ghaida berkedip, menajamkan kembali pandangannya, lalu seberkas senyuman tersulam di bibirnya, 'Bayu'-nya telah kembali.
"Mas bayu?" sapa Ghaida, meski suara pelan tapi terdengar nada bahagia di dalam suaranya.
Juna sontak kaget, dan segera menyadari bahwa dirinya sudah mulai menjalani takdirnya. Mulai saat ini dia bukannya Juna, melainkan Bayu. Juna beranjak dari duduknya dan menghampiri Ghaida di sisi tempat tidurnya.
"Hai, Da. Sudah enakan?"
Ghaida mengangguk dan tersenyum lega, lesung pipitnya muncul, dan sesaat kemudian sebulir airmata mengalir dari sudut matanya. Juna hanya memandang tanpa bisa berkata. Meski sedang sakit dan dalam masa pemulihan, namun mata Ghaida terlihat berbinar-binar.
"Begitu cintanya wanita ini pada suaminya, bahkan tanpa bicara pun, matanya sudah terlihat mencinta sosok suaminya," Juna berkata dalam hatinya.
"Kamu... kenapa nangis? Ada yang sakit?" ujar Juna akhirnya. Inginnya dia menghapus airmata itu, tapi dirinya menahan agar tidak menyentuh Ghaida.
"Enggak, enggak kok. Aku gak nangis. Aku cuma gak percaya aja kamu ada di sini Mas. Sudah seminggu aku gak tahu kabar kamu dimana. Aku pikir kamu kenapa-napa. Syukurlah kamu sehat dan tidak ada apa-apa."
"Maaf Ghaida, kemarin saudaraku di Bandung ada yang sedang sakit dan butuh bantuanku. Jadi aku pergi ke Bandung, tapi aku sudah bilang ke Ibu, karena waktu itu mendadak sekali. Maaf ya Da."
"Gak apa Mas. Yang penting Mas udah di sini lagi. Ghaida pikir Mas pergi karena kondisi Ghaida seperti sekarang... Maaf ya Mas, aku ngerepotin kamu, aku udah buat kamu khawatir .. tapi aku udah sehat kok, tinggal terapi jalan saja," Ghaida bersemangat, bahkan terlihat sangat bahagia melihat sosok 'Bayu' di sampingnya lagi.
"Jangan ngomong gitu, aku yang minta maaf karena gak ada... di sisi kamu," Juna tertahan, karena yang dia ucapkan ada benarnya, bahwa Bayu memang sudah tidak ada di sisi Ghaida lagi, "padahal kamu pasti sangat membutuhkan aku saat seperti ini, maaf Ghaida .. aku minta maaf, aku tahu aku salah, karena meninggalkan kamu" entah mengapa Juna merasa sedih yang luar biasa, bahkan airmatanya kembali tergenang, benar kata Al bahwa rasa bersalah itu akan terus menghantui hidup Juna. Hingga detik ini pun, berat rasanya bagi Juna untuk membayangkan kemungkinan dirinya akan dipersalahkan dan dihukum karena perbuatan lalainya.
"Yang penting kan kita udah bareng lagi, Mas. Iya kan? buat aku yang penting kita bersama, itu sudah lebih dari cukup. 2 minggu lagi kan Mas harus pergi berlayar lagi kan.. jadi untuk waktu yang gak banyak ini, kita nikmatin aja .. kecelakaan yang lalu anggap musibah dan ujian buat kita. Aku yakin sebentar lagi aku bisa jalan lagi kok, kan ada Mas Bayu di sini, yang siap jagain dan nemenin aku terus, iya kan Mas?"
Juna tersenyum pilu, belum sanggup berkata, tapi perlahan dia mengangguk mengiyakan pertanyaan Ghaida. Ada sebuah janji yang muncul saat ini dalam benak Juna, bahwa dia akan membahagiakan Ghaida apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan wanita bersedih lagi, sampai tiba waktu bagi Ghaida siap melepaskan Bayu.
Pintu diketuk, Ibu dan Ayah datang. Begitu Ibu melihat Juna di sana, dan wajah Ghaida yang jelas terlihat kembali ceria, Ibu pun langsung memeluk Ghaida erat. Ibu menangis. Menangis sedih dan bahagia sekaligus. Sedih karena ia harus terpaksa membohongi putri satu-satunya ini dengan meminta orang lain menjadi suaminya yang harusnya sudah tiada. Tapi ia juga bahagia, karena dia tahu putrinya sudah kembali merasakan bahagia ketika sosok Bayu di sisinya, kembali menemani hari-harinya.
"Bu, Ibu kenapa? Kok nangis sih? Ghaida kan udah baikan Bu. Ada apa sih Bu?" Ghaida yang heran menerima pelukan erat Ibunya yang menangis, bertanya.
Ibu melepaskan pelukannya, mengelus rambut hitam Ghaida, lantas tersenyum, "Ibu seneng Da, lihat kamu seneng lagi, apalagi Bayu udah pulang. Kamu pasti seneng kan Bayu nemenin kamu lagi?"
"Gak usah ditanya, Bu. Itu mah pasti," jawab Ghaida ringan.
Tiba-tiba tangan Ghaida memegang tangan Juna. Menggenggamnya dan menariknya untuk duduk di sisi tempat tidur. Juna canggung, takut salah, lalu dia melihat ke Ibu Ghaida. Ibu yang tahu maksud Juna, mengangguk pelan.
"Sebentar lagi sesi terapi kamu, Da. Kamu sudah siap?" tanya Ibu.
"Siap Ibuku sayang. Ibu hari ini istirahat dulu sama Bapak, jalan-jalan. Ghaida sudah ada Mas Bayu."
"Kamu ya Da, ada Bayu, Ibu Bapak dilupain deh."
"Bukan gitu, Bu. Tapi kan dari kemarin sejak Ghaida di sini Ibu dan Bapak terus jaga dan nunggu Ghaida. Nanti Ibu Bapak capek, sakit lagi, repot deh semuanya."
"Iya. Bu, Pak. Hari ini biar saya yang nungguin Ghaida di rumah sakit. Ibu Bapak pulang saja dulu," ujar Juna.
"Oke kalau gitu. Yuk Pak, kita jalan-jalan dulu. Biar aja Ghaida sama Bayu di sini," Ibu beranjak dan menarik Bapak keluar kamar. Sedikit merasa terusir akan kehadiran 'Bayu', tapi Ibu tahu ini akan membuat Ghaida bahagia.
Bapak bergeming, melihat ke Juna, seperti ada yang ingin dikatakannya. Memang Bapak belum sekali pun berbicara sama Juna. Ibu yang mengurus semuanya saat memutuskan Juna membantu menjadi Bayu.
"Ayuk Bapak, kita jalan-jalan. Ke Mall. Ke cafe. Kemana aja, yuk ah," Ibu sekali lagi menarik Bapak keluar.
"Tolong jaga Ghaida, jangan buat dia sedih lagi ya," satu kalimat dari Bapak ke Juna sebelum pergi dari kamar. Juna sangat memahami maksud Bapak. Juna sadar bagi kedua orangtuanya, kebahagiaan Ghaida adalah kebahagiaan mereka.
Tak berapa lama, perawat datang ke kamar dan membawa kursi roda untuk membawa Ghaida ke ruang fisioterapi. Juna membantu Ghaida dan mengantarkan Ghaida ke ruang fisioterapi. Ghaida memulai sesi terapinya dengan dibantu 2 terapis. Dari mulai latihan peregangan otot kaki, latihan berdiri beberapa saat, latihan berjalan dengan palang bantuan, sampai terapi pijat kaki. Juna menemani setiap sesinya. Dan terlihat Ghaida kali ini jauh lebih semangat. Bahkan para perawat dan terapis bilang hari ini perkembangan Ghaida sangat baik. Diam-diam, Juna memperhatikan setiap usaha yang Ghaida lakukan. Walau peluh, Ghaida tetap menyelesaikan latihan per latihan. Tak ada keluhan, tak ada erangan sakit atau apa pun, terlihat Ghaida sangat menikmati sesi terapinya. Sesekali Ghaida melihat ke arah Juna, dan melihat Juna lantas tersenyum dan melambaikan tangannya. Juna balas tersenyum dan mengangguk.
"Ya Tuhan, sungguh beruntung Bayu memiliki istri seperti Ghaida. Dan beruntungnya Ghaida punya suami Bayu, mereka pasti saling mencintai satu sama lain. Kalau dia tahu gue ini siapa sebenarnya, gue pasti bakal jadi orang yang dia benci. Dan mungkin dia gak akan pernah maafin kesalahan gue. Sekarang gue harus fokus bantu Ghaida sembuh dan pulih seperti sebelumnya, terus sampai 2 minggu ke depan, gue harus bisa jagain dia, buat dia seneng, gak boleh sedih, dan menjadi pengganti Bayu dalam hidup dia. Semoga pilihan gue ini benar, terbaik buat dia, terbaik buat gue. Semoga Tuhan juga mau ngampuni dosa gue, karena gue udah mau nuker hidup gue dengan hidup Bayu yang sederhana saat ini. Cuma kayak gini yang bisa gue lakuin, yang bisa gue korbanin, supaya Ghaida bisa kembali bahagia. Semoga."
"Mas bayu?" sapa Ghaida, meski suara pelan tapi terdengar nada bahagia di dalam suaranya.
Juna sontak kaget, dan segera menyadari bahwa dirinya sudah mulai menjalani takdirnya. Mulai saat ini dia bukannya Juna, melainkan Bayu. Juna beranjak dari duduknya dan menghampiri Ghaida di sisi tempat tidurnya.
"Hai, Da. Sudah enakan?"
Ghaida mengangguk dan tersenyum lega, lesung pipitnya muncul, dan sesaat kemudian sebulir airmata mengalir dari sudut matanya. Juna hanya memandang tanpa bisa berkata. Meski sedang sakit dan dalam masa pemulihan, namun mata Ghaida terlihat berbinar-binar.
"Begitu cintanya wanita ini pada suaminya, bahkan tanpa bicara pun, matanya sudah terlihat mencinta sosok suaminya," Juna berkata dalam hatinya.
"Kamu... kenapa nangis? Ada yang sakit?" ujar Juna akhirnya. Inginnya dia menghapus airmata itu, tapi dirinya menahan agar tidak menyentuh Ghaida.
"Enggak, enggak kok. Aku gak nangis. Aku cuma gak percaya aja kamu ada di sini Mas. Sudah seminggu aku gak tahu kabar kamu dimana. Aku pikir kamu kenapa-napa. Syukurlah kamu sehat dan tidak ada apa-apa."
"Maaf Ghaida, kemarin saudaraku di Bandung ada yang sedang sakit dan butuh bantuanku. Jadi aku pergi ke Bandung, tapi aku sudah bilang ke Ibu, karena waktu itu mendadak sekali. Maaf ya Da."
"Gak apa Mas. Yang penting Mas udah di sini lagi. Ghaida pikir Mas pergi karena kondisi Ghaida seperti sekarang... Maaf ya Mas, aku ngerepotin kamu, aku udah buat kamu khawatir .. tapi aku udah sehat kok, tinggal terapi jalan saja," Ghaida bersemangat, bahkan terlihat sangat bahagia melihat sosok 'Bayu' di sampingnya lagi.
"Jangan ngomong gitu, aku yang minta maaf karena gak ada... di sisi kamu," Juna tertahan, karena yang dia ucapkan ada benarnya, bahwa Bayu memang sudah tidak ada di sisi Ghaida lagi, "padahal kamu pasti sangat membutuhkan aku saat seperti ini, maaf Ghaida .. aku minta maaf, aku tahu aku salah, karena meninggalkan kamu" entah mengapa Juna merasa sedih yang luar biasa, bahkan airmatanya kembali tergenang, benar kata Al bahwa rasa bersalah itu akan terus menghantui hidup Juna. Hingga detik ini pun, berat rasanya bagi Juna untuk membayangkan kemungkinan dirinya akan dipersalahkan dan dihukum karena perbuatan lalainya.
"Yang penting kan kita udah bareng lagi, Mas. Iya kan? buat aku yang penting kita bersama, itu sudah lebih dari cukup. 2 minggu lagi kan Mas harus pergi berlayar lagi kan.. jadi untuk waktu yang gak banyak ini, kita nikmatin aja .. kecelakaan yang lalu anggap musibah dan ujian buat kita. Aku yakin sebentar lagi aku bisa jalan lagi kok, kan ada Mas Bayu di sini, yang siap jagain dan nemenin aku terus, iya kan Mas?"
Juna tersenyum pilu, belum sanggup berkata, tapi perlahan dia mengangguk mengiyakan pertanyaan Ghaida. Ada sebuah janji yang muncul saat ini dalam benak Juna, bahwa dia akan membahagiakan Ghaida apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan wanita bersedih lagi, sampai tiba waktu bagi Ghaida siap melepaskan Bayu.
Pintu diketuk, Ibu dan Ayah datang. Begitu Ibu melihat Juna di sana, dan wajah Ghaida yang jelas terlihat kembali ceria, Ibu pun langsung memeluk Ghaida erat. Ibu menangis. Menangis sedih dan bahagia sekaligus. Sedih karena ia harus terpaksa membohongi putri satu-satunya ini dengan meminta orang lain menjadi suaminya yang harusnya sudah tiada. Tapi ia juga bahagia, karena dia tahu putrinya sudah kembali merasakan bahagia ketika sosok Bayu di sisinya, kembali menemani hari-harinya.
"Bu, Ibu kenapa? Kok nangis sih? Ghaida kan udah baikan Bu. Ada apa sih Bu?" Ghaida yang heran menerima pelukan erat Ibunya yang menangis, bertanya.
Ibu melepaskan pelukannya, mengelus rambut hitam Ghaida, lantas tersenyum, "Ibu seneng Da, lihat kamu seneng lagi, apalagi Bayu udah pulang. Kamu pasti seneng kan Bayu nemenin kamu lagi?"
"Gak usah ditanya, Bu. Itu mah pasti," jawab Ghaida ringan.
Tiba-tiba tangan Ghaida memegang tangan Juna. Menggenggamnya dan menariknya untuk duduk di sisi tempat tidur. Juna canggung, takut salah, lalu dia melihat ke Ibu Ghaida. Ibu yang tahu maksud Juna, mengangguk pelan.
"Sebentar lagi sesi terapi kamu, Da. Kamu sudah siap?" tanya Ibu.
"Siap Ibuku sayang. Ibu hari ini istirahat dulu sama Bapak, jalan-jalan. Ghaida sudah ada Mas Bayu."
"Kamu ya Da, ada Bayu, Ibu Bapak dilupain deh."
"Bukan gitu, Bu. Tapi kan dari kemarin sejak Ghaida di sini Ibu dan Bapak terus jaga dan nunggu Ghaida. Nanti Ibu Bapak capek, sakit lagi, repot deh semuanya."
"Iya. Bu, Pak. Hari ini biar saya yang nungguin Ghaida di rumah sakit. Ibu Bapak pulang saja dulu," ujar Juna.
"Oke kalau gitu. Yuk Pak, kita jalan-jalan dulu. Biar aja Ghaida sama Bayu di sini," Ibu beranjak dan menarik Bapak keluar kamar. Sedikit merasa terusir akan kehadiran 'Bayu', tapi Ibu tahu ini akan membuat Ghaida bahagia.
Bapak bergeming, melihat ke Juna, seperti ada yang ingin dikatakannya. Memang Bapak belum sekali pun berbicara sama Juna. Ibu yang mengurus semuanya saat memutuskan Juna membantu menjadi Bayu.
"Ayuk Bapak, kita jalan-jalan. Ke Mall. Ke cafe. Kemana aja, yuk ah," Ibu sekali lagi menarik Bapak keluar.
"Tolong jaga Ghaida, jangan buat dia sedih lagi ya," satu kalimat dari Bapak ke Juna sebelum pergi dari kamar. Juna sangat memahami maksud Bapak. Juna sadar bagi kedua orangtuanya, kebahagiaan Ghaida adalah kebahagiaan mereka.
Tak berapa lama, perawat datang ke kamar dan membawa kursi roda untuk membawa Ghaida ke ruang fisioterapi. Juna membantu Ghaida dan mengantarkan Ghaida ke ruang fisioterapi. Ghaida memulai sesi terapinya dengan dibantu 2 terapis. Dari mulai latihan peregangan otot kaki, latihan berdiri beberapa saat, latihan berjalan dengan palang bantuan, sampai terapi pijat kaki. Juna menemani setiap sesinya. Dan terlihat Ghaida kali ini jauh lebih semangat. Bahkan para perawat dan terapis bilang hari ini perkembangan Ghaida sangat baik. Diam-diam, Juna memperhatikan setiap usaha yang Ghaida lakukan. Walau peluh, Ghaida tetap menyelesaikan latihan per latihan. Tak ada keluhan, tak ada erangan sakit atau apa pun, terlihat Ghaida sangat menikmati sesi terapinya. Sesekali Ghaida melihat ke arah Juna, dan melihat Juna lantas tersenyum dan melambaikan tangannya. Juna balas tersenyum dan mengangguk.
"Ya Tuhan, sungguh beruntung Bayu memiliki istri seperti Ghaida. Dan beruntungnya Ghaida punya suami Bayu, mereka pasti saling mencintai satu sama lain. Kalau dia tahu gue ini siapa sebenarnya, gue pasti bakal jadi orang yang dia benci. Dan mungkin dia gak akan pernah maafin kesalahan gue. Sekarang gue harus fokus bantu Ghaida sembuh dan pulih seperti sebelumnya, terus sampai 2 minggu ke depan, gue harus bisa jagain dia, buat dia seneng, gak boleh sedih, dan menjadi pengganti Bayu dalam hidup dia. Semoga pilihan gue ini benar, terbaik buat dia, terbaik buat gue. Semoga Tuhan juga mau ngampuni dosa gue, karena gue udah mau nuker hidup gue dengan hidup Bayu yang sederhana saat ini. Cuma kayak gini yang bisa gue lakuin, yang bisa gue korbanin, supaya Ghaida bisa kembali bahagia. Semoga."
[TO BE CONTINUED]