25 Jun 2014

Lie To Me, Please [2]


Part 2 : WHERE ARE YOU?

   Juna sampai di rumahnya. Dia masih terdiam di dalam mobil. Kejadian tadi masih jelas teringat. Perasaannya masih tidak karuan. Juna berusaha menepis perasaannya itu. Karena Mamanya sudah menunggunya di dalam. Dia melihat jam tangannya, sudah pukul 00.30. Sudah lewat tengah malam, dan hari pun sudah berubah. Keinginan Mamanya untuk merayakan ulangtahun Juna pun mungkin akan sia-sia. Karena Juna sedang tidak ingin merayakan apa-apa lagi setelah kejadian kecelakaan tadi.
Juna masuk ke dalam rumah, dan melihat kue ulangtahun di atas meja makan. Tapi Juna tidak menemukan Mamanya di sana. Baru saja Juna ingin beranjak ke kamarnya, untuk menenangkan diri, menjauhi masalah yang baru ia sebabkan, Mama Juna datang.
“Juna, kamu sudah pulang? Kamu terlambat sayang, tapi Mama sudah belikan kamu kue ulangtahun. Kita potong sekarang ya, yuk,” ajak Mamanya, yang tidak tahu sama sekali apa yang baru terjadi pada Juna.
Inginnya Juna untuk merayakan ulangtahun dengan Mamanya. Tapi perasaannya sedang tak karuan, pikirannya pun sedang kemana-mana. Padahal sangat jarang orangtuanya ingat ulangtahunnya.
“Maaf Ma, tapi Juna harus melakukan sesuatu tadi. Jadi Juna terlambat. Dan, Juna lelah sekali Ma, mau istirahat,” kata Juna, mimic wajah Mama terlihat kecewa, “tapi makasih ya, Ma. Udah ingat ulangtahun Juna. Itu udah berarti banget buat Juna, maafin Juna juga kalau belum bisa jadi anak yang baik buat Mama … mungkin, mungkin Juna sudah melakukan sesuatu yang bikin orang lain susah, maafin Juna ya Ma,” Juna memeluk Mamanya, bukan hanya karena terimakasih atas perhatian Mamanya hari ini, tapi lebih pada mencari perlindungan perasaan Juna. Juna takut. Takut akan hal yang akan terjadi karena akibat kecelakaan tadi.
“Kok minta maaf Jun? Mama yang minta maaf sama kamu, karena lupa. Tadi Papa juga sudah telepon Mama dari Hongkong, ngucapin selamat ulangtahun buat kamu. Kamu jangan ngomong gitu lagi ya Juna .. we love you, so much .. oya, ini kado dari Mama buat kamu. Hope you like it.”
“Thanks, Ma.”
Juna melepas pelukan Mamanya, dan sekali lagi mengucapkan terimakasih. Mama Juna menyuruh Juna untuk istirahat saja sekarang, mereka akan potong kue itu besok. Kado dari Mamanya dia taruh begitu saja di meja. Seharusnya hari ini Juna bahagia karena Mamanya bukan hanya mengingat ulangtahunya, tapi juga memberinya kado ulangtahun.
Di dalam kamar, bukannya istirahat, Juna hanya membolak-balikkan tubuhnya di kasur. Gelisah. Hatinya tidak tenang.
“Bagaimana kondisi mereka sekarang?? Apa sudah sampai rumah sakit? Tadi ambulance sudah bawa mereka .. harusnya mereka sudah di rumah sakit sekarang .. Ya Allah, semoga mereka selamat, apa besok gue harus ke rumah sakit? Buat tahu kondisi mereka .. dan meyakinkan kalau memang tidak terjadi apa-apa. Ya. Besok gue harus cari tahu keadaan mereka.”
Tiba-tiba telepon Juna berdering, Al menelpon.
“Hai Bro, belum tidur lo?” tanya Al seberang sana.
“Hai Al, belum. Masih belum ngantuk gue, sorry tadi gue gak jadi ke DGaz.”
“Gak apa, tapi lo pasti nyesel, Bro! Gilaaa!! Ibanez gue keren abis! Gak sia-sia gue beli, besok kita maen di studio gimana?”
“Mmm, besok ya? Kayaknya gue gak bisa Al. sorry, Bro.”
“Wesss, tumben lo nolak maen di studio Jun.Aya naon???” Al heran karena Juna tak biasanya menolak.
“Gue ada janji besok. Sorry. Gue, gue harus ke rumah sakit,” ujar Juna. Ragu apakah harus memberitahu Al, sahabatnya ini.
“Rumah sakit?? Lo sakit Jun?"
“Bukan, bukan gue. Orang lain. Iya, gue harus jenguk orang lain.”
“Orang lain? Siapa? Gue kenal gak?”
“Gak, lo gak kenal. Mereka, mereka .. gue ..” Juna gugup, satu sisi ia ingin menyimpan rapat-rapat kejadian tadi. Tapi ada naluri yang mengatakan dia harus bercerita ke Al untuk mengurangi bebannya. Dan siapa tahu Al punya solusi.
“Mereka siapa? Siapa lo? Kok lo jadi gugup gini sih Jun?” Al curiga, “Is there something happen??”
“Mereka,gue .. gue barusan kecelakaan Al, dan mereka, mereka korbannya .. gue harus liat mereka besok.”
“Whatttt?!?” Al kaget, “Gue gak salah denger barusan?? Lo, lo habis nabrak orang, Bro?? serius lo?!?!”
“Ssstt, sial! Lo gak perlu pake teriak-teriak gitu dong Al. Gue udah berat cerita sama lo, jangan sampai gue jadi tambah masalah. Gue harap lo bisa kasih solusi, Al. gue mesti gimana??”Juna kembali panik.
“Lo pikir gue konsultan?! Solusi apaan Jun? Yang kayak ginian, solusinya cuma 2 : lo kabur jauh-jauh atau lo masuk penjara, Bro! Gila lo ya?! Kaget gue dengernya .. jangan bilang, lo, lo ninggalin  mereka? Jangan bilang Jun, please jangan bilang,” Al khawatir Juna akan bertambah rumit masalahnya jika dia menjadi pelaku tabrak lari, dan memang Juna sudah melakukan hal itu.
“Gue, gue .. panik. Jadi, gue, gue tinggalin mereka.”
“What?!? Ahh,  parah lo Jun. Parah! Masalahnya bisa rumit kalau tabrak lari, Bro.”
“Iya, gue tahu, tapi, gue tadi udah ngecek dan yang cewek masih hidup Al. Tapi, tapi gue gak sempet ngecek yang cowoknya. Soalnya..tiba-tiba cewek itu bergerak, dia, dia … dia masih hidup. Tapi gue langsung telpon ambulance begitu pergi, dan gue yakin mereka sudah dibawa ambulance .. jadi, gue .. gue pergi, Al.”
“Jadi maksud lo, korbannya ada 2 orang? Gila lo Jun, terus pas lo tau dia masih hidup, lo malah ninggalin mereka di jalan gitu aja??” tanya Al dengan nada tidak percaya.
“Ya, habis, habis.. gue, gue takut,Al. Coba lo di posisi gue! I told you not for judgement, Bro. I need support here,” kata Juna, perasaannya masih campur aduk. Ditambah kemungkinan sahabatnya, Al, juga turut menyalahkannya karena Juna lari dari tanggungjawabnya.
“Ok, ok, sorry Jun. Gue gak mau hakimin lo juga. Yang penting sekarang, lo harus bertanggungjawab,Bro. Mungkin memang gak ada yang tahu pelakunya elo, tapi gue yakin, seumur hidup lo, lo bakal dihantui perasaan bersalah .. and that’s very torture, Bro. Gue gak mau lo nyesel di kemudian hari,” Al menasihati Juna.
“So, what I’m supposed to do, Al? Gue, gue juga gak mau, gue gak ngebayangin bakal jadi kayak gini. Gue bingung Al.”
“Ok, pertama lo harus tahu dulu kabar korban-korban itu. Lo bilang kan lo panggil ambulance, jadi mereka pasti di bawa  ke rumah sakit. Lo telpon rumah sakit itu, cari info tentang mereka.”
“Iya. Gue juga rencananya mau datang langsung ke sana. Gue juga gak mau seumur hidup harus dikejar-kejar perasaan bersalah kayak gini.”
“Perlu gue temenin, Jun?? Lo harus sebisa mungkin cari info tentang mereka, jangan sampai mereka tahu dulu lo pelakunya. Setelah lo tahu kabar mereka, baru kita pikirin selanjutnya.”
“Gak usah, Al, gue bisa sendiri. Iya, besok gue akan langsung kabarin lo. Thanks, Bro. And please keep this secret between us, okay?”
“Sure, tenang Jun. Yang penting kita cari solusi supaya lo bisa lepas dari masalah tanpa ninggalin tanggungjawab lo. Dan lo juga jangan bertindak bodoh. Oke, kabarin gue besok, gue tunggu.”
“Oke, thanks again, Bro.”
Sedikitnya Juna agak tenang. Benar yang dibilang Al. Juna tidak mau selamanya perasaan bersalah dan menyesal terus mengikutinya seumur hidup. Juna harus mengetahui kondisi korban-korbannya, kalau perlu Juna akan menanggung semua biaya ganti ruginya. Dan besok Juna akan segera mengetahuinya. Tapi meski begitu, malam itu adalah malam terpanjang dalam hidup Juna. Dia tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Karena setiap ia berusaha tidur, dia selalu membayangkan kembali peristiwa kecelakaan itu. Dan, ada yang paling Juna ingat, wajah perempuan itu, perempuan yang dia tahu bahwa ia masih hidup. Wajahnya cantik. Kulitnya putih, dan rambutnya panjang hitam.
“Dia masih hidup, gue yakin itu. Tapi gue gak tahu kondisi cowoknya. Gue harap dia juga masih hidup. Dia manggil namanya tadi, Bayu. Iya. Namanya pasti Bayu. Setidaknya besok gue bisa cari nama itu di rumah sakit.”
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Juna berusaha terus untuk tidur. Beberapa kali dia gagal, karena terus teringat. Tapi akhirnya menjelang pagi, Juna tertidur.

                                                                                         
Yang Ghaida tahu dan ingat, hanyalah sorotan lampu dari arah depan. Sesaat setelah itu, yang Ghaida rasakan adalah terhempas! Dan Bayu pun terhempas keras ke tepi trotoar. Rasa sakit dan pusing yang luar biasa menyerang Ghaida. Matanya terasa berat untuk terbuka. Tapi yang Ghaida inginkan saat ini adalah mengetahui kabar Bayu. Perasaan Ghaida tidak menentu. Khawatir. Cemas. Takut. Pikirannya bergumul. Tapi raganya sangat lemah dan tidak bisa mengikuti apa kata otaknya. Sudah hampir 10 jam Ghaida di rumah sakit. Dan ia pun mulai tersadar.
Begitu matanya terbuka, Ghaida melihat langit-langit putih. Kepalanya masih terasa sakit. Perlahan Ghaida melihat ke sisi tempat tidurnya. Dan melihat Ibunya. Sedang menunduk, dan menangis.
“Ibu,” panggil Ghaida lirih. Ibu Ghaida langsung tersontak mendengar suara anaknya.
“Ya Allah, kamu sadar Da. Kamu sudah sadar? Alhamdulillah Ya Allah,” Ibu memeluk Ghaida. Menangis. Ghaida ikut menangis.
“Mas Bayu mana Bu? Kabar dia gimana? Dia gak apa-apa kan Bu?” tanya Ghaida setelah melepas pelukan dari Ibunya.
Ibu Ghaida terdiam, dia hanya menangis. Ghaida langsung berpikiran buruk, “Kok Ibu nangis?? Mas Bayu gimana bu?”
Ibu masih tidak bisa bicara.
“Gak mungkin, gak mungkin!! Ibu, tolong bilang Ghaida Mas Bayu selamat, dan gak ada apa-apa sama dia. Tolong Bu, bilang ke Ghaida…” Ghaida menangis, dan tidak bisa menahan emosinya.
Ibu tidak bisa berkata apa-apa, “Ghaida, Ibu .. Ibu .. Ya Allah ..”
“Tolong Bu, jangan bikin Ghaida khawatir. Mas Bayu gak apa-apa kan Bu? Ibuuu, jawab Ghaida Bu… Ghaida mau ketemu Mas Bayu, Bu. Ghaida mau ketemu Mas Bayu!!” Ghaida tidak bisa mengontrol emosinya, bayangan kehilangan Bayu membuatnya tidak tenang. Ghaida berusaha turun dari tempat tidurnya, dan ingin melepas selang infuse dari tangannya. Padahal tubuhnya masih lemah dan trauma. Ibu berusaha menahan Ghaida.
“Ghaida, kamu gak boleh turun nak. Kamu harus istirahat dulu,” tahan Ibu.
“Gak mau!! Ghaida mau ke kamar Mas Bayu, Bu. Ghaida mau lihat Mas Bayu .. Mas Bayuuuuu! Mas Bayu, Ghaida mau ketemu Mas Bayu … Ibuu, Ghaida mau ke Mas Bayu, pleaseee .. Mas Bayuuuuu!!!” Ghaida makin memberontak, menangis dan menjerit memanggil nama Bayu. Ibu memanggil-manggil dokter dan suster, mereka berdatangan dan berusaha menahan Ghaida. Dan tiba-tiba, Ghaida lemas, dan pingsan.
“Dok, ini kenapa? Anak saya kenapa?” Ibu khawatir.
“Gak apa-apa, Bu. Ghaida pingsan, mungkin karena serangan panic. Tubuhnya masih lemah. Akan saya tambah dosis penenang di infusnya. Biarkan Ghaida istirahat dulu ya Bu. Fisiknya masih lemah. Dan sebisa mungkin jaga perasaannya, jangan sampai ia mendengar kabar yang terlalu mengejutkan,” kata dokter.
“Baik, Dok. Maaf saya tidak tahu. Tapi .. tapi bagaimana dengan nasib anak saya nanti saat ia sadar lagi, dan tahu kalau .. kalau ..” Ibu tidak sanggup mengucapkannya.
“Kita pikirkan nanti, Bu. Yang penting kesehatan anak Ibu pulih dulu. Kalau dia stress atau terganggu emosinya, saya khawatir akan mengganggu proses kesembuhannya. Ghaida masih harus menjalankan terapi juga untuk kakinya nanti.”
“Iya Dok, saya akan menjaga dia. Lakukan apa yang perlu Dokter lakukan agar Ghaida bisa kembali pulih. Uang tidak akan jadi masalah. Tolong Dok,” ujar Ibu.
“Baik Bu, akan kami lakukan sebaik-baiknya. Kalau begitu saya permisi dulu. Oya, untuk suaminya anak Ibu, masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tadi suami ibu sedang mengurusnya.”
“Iya Dok, terimakasih.”
Dokter pergi meninggalkan kamar Ghaida. Ibu Ghaida kembali terduduk dan menatap wajah putrinya yang sedang tertidur. Ibu tidak tahan melihat Ghaida berbaring karena kecelakaan, dan harus menerima kenyataan saat ia sadar nanti. Kenyataan bahwa Bayu, suami tercintanya, sudah tiada. Meninggal karena kecelakaan itu. Ibu menangis lagi, mengelus-elus rambut Ghaida lembut.
“Ya Allah, kenapa bisa terjadi padamu Da .. kenapa kamu harus mengalami ini? Padahal kalian baru menikah setahun, dan Bayu baru saja pulang dari berlayar … kalian pasti sedang berbahagia saat kecelakaan itu karena kalian sedang merayakan ulangtahun Bayu .. Ya Allah, apa yang harus saya lakukan?? Bagaimana saya memberitahu Ghaida kalau Bayu .. kalau Bayu sudah tidak ada .. “ Ibu meratapi nasib anaknya, menangis dan merasa pedih akan apa yang dialami Ghaida. Ghaida pasti tidka akan kuat menerima kenyataan Bayu telah meninggal.
Ibu Ghaida tidak tahu akan jadi bagaimana saat Ghaida saat mengetahui Bayu meninggal. Reaksinya saat sadar tadi dan panik mencari Bayu tadi saja sudah tidak seperti biasanya. Ghaida memberontak dan hampir melepaskan selang infuse dari tangannya untuk turun dari tempat tidur dan mencari Bayu. 
Tiba-tiba Ayah Ghaida masuk ke dalam kamar, dan memanggil Ibu. Ayah Ghaida baru saja mengurus jenazah Bayu di rumah sakit. Rencananya Bayu akan dikuburkan sore nanti. Keluarga Bayu sudah dikabari, dan mereka akan datang ke pemakaman Bayu. Bayu sudah tidak memiliki keluarga dekat, orangtuanya sudah tiada dan hanya ada keluarga paman dan bibinya, itu pun keluarga jauh.
Ya. Bayu memang hadir dalam kehidupan Ghaida dengan kesederhanaan juga dan kesendirian. Itu yang membuat Ghaida jatuh hati pada Bayu. Bayu dewasa, mandiri, dan pekerja keras. Orangnya ramah pada siapa saja, tidak sungkan membantu orang lain. Menjadi istri Bayu, Ghaida selalu dihujani dengan pujian dan ucapan sayang. Meski jarang bertemu karena resiko pekerjaan Bayu di bidang perkapalan, tapi waktu yang Bayu berikan saat bersama Ghaida sudah jauh lebih cukup bagi Ghaida. Hanya 1 hal yang masih mereka nanti, seorang anak. Anak yang belum diamanahkan Tuhan kepada mereka. Ghaida begitu mendamba seorang anak, begitu juga Bayu. Tapi sekarang mungkin akan sulit bagi Ghaida untuk mewujudkan keinginannya itu. Karena Bayu sudah tiada.
“Ibu, sudah makan belum? Sudah siang. Ayo makan dulu. Ghaida kan masih tertidur. Biar nanti suster yang jaga dulu,” ajak Ayah Ghaida ke istrinya.
“Ibu gak lapar, Yah. Ibu mau nunggu Ghaida saja.”
“Jangan sampai Ibu ikutan sakit. Ayo kita makan dulu meski sedikit. Ghaida butuh kita untuk menopang dia nanti, Bu” Ayah sadar bahwa Ghaida akan goyah saat menerima kenyataannya nanti, “Ayah pun maunya nemenin Ghaida di sini, tapi kita juga masih harus mengurus Bayu. Sore nanti keluarganya akan datang. Ayah yang akan menemui mereka. Ibu di sini saja menjaga Ghaida. Jadi kita harus sehat dan kuat, untuk menjaga anak kita, Bu.”
Ibu mengangguk sedih, lalu mengecup kening Ghaida sebelum beranjak. Ayah meminta suster untuk menunggui Ghaida karena mereka akan makan siang dulu. Tinggallah Ghaida sendiri di dalam kamar. Masih tertidur, tak sadarkan diri. Menanti untuk menerima kenyataan pahit akan hidupnya yang sudah tertulis dalam suratan takdir.


Juna sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit. Juna terdiam sebentar di dalam mobil. Mengatur nafasnya karena gugup dan mempersiapkan diri akan kabar yang ia terima. Juna masih tidak tahu sampai sekarang,apa yang akan dia lakukan selanjutnya jika ternyata korban yang ia tabrak sudah meninggal. Juna keluar dari mobilnya lalu berjalan ke dalam rumah sakit. Mendekati meja informasi.
“Permisi Mbak, boleh tanya sesuatu?” tanya Juna di meja informasi.
“Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bertanya, semalam apa di rumah sakit ini menerima korban kecelakaan?”
“Korban kecelakaan? Sebentar saya cek dulu,” resepsionis mencari sesuatu dari komputernya, “Oh, iya ada Pak. Ada pasangan suami-istri. Kecelakan lalu lintas. Korban tabrak lari sepertinya. Korbannya bernama Bapak Bayu Hafisna dan Ibu Ghaida Saraswati. Anda dari pihak keluarga atau?” tanya resepsionisnya.
Juna tertegun sejenak. Ternyata benar namanya Bayu. Dan wanita itu bernama Ghaida.
“Saya, iya, saya teman mereka. Boleh saya tahu kabar mereka Mbak? Karena saya baru dikabari tadi pagi,” Juna berbohong.
“Kalau Ibu Ghaida saat ini sedang di kamar perawatan, Pak. Di paviliun Anyelir, kamar 101.”
Hati Juna serasa lega, begitu tahu kalau wanita itu masih hidup dan sudah dapat perawatan di rumahsakit, “Kalau, kalau dengan Pak Bayu bagaimana Mbak?” tanya Juna. Harapan Juna masih tinggi. Kalau wanita itu masih hidup, besar kemungkinan laki-laki yang satu lagi selamat juga.
“Ngg, Pak Bayu, maaf Pak, saya harus sampaikan ini, tapi di data kami, Pak Bayu semalam kritis di ICU dan tidak terselamatkan. Beliau sudah meninggal.”
Boom!! Serasa jatuh dari langit ke tujuh. Harapan hati Juna yang tadi sudah tinggi, serta merta jatuh ke dasar yang paling dalam. Ketakutan yang ia takutkan terjadi. Korbannya meninggal.
“Bayu, dia meninggal??”
“Iya Pak. Maaf. Kami turut berduka, jika Bapak ingin melihat jenazahnya masih ada di kamar jenazah. Tadi pihak keluarga Ibu Ghaida sudah mengurus dan mungkin sebentar lagi akan di bawa pulang. Karena akan disemayamkan sore nanti,” kata resepsionis itu.
“Baik Mbak. Terimakasih atas informasinya. Saya permisi dulu,” pamit Juna.
Juna berjalan dengan pikiran kosong. Dia duduk di kursi lobi. Mencoba mencerna yang baru saja dia dengar. Perasaan bersalah semakin menderanya. Laki-laki yang ia tabrak harus meninggal karena kesalahan yang dia lakukan. Juna mulai kalut lagi, apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus mengakui kesalahannya?. Lalu dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya?. Atau Juna tetap diam saja, biar Tuhan yang mengatur selanjutnya? Tapi selamanya Juna akan dihantui rasa bersalah karena sudah menghilangkan nyawa seseorang.
“Apa yang mesti gue lakuin sekarang? Gue gak bisa diam begitu aja, gue harus bertanggungjawab … gue gak mau nanggung perasaan bersalah seterusnya,” Juna bertanya pada dirinya sendiri, lalu teringat bahwa wanita korban yang satu lagi masih ada di kamar perawatan. Juna harus lihat kondisinya. Karena Juna merasa harus mengucapkan maaf pada wanita itu, pada Ghaida. Karena ia sudah merenggut laki-lakinya.
Juna beranjak, mencari arah ke paviliun Anyelir. Menyusuri lorong rumah sakit hingga ia sampai di depan kamar bertuliskan 101 di pintunya. Ghaida ada di dalam. Ragu-ragu. Haruskah ia masuk ke dalam dan menemui wanita itu. Atau Juna masih ada pilihan untuk kembali dan menjauh dari masalah ini. Sekali lagi, nuraninya berpihak. Juna mengetuk pintu kamar itu perlahan. Sekali. Tidak ada jawaban. Dua kali. Tetap tidak ada jawaban. Baru ketiga kalinya, pintu terbuka. Seorang perawat keluar dari sana.
“Ya, Bapak ingin menjenguk Bu Ghaida?” tanya perawat itu.
“Iya, suster. Boleh?” ragu, tapi Juna memberanikan diri.
“Boleh, kebetulan saya juga harus ke meja suster untuk ngasih laporan. Bapak bisa jaga Bu Ghaida sementara?” pinta suster itu tiba-tiba.
“Oh, iya. Tapi, di dalam tidak ada keluarganya?”
“Orangtuanya sedang makan dulu katanya. Baru saja mereka keluar. Tapi Bu Ghaida sedang beristirahat. Sedang tidur.”
“Oh, baiklah kalau begitu Sus. Saya mau melihat kondisinya.”
“Silahkan Pak. Saya pergi sebentar, 10 menit saja saya kembali lagi.”
Perawat pun pergi meninggalkan Juna. Juna masuk ke dalam kamar rawat itu. Tampaknya orangtua Ghaida cukup berada. Karena Ghaida di tempatkan di kamar perawatan VVIP. Kamarnya bersih dan besar. Juna melihat Ghaida. Sedang terbaring, tertidur di atas tempat tidur. Juna bisa melihat perban membalut kaki kirinya dan siku tangannya. Perlahan Juna menghampiri Ghaida. Duduk di samping tempat tidurnya. Melihat kondisi Ghaida, membuat Juna semakin tertekan, bersalah, dan berdosa.
Juna tidak bisa menahan airmata di matanya. Juna menyesal. Sangat menyesal. Bagaimana Juna harus membalas kesalahannya ke keluarga ini? Karena ia sudah menghilangkan nyawa suami Ghaida, Bayu. Tanpa Juna sadari, saat dirinya sedang menyesali apa yang dia lakukan, Ghaida kembali membuka matanya. Perlahan, karena ia masih berada dalam pengaruh obat penenang. Ghaida tahu ada orang di sebelahnya, karena Ghaida bisa mendengar suara isakan tangis. Pelan, tapi lirih.
Ghaida menoleh ke sebelah kiri, dan melihat Juna di sana. Ghaida menajamkan matanya, dan melihat Juna baik-baik. Harusnya Ghaida tidak mengenal Juna, dan harusnya Ghaida bertanya siapa dirinya dan ada apa di kamarnya. Tapi Ghaida mengenalnya, atau ‘tampak’ mengenalnya. Ghaida merasa yakin, ia mengenalnya. 
“Mas, Mas Bayu…,” Panggil Ghaida. Juna yang tadi sedang menangis, sontak kaget mendengar ada suara wanita. Dan dia lebih kaget lagi saat  melihat Ghaida terbangun, dan tersenyum melihatnya. Juna menghapus airmatanya.

                                                   (To Be Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar