PART 3 : IRONI JUNA
Juna bingung. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba wanita ini terbangun dan memanggilnya.
“Maaf, saya, saya salah masuk kamar. Permisi,” Juna hendak pergi dari
kamar Ghaida. Dia ternyata masih belum sanggup menghadapi Ghaida dan mengakui
kesalahannya. Tapi Ghaida menahan tangan Juna saat Juna ingin pergi.
“Mas Bayu! Kamu mau kemana?? Kamu, kamu gak apa-apa kan Mas?? Aku kira kamu
kenapa-napa,” ujar Ghaida, tampak kelegaan di wajahnya. Senyumnya begitu
bahagia. Juna memandangnya dengan tertegun. Sesaat tidak tahu harus berbuat
apa. Lalu Ghaida menarik tangannya, dan tiba-tiba memeluk pinggang Juna. Juna
kaget, kenapa Ghaida malah memeluknya.
“Jangan-jangan … wanita ini terganggu jiwanya karena tahu suaminya
sudah meninggal,” pikir Juna. Bingung.
“Aku yakin Mas Bayu gak apa-apa. Aku tadi takut sekali Mas, takut
kehilangan Mas Bayu. Aku bisa gila,Mas. Bisa gila kalau kamu tidak ada.
Untunglah kamu selamat Mas. Kamu tidak terluka sedikit pun, biar aku saja yang
terluka, asal kamu selamat,” Ghaida tidak bisa menahan rasa bahagianya karena
baginya Bayu sudah kembali.
Juna masih bingung dengan yang sedang terjadi. Tiba-tiba pintu kamar
terbuka, dan Juna melihat kedua orangtua Ghaida masuk ke kamar. Ibu dan Ayah
Ghaida terkejut. Juna tahu mereka pasti kaget melihat anak mereka yang sedang
sakit memeluk laki-laki asing di dalam kamar. Juna serta merta melepaskan
tangan Ghaida yang melingkar di pinggangnya. Lalu melesat keluar kamar. Tapi
Juna bisa mendengar Ghaida memanggil nama Bayu di belakangnya.
Ayah Ghaida menenangkan Ghaida, tapi Ibu Ghaida malah mengejar Juna.
Ibu Ghaida merasa ada yang salah. Tapi mungkin ini pertanda baik buat Ghaida.
Mungkin ini kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida.
“Tunggu! Saya ingin bicara, bisa kita bicara?” tahan Ibu Ghaida. Juna
berhenti berjalan. Menoleh dan melihat Ibu Ghaida.
“Ibu memanggil saya?” tanya Juna. Ibu Ghaida mendekati Juna.
“Ya Allah, tidak mungkin, ini mukjizat. Kamu, kamu mirip sekali …” Ibu
Ghaida melihat wajah Juna dengan tatapan tidak percaya. Juna tidak mengerti
maksud perkataan Ibu Ghaida.
“Mirip? Maksudnya Ibu apa ya? Saya tidak mengerti, maaf.”
“Pantas saja Ghaida memanggilmu Bayu, dia menganggapmu suaminya. Kamu
mirip sekali dengan Bayu, Nak. Ya Allah, mungkin ini pertanda baik untuk
Ghaida,” terlihat binar bahagia di mata Ibu Ghaida.
“Saya? Maksud Ibu saya mirip suami anak Ibu?” Juna tidak percaya tapi
mengerti kenapa Ghaida tadi tiba-tiba memeluknya.
“Betul sekali, Nak. Kamu mirip suaminya, tapi…tapi dia, dia sudah
meninggal,” terdengar nada sedih dalam ucapan Ibu Ghaida, Juna jadi merasa
tidak enak, “Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa ada di kamar Ghaida? Dan siapa
namamu?”
Degg !! Juna bingung mau menjawab apa, saat seperti ini, dia tidak mungkin
memberitahu Ibu Ghaida bahwa ia datang untuk mengakui kesalahannya.
“Saya Juna,Bu. Saya mau jenguk teman saya, tapi tampaknya saya salah
masuk kamar tadi Bu. Maaf. Saya harus pergi dulu, Bu.”
Juna ingin berjalan kembali. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini
berlarut-larut. Ini di luar dugaan, kalau ternyata wajahnya mirip dengan wajah
Bayu, suami Ghaida.
“Tunggu, tunggu Nak Juna. Ibu mohon jangan pergi dulu. Tolong bantu
Ibu, kita kembali ke kamar Ghaida yah. Dia pasti mencari-carimu. Karena dia
merasa kamu suaminya. Dia belum tahu kalau Bayu sudah meninggal. Ibu
mohon, Nak Juna. Sebentar saja.
Bisakah?” pinta Ibu Ghaida. Tatapannya saat melihat Juna penuh harapan. Dia
merasa Juna adalah jawaban atas doanya untuk kelanjutan hidup Ghaida.
“Maksud Ibu apa? Saya harus pura-pura jadi Bayu?? Maaf, Bu. Tapi saya
benar-benar tidak bisa. Saya harus pergi sekarang. Maaf sekali, Bu. Permisi,”
Juna dengan halus dan sadar menolak permintaan Ibu Ghaida. Lalu Juna melangkah
pergi meninggalkan Ibu Ghaida. Tampak tidak peduli ketika Ibu Ghaida
memanggilnya.
“Nak Juna, Ibu tahu itu hal yang sulit, tapi Ibu mohon Nak. Tolong
bantu Ibu. Sekali ini saja, Nak Juna .. Nak Junaaaa,” panggil Ibu Ghaida. Tapi
Juna tidak menoleh sedikit pun.
Bukan tidak peduli. Tapi Juna merasa akan menjadi kesalahan selanjutnya
jika dia harus kembali ke kamar itu dan berpura-pura menjadi Bayu. Berpura-pura
menjadi laki-laki yang sudah dia hilangkan nyawanya. Takdirkah? Ironiskah?
Bahwa wajah Juna ternyata mirip dengan Bayu. Juna mengendarai mobilnya, bukan
ke rumahnya tapi ke rumah Al. Juna harus menceritakan semuanya ke sahabatnya
itu.
Di kamarnya, Ghaida sudah lebih tenang. Meski begitu dia
bertanya-tanya, kenapa Bayu yang ia temui tadi seperti tidak mengenalnya. Ayah
Ghaida menjelaskan kalau itu tidak mungkin. Mungkin Ghaida salah dengar
perkataan Bayu. Ibu kembali ke kamar dengan wajah kecewa dan sedih. Ayah
memberi isyarat untuk mereka bicara di luar.
“Ibu tadi darimana? Bukannya tadi bantu Ayah menenangkan Ghaida, Ibu
malah pergi,” kata Ayah kesal.
“Ibu tadi mengejar Juna, Yah.”
“Juna? Laki-laki yang tadi kita lihat di kamar Ghaida?”
“Iya. Ayah lihat sendiri kan ?
Kalau Juna memiliki wajah Bayu. Ibu, Ibu hanya merasa ini kesempatan baik,
pertanda baik buat Ghaida, Yah.”
“Maksud Ibu apa? Ayah gak ngerti.”
“Mungkin Tuhan mengirim dia, laki-laki itu, untuk … untuk menggantikan
Bayu, Yah.”
“Ibu! Ibu tuh ngomong apa sih? Jangan melantur ah! Ini bukan saat yang
tepat untuk melakukan hal-hal konyol seperti itu. Kita sama-sama tahu,
laki-laki itu bukan Bayu, dia orang asing yang belum kita kenal. Jangan
sekalipun Ibu berpikir yang tidak-tidak ya,”Ayah Ghaida berkata tegas ke
istrinya. Bahwa apa yang dipikirkan Ibu, tidak mungkin bisa terjadi.
“Tapi Yah, bagaimana kita menjelaskan ke anak kita nanti?? Ayah mau
Ghaida tertekan, stress, dan, dan mungkin saja, mungkin saja Ghaida bisa
terganggu jiwanya,” Ibu khawatir.
“Hush! Ibu jangan mikir yang tidak-tidak. Kenapa sih Ibu ini suka
berlebihan. Lambat laun, mau tidak mau, Ghaida harus tahu, kalau Bayu.. Bayu
sudah tiada,” Ayah menurunkan volume suaranya agar Ghaida tidak mendengarnya.
“Tapi Ibu hanya ingin Ghaida bahagia, Yah. Dan bahagia Ghaida bersama
Bayu. Kalau dia tahu Bayu tiada, dimana ia akan bahagia lagi?? Ayah mau anak
kita seperti itu?? Ayah mau??” Ibu meyakinkan Ayah bahwa kemungkinan terburuk
akan Ghaida tetap ada.
“Mana ada orangtua yang ingin anaknya menderita, Bu? Tapi kita tidak
bisa memikirkan hal lain saat ini selain menyembuhkan Ghaida, dan mengurus
pemakaman Bayu. Sudah lah, kita pikirkan lain kali. Sekarang Ibu kembali ke
kamar, Ayah harus mengantar jenazah Bayu ke rumah. Lalu mengurus pemakamannya
sore ini. Ayah pergi dulu. Salam buat Ghaida ya.”
Ibu Ghaida hanya menghela nafas, peluang dan kesempatan untuk
mengembalikan kebahagiaan Ghaida pupus sudah. Ibu masuk kembali ke kamar.
Ghaida sudah menunggu Ibunya dengan penasaran.
“Ibu ngomongin apa sih sama Ayah? Kok sampai ngomong di luar?”
“Gak apa-apa, Da, Ayah hanya harus pergi sebentar, mau mengurus sesuatu
dulu. Kamu sudah makan makanannya belum?” Ibu melihat baki makanan Ghaida,
sudah terbuka dan makanannya habis, “Kamu sudah makan ya?”
“Iya Bu. Sudah. Tadi saat Ayah tungguin Ghaida.”
“Bagus,Nak. Kamu memang harus banyak makan, biar cepat pulih dan pulang
ke rumah,” Ibu Ghaida lega karena anaknya sudah mau makan lagi.
“Ghaida sudah mau makan, karena Ghaida sudah lega, Bu. Ghaida lega
karena Mas Bayu selamat dan terlihat sehat tadi. Ghaida lihat dia tidak terluka
sekalipun. Tapi, kok Mas Bayu seperti tidak mengenal Ghaida ya Bu? Ada apa sama Mas Bayu ya
Bu? Kenapa dia pergi buru-buru tadi?”
Ibu Ghaida bingung harus menjawab. Karena memang tidak jawaban. Karena
tidak ada Bayu.
“Oh, itu… itu, mungkin Bayu merasa bersalah, karena sudah membuat kamu
menjadi seperti ini. Jadi dia gugup. Apalagi saat melihat Ibu dan Ayah tadi,
mungkin dia tidak enak. Jadi langsung pergi. Sudah ya, Da. Kamu harus istirahat
lagi. Kita bicara tentang Bayu nanti saja. Sekarang yang penting kamu pulih dan
cepat pulang,” Ibu Ghaida berbohong akhirnya, menyusun kata-kata agar Ghaida
tidak curiga dan aneh atas yang terjadi tadi.
“Iya, Ibu. Tapi Ghaida mau Mas Bayu temenin Ghaida di sini. Gak
seharusnya dia merasa bersalah. Ini bukan salah Mas Bayu. Ini memang sudah
takdir. Sudah jalannya. Namanya juga musibah. Tolong panggil Mas Bayu ke sini
ya, Bu. Pleaseee, Ghaida mau bicara sama Mas Bayu, biar dia tidak merasa
bersalah lagi, tolong ya Bu..,” Ghaida memohon ke Ibunya, pemintaan yang
mungkin sulit diwujudkan. Bagaimana caranya mengajak Juna untuk kembali bertemu
Ghaida, dan memintanya berpura-pura menjadi Bayu?
Ibu masih belum menemukan jawabannya, tapi dia mengangguk sambil
tersenyum sedih, Ghaida senang dan memeluk Ibunya. Ibu hanya berdoa dalam
hatinya, memohon untuk ada jalan terbaik bagi Ghaida.
“Lo? Lo mirip sama orang yang lo tabrak?? Yakin lo?” Al tidak percaya dengan apa yang Juna
ceritakan barusan.
Juna mengangguk, dan tampak di wajahnya kebingungan atas apa yang
terjadi.
“Terus, lo diminta Ibunya buat pura-pura jadi suaminya? Gitu?”
Juna mengangguk lagi.
“How come?? Aneh banget takdir lo, Jun. Ini mungkin pertanda, Jun. Iya,
ini pertanda. Gue yakin itu.”
“Maksud lo apa? Kenapa lo jadi kayak Ibunya Ghaida? Pertanda,
pertanda.. apa sih maksudnya pertanda?” Juna kesal ke Al yang tiba-tiba berlagak seperti peramal, bicara pertanda segala.
“Iya, pertanda, ini pertanda baik. Lo tahu gak, ini sebenarnya
satu-satunya jalan keluar masalah lo.”
“Maksud lo apa sih, Al? Yang jelas dong kalo ngomong, gue lagi gak mau
mikir yang susah-susah, kepala gue udah banyak pikiran,” Juna masih belum
menangkap maksud Al.
“Ok, ok. Gini Bro maksud gue, lo kan
mirip sama suaminya, terus nyokapnya juga minta lo pura-pura jadi suaminya, lo
ambil aja kesempatan ini buat nebus kesalahan lo, Bro. Mereka gak perlu tahu lo
pelaku tabrak lari yang nyebabin suaminya meninggal, tapi lo bisa nebus
kesalahan yang pastinya bisa bikin perasaan lo lebih tenang. Nanti kalau memang
keadaan sudah membaik, sudah tenang. Lo baru bisa akuin yang sebenernya. Gitu
Jun maksud gue,” jelas Al.
“Hah? Maksud lo, gue mesti pura-pura jadi suaminya?! Gila apa lo, Al?!”
Juna kaget sama jalan pikiran Al yang sama dengan jalan pikiran Ibu Ghaida.
“Heh, yang gila itu lo, Jun! Lo yang tabrak lari, lo juga yang mau lari
dari masalah. Bukan gue yang lakuin itu semua. Gue kan cuma nyaranin sesuatu yang menurut gue
ini jalan yang terbaik. Lo bisa nebus kesalahan lo tanpa orang-orang tahu lo
berbuat salah, dan cewek itu juga bisa tetep bahagia karena gak kehilangan
suaminya. Win-win solution itu namanya, Jun. Bukan gila! Sekarang terserah lo
aja, gue udah coba nyaranin. Lo pikir baik-baik dulu. Pas pikiran lo udah
tenang. Baru lo ambil keputusan. Tapi pesen gue, keputusan apa pun yang lo
ambil, semua ada resikonya.”
Juna menghela nafas panjang. Dia masih harus berpikir apa yang harus
dia lakukan. Pilihan yang ditawarkan padanya bukan hal yang buruk, tapi juga
bukan hal yang baik. Berpura-pura untuk menjadi Bayu bukan hal benar, karena
itu artinya dia akan membohongi Ghaida. Untuk yang kedua kalinya. Dan Juna
menghindari itu karena tahu itu salah. Tapi di satu sisi, dengan menjadi Bayu,
itu berarti akan membawa kebahagiaan Ghaida kembali, menebus kesalahannya, dan
menenangkan hatinya. Dan untuk saat ini, mungkin hal itu terlihat yang paling
benar, meski tak sepenuhnya benar.
(To Be Continued)