25 Jun 2014

Lie To Me, Please [3]

PART 3 : IRONI JUNA

Juna bingung. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba wanita ini terbangun dan memanggilnya.
“Maaf, saya, saya salah masuk kamar. Permisi,” Juna hendak pergi dari kamar Ghaida. Dia ternyata masih belum sanggup menghadapi Ghaida dan mengakui kesalahannya. Tapi Ghaida menahan tangan Juna saat Juna ingin pergi.
“Mas Bayu! Kamu mau kemana?? Kamu, kamu gak apa-apa kan Mas?? Aku kira kamu kenapa-napa,” ujar Ghaida, tampak kelegaan di wajahnya. Senyumnya begitu bahagia. Juna memandangnya dengan tertegun. Sesaat tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Ghaida menarik tangannya, dan tiba-tiba memeluk pinggang Juna. Juna kaget, kenapa Ghaida malah memeluknya.
“Jangan-jangan … wanita ini terganggu jiwanya karena tahu suaminya sudah meninggal,” pikir Juna. Bingung.
“Aku yakin Mas Bayu gak apa-apa. Aku tadi takut sekali Mas, takut kehilangan Mas Bayu. Aku bisa gila,Mas. Bisa gila kalau kamu tidak ada. Untunglah kamu selamat Mas. Kamu tidak terluka sedikit pun, biar aku saja yang terluka, asal kamu selamat,” Ghaida tidak bisa menahan rasa bahagianya karena baginya Bayu sudah kembali.
Juna masih bingung dengan yang sedang terjadi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Juna melihat kedua orangtua Ghaida masuk ke kamar. Ibu dan Ayah Ghaida terkejut. Juna tahu mereka pasti kaget melihat anak mereka yang sedang sakit memeluk laki-laki asing di dalam kamar. Juna serta merta melepaskan tangan Ghaida yang melingkar di pinggangnya. Lalu melesat keluar kamar. Tapi Juna bisa mendengar Ghaida memanggil nama Bayu di belakangnya.
Ayah Ghaida menenangkan Ghaida, tapi Ibu Ghaida malah mengejar Juna. Ibu Ghaida merasa ada yang salah. Tapi mungkin ini pertanda baik buat Ghaida. Mungkin ini kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida.
“Tunggu! Saya ingin bicara, bisa kita bicara?” tahan Ibu Ghaida. Juna berhenti berjalan. Menoleh dan melihat Ibu Ghaida.
“Ibu memanggil saya?” tanya Juna. Ibu Ghaida mendekati Juna.
“Ya Allah, tidak mungkin, ini mukjizat. Kamu, kamu mirip sekali …” Ibu Ghaida melihat wajah Juna dengan tatapan tidak percaya. Juna tidak mengerti maksud perkataan Ibu Ghaida.
“Mirip? Maksudnya Ibu apa ya? Saya tidak mengerti, maaf.”
“Pantas saja Ghaida memanggilmu Bayu, dia menganggapmu suaminya. Kamu mirip sekali dengan Bayu, Nak. Ya Allah, mungkin ini pertanda baik untuk Ghaida,” terlihat binar bahagia di mata Ibu Ghaida.
“Saya? Maksud Ibu saya mirip suami anak Ibu?” Juna tidak percaya tapi mengerti kenapa Ghaida tadi tiba-tiba memeluknya.
“Betul sekali, Nak. Kamu mirip suaminya, tapi…tapi dia, dia sudah meninggal,” terdengar nada sedih dalam ucapan Ibu Ghaida, Juna jadi merasa tidak enak, “Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa ada di kamar Ghaida? Dan siapa namamu?”
Degg !! Juna bingung mau menjawab apa, saat seperti ini, dia tidak mungkin memberitahu Ibu Ghaida bahwa ia datang untuk mengakui kesalahannya.
“Saya Juna,Bu. Saya mau jenguk teman saya, tapi tampaknya saya salah masuk kamar tadi Bu. Maaf. Saya harus pergi dulu, Bu.”
Juna ingin berjalan kembali. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut. Ini di luar dugaan, kalau ternyata wajahnya mirip dengan wajah Bayu, suami Ghaida.
“Tunggu, tunggu Nak Juna. Ibu mohon jangan pergi dulu. Tolong bantu Ibu, kita kembali ke kamar Ghaida yah. Dia pasti mencari-carimu. Karena dia merasa kamu suaminya. Dia belum tahu kalau Bayu sudah meninggal. Ibu mohon,  Nak Juna. Sebentar saja. Bisakah?” pinta Ibu Ghaida. Tatapannya saat melihat Juna penuh harapan. Dia merasa Juna adalah jawaban atas doanya untuk kelanjutan hidup Ghaida.
“Maksud Ibu apa? Saya harus pura-pura jadi Bayu?? Maaf, Bu. Tapi saya benar-benar tidak bisa. Saya harus pergi sekarang. Maaf sekali, Bu. Permisi,” Juna dengan halus dan sadar menolak permintaan Ibu Ghaida. Lalu Juna melangkah pergi meninggalkan Ibu Ghaida. Tampak tidak peduli ketika Ibu Ghaida memanggilnya.
“Nak Juna, Ibu tahu itu hal yang sulit, tapi Ibu mohon Nak. Tolong bantu Ibu. Sekali ini saja, Nak Juna .. Nak Junaaaa,” panggil Ibu Ghaida. Tapi Juna tidak menoleh sedikit pun.
Bukan tidak peduli. Tapi Juna merasa akan menjadi kesalahan selanjutnya jika dia harus kembali ke kamar itu dan berpura-pura menjadi Bayu. Berpura-pura menjadi laki-laki yang sudah dia hilangkan nyawanya. Takdirkah? Ironiskah? Bahwa wajah Juna ternyata mirip dengan Bayu. Juna mengendarai mobilnya, bukan ke rumahnya tapi ke rumah Al. Juna harus menceritakan semuanya ke sahabatnya itu.

                                                                                       
Di kamarnya, Ghaida sudah lebih tenang. Meski begitu dia bertanya-tanya, kenapa Bayu yang ia temui tadi seperti tidak mengenalnya. Ayah Ghaida menjelaskan kalau itu tidak mungkin. Mungkin Ghaida salah dengar perkataan Bayu. Ibu kembali ke kamar dengan wajah kecewa dan sedih. Ayah memberi isyarat untuk mereka bicara di luar.
“Ibu tadi darimana? Bukannya tadi bantu Ayah menenangkan Ghaida, Ibu malah pergi,” kata Ayah kesal.
“Ibu tadi mengejar Juna, Yah.”
“Juna? Laki-laki yang tadi kita lihat di kamar Ghaida?”
“Iya. Ayah lihat sendiri kan? Kalau Juna memiliki wajah Bayu. Ibu, Ibu hanya merasa ini kesempatan baik, pertanda baik buat Ghaida, Yah.”
“Maksud Ibu apa? Ayah gak ngerti.”
“Mungkin Tuhan mengirim dia, laki-laki itu, untuk … untuk menggantikan Bayu, Yah.”
“Ibu! Ibu tuh ngomong apa sih? Jangan melantur ah! Ini bukan saat yang tepat untuk melakukan hal-hal konyol seperti itu. Kita sama-sama tahu, laki-laki itu bukan Bayu, dia orang asing yang belum kita kenal. Jangan sekalipun Ibu berpikir yang tidak-tidak ya,”Ayah Ghaida berkata tegas ke istrinya. Bahwa apa yang dipikirkan Ibu, tidak mungkin bisa terjadi.
“Tapi Yah, bagaimana kita menjelaskan ke anak kita nanti?? Ayah mau Ghaida tertekan, stress, dan, dan mungkin saja, mungkin saja Ghaida bisa terganggu jiwanya,” Ibu khawatir.
“Hush! Ibu jangan mikir yang tidak-tidak. Kenapa sih Ibu ini suka berlebihan. Lambat laun, mau tidak mau, Ghaida harus tahu, kalau Bayu.. Bayu sudah tiada,” Ayah menurunkan volume suaranya agar Ghaida tidak mendengarnya.
“Tapi Ibu hanya ingin Ghaida bahagia, Yah. Dan bahagia Ghaida bersama Bayu. Kalau dia tahu Bayu tiada, dimana ia akan bahagia lagi?? Ayah mau anak kita seperti itu?? Ayah mau??” Ibu meyakinkan Ayah bahwa kemungkinan terburuk akan Ghaida tetap ada.
“Mana ada orangtua yang ingin anaknya menderita, Bu? Tapi kita tidak bisa memikirkan hal lain saat ini selain menyembuhkan Ghaida, dan mengurus pemakaman Bayu. Sudah lah, kita pikirkan lain kali. Sekarang Ibu kembali ke kamar, Ayah harus mengantar jenazah Bayu ke rumah. Lalu mengurus pemakamannya sore ini. Ayah pergi dulu. Salam buat Ghaida ya.”
Ibu Ghaida hanya menghela nafas, peluang dan kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan Ghaida pupus sudah. Ibu masuk kembali ke kamar. Ghaida sudah menunggu Ibunya dengan penasaran.
“Ibu ngomongin apa sih sama Ayah? Kok sampai ngomong di luar?”
“Gak apa-apa, Da, Ayah hanya harus pergi sebentar, mau mengurus sesuatu dulu. Kamu sudah makan makanannya belum?” Ibu melihat baki makanan Ghaida, sudah terbuka dan makanannya habis, “Kamu sudah makan ya?”
“Iya Bu. Sudah. Tadi saat Ayah tungguin Ghaida.”
“Bagus,Nak. Kamu memang harus banyak makan, biar cepat pulih dan pulang ke rumah,” Ibu Ghaida lega karena anaknya sudah mau makan lagi.
“Ghaida sudah mau makan, karena Ghaida sudah lega, Bu. Ghaida lega karena Mas Bayu selamat dan terlihat sehat tadi. Ghaida lihat dia tidak terluka sekalipun. Tapi, kok Mas Bayu seperti tidak mengenal Ghaida ya Bu? Ada apa sama Mas Bayu ya Bu? Kenapa dia pergi buru-buru tadi?”
Ibu Ghaida bingung harus menjawab. Karena memang tidak jawaban. Karena tidak ada Bayu.
“Oh, itu… itu, mungkin Bayu merasa bersalah, karena sudah membuat kamu menjadi seperti ini. Jadi dia gugup. Apalagi saat melihat Ibu dan Ayah tadi, mungkin dia tidak enak. Jadi langsung pergi. Sudah ya, Da. Kamu harus istirahat lagi. Kita bicara tentang Bayu nanti saja. Sekarang yang penting kamu pulih dan cepat pulang,” Ibu Ghaida berbohong akhirnya, menyusun kata-kata agar Ghaida tidak curiga dan aneh atas yang terjadi tadi.
“Iya, Ibu. Tapi Ghaida mau Mas Bayu temenin Ghaida di sini. Gak seharusnya dia merasa bersalah. Ini bukan salah Mas Bayu. Ini memang sudah takdir. Sudah jalannya. Namanya juga musibah. Tolong panggil Mas Bayu ke sini ya, Bu. Pleaseee, Ghaida mau bicara sama Mas Bayu, biar dia tidak merasa bersalah lagi, tolong ya Bu..,” Ghaida memohon ke Ibunya, pemintaan yang mungkin sulit diwujudkan. Bagaimana caranya mengajak Juna untuk kembali bertemu Ghaida, dan memintanya berpura-pura menjadi Bayu?
Ibu masih belum menemukan jawabannya, tapi dia mengangguk sambil tersenyum sedih, Ghaida senang dan memeluk Ibunya. Ibu hanya berdoa dalam hatinya, memohon untuk ada jalan terbaik bagi Ghaida.


“Lo? Lo mirip sama orang yang lo tabrak?? Yakin lo?”  Al tidak percaya dengan apa yang Juna ceritakan barusan.
Juna mengangguk, dan tampak di wajahnya kebingungan atas apa yang terjadi.
“Terus, lo diminta Ibunya buat pura-pura jadi suaminya? Gitu?”
Juna mengangguk lagi.
“How come?? Aneh banget takdir lo, Jun. Ini mungkin pertanda, Jun. Iya, ini pertanda. Gue yakin itu.”
“Maksud lo apa? Kenapa lo jadi kayak Ibunya Ghaida? Pertanda, pertanda.. apa sih maksudnya pertanda?” Juna kesal ke Al yang tiba-tiba berlagak seperti peramal, bicara pertanda segala.
“Iya, pertanda, ini pertanda baik. Lo tahu gak, ini sebenarnya satu-satunya jalan keluar masalah lo.”
“Maksud lo apa sih, Al? Yang jelas dong kalo ngomong, gue lagi gak mau mikir yang susah-susah, kepala gue udah banyak pikiran,” Juna masih belum menangkap maksud Al.
“Ok, ok. Gini Bro maksud gue, lo kan mirip sama suaminya, terus nyokapnya juga minta lo pura-pura jadi suaminya, lo ambil aja kesempatan ini buat nebus kesalahan lo, Bro. Mereka gak perlu tahu lo pelaku tabrak lari yang nyebabin suaminya meninggal, tapi lo bisa nebus kesalahan yang pastinya bisa bikin perasaan lo lebih tenang. Nanti kalau memang keadaan sudah membaik, sudah tenang. Lo baru bisa akuin yang sebenernya. Gitu Jun maksud gue,” jelas Al.
“Hah? Maksud lo, gue mesti pura-pura jadi suaminya?! Gila apa lo, Al?!” Juna kaget sama jalan pikiran Al yang sama dengan jalan pikiran Ibu Ghaida.
“Heh, yang gila itu lo, Jun! Lo yang tabrak lari, lo juga yang mau lari dari masalah. Bukan gue yang lakuin itu semua. Gue kan cuma nyaranin sesuatu yang menurut gue ini jalan yang terbaik. Lo bisa nebus kesalahan lo tanpa orang-orang tahu lo berbuat salah, dan cewek itu juga bisa tetep bahagia karena gak kehilangan suaminya. Win-win solution itu namanya, Jun. Bukan gila! Sekarang terserah lo aja, gue udah coba nyaranin. Lo pikir baik-baik dulu. Pas pikiran lo udah tenang. Baru lo ambil keputusan. Tapi pesen gue, keputusan apa pun yang lo ambil, semua ada resikonya.”

Juna menghela nafas panjang. Dia masih harus berpikir apa yang harus dia lakukan. Pilihan yang ditawarkan padanya bukan hal yang buruk, tapi juga bukan hal yang baik. Berpura-pura untuk menjadi Bayu bukan hal benar, karena itu artinya dia akan membohongi Ghaida. Untuk yang kedua kalinya. Dan Juna menghindari itu karena tahu itu salah. Tapi di satu sisi, dengan menjadi Bayu, itu berarti akan membawa kebahagiaan Ghaida kembali, menebus kesalahannya, dan menenangkan hatinya. Dan untuk saat ini, mungkin hal itu terlihat yang paling benar, meski tak sepenuhnya benar.

(To Be Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar