23 Jun 2014

Lie To Me, Please [1]


Start : Rabu, 12-12-12

Part 1 : TAKDIR KITA

Malam itu langit begitu cerah, bahkan bintang yang biasanya malu-malu, kali ini tampak angkuh memancarkan cahaya kerlap-kerlipnya. Dan bagi Ghaida, keindahan malam itu semakin lengkap dengan kehadiran Bayu, suami yang baru dinikahinya setahun lalu. Hari ini bertepatan juga dengan ulang tahun Bayu yang ke-30. Setelah tidak bertemu selama hampir 6 bulan dengan Bayu, karena Bayu dinas berlayar dengan kapalnya, mereka menghabiskan malam itu dengan makan di luar dan berjalan-jalan di taman kota.
Tidak lupa Ghaida memberikan kado ulangtahun ke Bayu. Sweater rajutan buatan Ghaida sendiri. Bayu senang dan bahagia dengan pemberian Ghaida.
“Makasih ya Sayang. Ini kado paling bagus yang aku terima. Kamu gak kerepotan buatnya?” tanya Bayu saat mereka duduk berdua di taman kota setelah makan malam.
“Gak kok Mas. Aku kan memang niat buat kasih Mas kado ini. Udah lama aku pengen kasih sweater ke Mas. Aku tahu kalau di atas kapal kan anginnya kencang, jadi aku bikinin Mas sweater biar bisa Mas pakai. Mas suka kan?”
“Suka lah, sayang. Mas coba sekarang ya?” tanya Bayu. Ghaida mengangguk, dan Bayu dengan semangat mencoba sweater tersebut, “Pas  nih, waaa kamu hebat sayang. Sekali lagi makasih ya,” Bayu menggenggam tangan Ghaida.
“Sama-sama Mas. Selama Mas pakai sweater pas  berlayar nanti, inget aku terus ya Mas.”
“Tanpa sweater ini pun, kamu selalu Mas inget, Ghaida sayang. Kamu sudah terpatri dihati, di mata, di hembusan nafas, di pikiran Mas. Kamu itu aku, aku itu kamu. Kita kan satu. Jadi tanpa apa pun, kita pasti akan saling mengingat,” Bayu mendekatkan dirinya ke istrinya. Memeluk Ghaida dengan rasa bahagia.
“Iya Mas. Aku juga akan selalu ingat Mas. Meski Mas pergi jauh. Berlayar. Aku juga maunya Mas ada di sini terus. Tapi kalau begitu, aku kan gak akan tahu rasanya rindu dan kangen sama Mas Bayu,” kata Ghaida yang masih berada dalam pelukan Bayu.
“Mmm, Ghaida .. Mas boleh cium Ghaida gak?” pinta Bayu tiba-tiba.
“Hah? Aduh,  boleh sih Mas, tapi ini kan kita lagi di taman. Aku malu ah.”
“Yaa kan kita sudah suami istri, masa suami cium istri gak boleh, apalagi ini hari ulangtahun Mas lho, masa kamu tega nolak maunya Mas,” goda Bayu.
“Bukan gak boleh, Mas. Tapi tempatnya terbuka, malu aku.”
“Gak apa-apa. Kan kita gak berbuat macam-macam. Boleh dong suami nunjukin rasa sayangnya ke istri sendiri. Iya kan?” Bayu tahu Ghaida pasti malu, tapi Bayu suka ketika Ghaida tersipu, wajahnya yang putih terlihat semburat malu. Makin membuat Bayu sadar kalau Ghaida itu cantik dengan kesederhanaannya. Dan Bayu bersyukur bisa menikahi Ghaida.
“Mmm, gimana ya? Nanti aja gimana Mas? Nanti aja di ru…,” belum selesai Ghaida bicara, Bayu sudah mencium bibir Ghaida. Ghaida terkejut, tapi dia tahu, ketika bibir Bayu menyentuh bibirnya Ghaida tidak akan menolaknya.
Seketika Ghaida merasa hangat di sekujur tubuhnya, bibir Bayu begitu hangat dan meluluhkan. Bayu mendekatkan Ghaida, tangannya memegang wajah istrinya itu. Dan masih mencium bibir Ghaida dengan lembut. Bibir Ghaida pun terbuka menerima ciuman Bayu. Hingga akhirnya Bayu melepaskan bibirnya, mata Ghaida masih terpejam karena sensasi ciuman Bayu. Bayu bisa melihat wajah Ghaida yang masih memejamkan matanya, terlihat begitu cantik.
“Makasih ya Ghaida sayang,” Bayu mengecup kening Ghaida, Ghaida tersenyum dan terharu. Matanya sedikit kabur dengan airmata.
“You are the best gift for me. Tanpa kamu, Mas mungkin gak bisa bertahan. Meski Mas jauh, tapi setiap mengingat kamu, Mas merasa bahwa apa yang Mas lakukan akan membawa kebahagiaan buat kamu. Dan Mas minta maaf karena tidak bisa selalu ada di samping kamu. Temenin kamu setiap malam. Kamu sudah sabar dengan keadaan kita. Jadi Mas mau saat-saat kita bersama seperti ini, akan kamu ingat selalu sebagai kenangan indah kita. Dan Mas akan selalu buat Ghaida tersenyum, bahagia, dan bersyukur sudah memilih Mas jadi suami Ghaida.. Mas sayang Ghaida, cinta sama Ghaida…” Bayu memeluk kembali Ghaida.
Ghaida tidak bisa menahan airmata yang sudah mulai menuruni pipinya, Ghaida bisa merasakan apa yang dirasakan Bayu.
“Ghaida juga sayang, cinta sama Mas Bayu. Ghaida bersyukur bisa jadi istri Mas Bayu dan aku akan selalu menanti Mas Bayu pulang berlayar setiap Mas pergi. Jadi Mas jangan khawatir ya, Ghaida pasti akan tersenyum setiap Mas pulang. Dan saat kebersamaan kita hanya akan diisi canda, tawa, bahagia.”
Baik Bayu maupun Ghaida semakin menyadari perjalanan pernikahan setahun ini sangat berarti bagi mereka. Semakin sadar bahwa mereka saling mengasihi dan mencintai.
Sudah jam 11 malam, mereka lalu pulang menuju rumah mereka. Karena sudah malam, jalanan pun sudah tidak terlalu ramai. Dengan menggunakan motor, Bayu membonceng Ghaida. Keduanya merasa bahagia akan apa yang mereka lakukan hari ini. Tanpa mereka sadari ada takdir yang menanti mereka. Takdir yang akan mengubah kehidupan Bayu dan Ghaida selamanya.                                                                            

Takdir yang menanti Ghaida dan Bayu sedang mengarah ke seorang pemuda lain. Di tempat lain. Di saat yang sama. Juna sedang menikmati malam itu bersama beberapa teman dekatnya, karena hari ini Juna berulangtahun yang ke 30. Di dalam café mewah yang ekslusif dan mahal. Hingar-bingar suara musik terdengar jelas dari luar cafe ekslusif di bilangan Kemang itu.
Malam itu ulangtahun Juna, dan dia sengaja mengundang beberapa teman dekatnya ke klub untuk merayakan ulangtahunnya. Seperti biasa, dimana ada Juna, disitu ada perempuan cantik dan alcohol. Juna sudah minum beberapa gelas anggur. Tapi Melisa, gadis cantik bak model di sebelahnya masih terus meminta Juna buat minum. Kalau tidak diingatkan sahabatnya, Al, Melisa masih akan mengajak Juna minum.
 “Mel, dia bawa boil.. lo mau bikin dia mabok apa? Udah Jun, nanti lo gak bisa pulang lagi..”
“Gak apa-apa dong, Al. kalau Juna gak bisa pulang, kan bisa ikut gue ke apartemen gue. Gampang kan?” Melisa yang juga sudah mabuk melantur.
“Waa, cari kesempatan lo ya Mel. Kayak Juna mau sama lo aja, haaahaha,” ledek Al.
Juna yang mendengarkan, jadi ikut tertawa pelan, “Gak apa lah, bro. Gue juga gak rugi kok kalau nginep di apartemennya si Melisa. Sekali-kali, biar dia seneng, haahahaaa.”
“Dasar lo, bro, ‘maen’ mulu otak lo .. eh, kita masih harus lanjut ke DGaz nih .. gue ada janji mau ambil gitar elekrik gue. Lo mau ikut gak Jun?”
“Baru lagi gitar lo?”
“Yoi man, baru lagi lah .. baru dapet jatah dari bokap gue. Keren banget man, Ibanez RG .. lo mesti liat, mau ikut gak?”
Beib, kamu di sini aja .. kita kan masih pengen party sama kamu. Masih jam 11 gini.. ya Junaaa .. di sini aja yaa ..” pinta Melisa yang mengeratkan tangannya ke lengan Juna. Juna menepis pelan tangan Melisa.
“Sorry Mel, Ibanez lebih menarik buat gue .. haahaha, yuk bro,” Juna beranjak pergi sama Al.  Meninggalkan Melisa dan teman-temannya. Melisa cemberut mendengar perkataan Juna.
“Jun, terus ini minuman siapa yang bayar nih?” tanya Dion, temannya yang lain.
“Tenang, Bro. Kalian bisa minum sepuasnya, gue yang bayar kok. Sorry gue mesti cabut dulu ya.. thanks udah dateng ..”
“Siiiippp, tenkyu Jun .. happy birthday buat lo, cheers Bro,” Dion mengangkat gelas wine-nya ke arah Juna. Juna lalu pergi keluar dengan Al.
Karena khawatir Juna sedikit mabuk, Al menawarkan diri pergi dengan mobilnya. Biar mobil Juna ditinggal dulu di sini.
“Santai Bro, gue fine kok. Gue naik mobil sendiri aja. Kebetulan mesti isi bensin dulu. Ketemu langsung di Dgaz aja.”
“Ya udah, hati-hati lo ya. Gue duluan, Ibanez gue nunggu, Bro.”
Al berjalan menuju mobilnya, begitu juga Juna. Mungkin teman-temannya melihat Juna senang malam itu seperti biasanya. Tapi sebenarnya di dalam dirinya, ada yang membuatnya tidak sesenang biasanya. Hari ini ulangtahunnya, tapi kedua orangtuanya tidak sedikit pun ingat akan ulangtahunnya. Meskipun ini bukan yang pertamakali orangtuanya lupa. Tahun lalu juga tidak ada yang ingat. Baru besoknya, Mamanya ingat.
Juna melajukan mobil Audi putihnya di jalanan Jakarta. Sudah jam 11 malam, dan jalanan sudah tidak seramai biasanya. Setelah mengisi bensin, Juna segera menuju ke DGaz sesuai janjinya dengan Al. Tinggal beberapa saat lagi Juna akan sampai di DGaz, tapi handphonenya berbunyi. Juna melirik ke handphone di sebelahnya. Nomor handphone Mamanya. Dengan malas, Juna mengangkatnya.
“Hallo, Juna,” sapa Mamanya.
“Ya Ma, ada apa telpon?”
“Maaf ya Jun, Mama lupa lagi .. kamu ulangtahun kan sekarang? Selamat ulangtahun ya Sayang,” ternyata Mamanya masih ingat, meski terlambat.
“Iya Ma. Gak apa-apa. Thanks.”
“Kamu dimana, Jun. Pulang ya sekarang. Meski terlambat dan sejam lagi udah ganti tanggal, tapi Mama mau ngerayain sama kamu. Kamu pulang ya sekarang.”
“Sekarang Ma? Aku lagi di jalan mau ke ketemu Al. udah janji sih Ma.”
“Iya sekarang. Mama udah nungguin kamu di rumah sekarang. Bisa kan Jun? Mama kan mau ngerayain ulangtahun kamu juga. Masa kamu sama teman-teman kamu aja.”
“Oke lah. Aku pulang bentar lagi. Aku kasihtau Al  dulu.”
“Makasih Sayang. Cepet ya. Mama tunggu di rumah.”
Juna memutuskan telepon dari Mamanya dan menghubungi Al. Juna memberitahu kalau dia tidak jadi bertemu Al dan harus segera pulang karena Mamanya mau merayakan ulangtahun Juna. Juna memutar balik mobilnya, menuju ke arah rumahnya. Dalam hatinya, Juna senang, bahwa Mamanya sudah ingat dan mau merayakan ulangtahunnya. Juna melirik jam tangannya dan melihat jam, pukul 23.30, berarti 30 menit lagi sudah berubah hari. Juna menekan pedal gasnya dan melajukan mobilnya di jalanan lebih cepat karena merasa jalanan juga sudah cukup sepi malam itu.
Tanpa Juna sadari, takdir yang siap hadir untuk Ghaida dan Bayu, juga sedang menghampirinya.  Juna melesat di jalanan, tanpa tahu bahwa di tikungan depannya ada sebuah motor yang datang dari arah berlawanan. Dan sudah jalan takdir, ketika Juna membelokkan mobilnya ke tikungan, Juna kurang tepat mengambil arah, sehingga menghantam, keras, motor yang lewat dari arah berlawanan tersebut. Musibah yang terjadi tidak terhindari lagi. Hanya suara hantaman dan teriakan di sana.
Bisa terdengar oleh Juna bahwa motor itu terhempas ke sisi jalan, dan suara jeritan pengendaranya menyadarkan Juna bahwa ia telah melakukan hal yang fatal. Juna menghentikan mobilnya beberapa meter dari lokasi tabrakan. Melihat dari kaca spion mobilnya, dan melihat di belakang, motor itu sudah terbalik di sisi jalan, dan ada 2 orang yang tergeletak di jalan.
“Ya Tuhan, gue ngelakuin apa barusan?? Gak mungkin, mereka bisa aja mati .. gue mesti gimana??” Juna panik. Ragu-ragu. Apa yang harus dia lakukan. Dia melihat ke sekeliling, jalanan itu sepi. Tidak ada orang lain di sana. Juna bisa saja kabur. Sehingga tidak akan ada masalah nantinya. Juna masih melihat ke spion, dan melihat bahwa 2 orang yang tergeletak itu tidak bergerak.
“Gue mesti gimana ini? Gue harus pergi, biar gak jadi masalah,” Juna hendak menstarter kembali mobilnya. Tapi hati nuraninya masih berpihak.
“Sial!! Lo gak boleh kayak gitu, Jun. Lo gak bisa kabur gitu aja?! Lo harus tanggungjawab, paling gak lo liat kondisi mereka .. Siapa tahu gak separah bayangan lo. Oke, gue harus turun lihat mereka,” Juna berbicara sendiri, panic, dan memutuskan untuk turun dari mobil dan melihat kondisi karena tabrakan itu.
Juna perlahan berjalan ke arah belakang, ke sisi jalan. Sambil berhati-hati melihat kanan kiri, khawatir ada yang lihat. Juna melihat seorang laki-laki dengan posisi telungkup di tepi trotoar, dan seorang wanita di atas rumput tepi trotoar.
“Ya Tuhan, gue harap mereka gak seperti bayangan gue…” desis Juna melihat korbannya.
Juna masih ragu-ragu, tapi ia terus mendekat. Juna bisa melihat wajah wanita itu. Wanita itu terdiam tak bergerak. Rambut panjangnya yang hitam tergerai di sisi wajahnya.  Juna bernafas dengan cepat, keringat dingin sudah mulai menetes. Gugup. Juna meletakkan dua jarinya di sisi leher wanita itu, berusaha mencari yang bisa sedikit menenangkan dia. Denyut nadi.
Dapat. Denyut itu masih berdetak. Cepat-cepat Juna melepas jarinya. Karena tiba-tiba wanita itu bergerak.
“Aarhhh .. Sakit .. Mas Bayu… Aaarrhh, Mas Bayu,” wanita itu mengerang, tampak kesakitan.
Juna spontan menjauh, dan berubah pikiran. Juna berlari kembali ke mobil tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan 2 korbannya. Juna masuk ke mobil, lalu menyalakan mobilnya dan melesat kembali ke jalanan. Baru beberapa meter, Juna mengerem. Dia terdiam. Di sisi jalan. Berusaha mengatur nafasnya yang cepat.
“Kenapa gue lari?? Tapi setidaknya gue tahu dia masih hidup. Mereka gak mati, tapi, gue baru liat yang cewek. Gimana kondisi yang cowok?? Ya Tuhan, gimana kalau ada apa-apa?? Gue harus panggil ambulans. Setidaknya gue harus nolong mereka. Iya, gue harus telpon ambulance,” Juna masih berpikir rasional, dia menghubungi nomor ambulance rumah sakit.
Setelah menelpon, Juna kembali menjalankan mobilnya. Masih shock atas apa yang terjadi. Entah apa yang dia lakukan ini benar atau tidak. Namun Juna tidak bisa pungkiri, ada perasaan menyesal dan bersalah di hatinya. Bagaimana jika ada apa-apa dengan kedua orang tadi? Bagaimana jika mereka sampai ada yang meninggal? Bukankah Juna akan menjadi setara dengan seorang ‘pembunuh’??


                              (To Be Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar